Man Usnida 'Anhu minash-Shahabah: Sahabat yang Wafat Semasa Nabi Masih Hidup namun Punya Riwayat

Nau' 92 dalam Tadrib ar-Rawi membahas kasus khusus: sahabat yang wafat semasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam MASIH HIDUP, namun tetap ada hadits yang disandarkan (usnida) kepadanya - baik karena orang lain meriwayatkan darinya sesuatu yang ia dengar dari Nabi, maupun karena riwayat tentang dirinya sendiri. As-Suyuthi menegaskan nau' ini adalah tambahannya sendiri, belum ada dalam kitab-kitab ilmu hadits sebelumnya.1

Definisi dan Faedah Mengetahuinya

As-Suyuthi menjelaskan, faedah mengenal para sahabat yang wafat semasa hidup Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini adalah untuk menghukumi status irsal (inqitha') sebuah riwayat - yakni bila perawi yang menyandarkan riwayat kepada sahabat semacam ini ternyata seorang tabi'i, maka riwayat itu patut dicurigai terputus, sebab sang tabi'i mustahil sempat bertemu dan mendengar langsung dari sahabat yang sudah wafat sebelum masa hidupnya sendiri berlangsung lama. As-Suyuthi bahkan menyampaikan harapannya untuk suatu saat menghimpun sebuah musnad tersendiri bagi para sahabat semacam ini.2

Contoh-Contoh yang Disebutkan As-Suyuthi

As-Suyuthi menyebut tiga contoh sahabat yang wafat semasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup, namun tetap punya riwayat yang disandarkan kepada mereka:

Abu Salamah, suami Ummu Salamah - wafat tak lama setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali dari Perang Badr. Ummu Salamah meriwayatkan darinya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sabda beliau tentang doa istirja' ketika tertimpa musibah:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَفْزَعُ إِلَى مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ قَوْلِهِ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيبَتِي فَأْجُرْنِي عَلَيْهَا إِلَّا أَعْقَبَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا
"Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia bersegera mengucapkan apa yang Allah perintahkan, yaitu 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ya Allah di sisi-Mu aku pasrahkan musibahku ini, maka berilah aku pahala atasnya,' melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya." (HR. Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah)3

As-Suyuthi mencatat, riwayat ini sampai lewat jalur 'Umar bin Abi Salamah, dari ibunya (Ummu Salamah), bahwa Abu Salamah mengabarkan kepadanya, ia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian.

Ja'far bin Abi Thalib - Imam Ahmad meriwayatkan untuknya dalam Musnad-nya hadits tentang kisah hijrah.

Hamzah, paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam - Ath-Thabarani meriwayatkan untuknya sebuah hadits tentang al-Haudh (telaga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di akhirat).4

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Meneliti sampai sejauh ini - siapa yang benar-benar sempat bertemu siapa, dan siapa yang meriwayatkan dari siapa meski salah satu pihak sudah wafat lebih dulu - adalah bagian dari kesungguhan menjaga sanad tetap bersambung dan tidak keliru dihukumi tersambung padahal sebetulnya terputus:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)5

Nau' 92 ini adalah tambahan orisinal As-Suyuthi dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Nau' sebelumnya membahas Man Lam Yarwi illa Haditsan Wahidan, dan nau' penutup kitab ini ada di Al-Huffazh.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 935.

  2. Ibid., hlm. 935.

  3. Ibid., hlm. 935.

  4. Ibid., hlm. 935.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email