Ma'rifatul Huffazh: Kutipan Ulama Menilai Deretan Hafizh Sepanjang Zaman

Nau' 93 - nau' penutup dalam Tadrib ar-Rawi - berjudul ma'rifatul huffazh, mengenal para huffazh (penyandang gelar hafizh dalam ilmu hadits). Berbeda dari nau'-nau' sebelumnya yang umumnya memuat definisi dan kaidah, As-Suyuthi menutup kitabnya dengan cara yang berbeda: menghimpun kutipan-kutipan asli para ulama yang saling menilai dan menyebut siapa saja di antara mereka yang layak disebut hafizh atau imam terkemuka di zaman dan kotanya masing-masing.

Warisan Adz-Dzahabi dan Cara As-Suyuthi Menyajikannya

As-Suyuthi membuka nau' ini dengan menyebut bahwa cukup banyak ulama yang telah menulis kitab khusus tentang para huffazh, dan yang paling masyhur di antara mereka adalah Adz-Dzahabi (penulis Tadzkiratul Huffazh). As-Suyuthi sendiri mengaku telah meringkas thabaqat (tingkatan-tingkatan generasi huffazh) yang disusun Adz-Dzahabi tersebut, bahkan menulis dzail (susulan/lanjutan) untuk huffazh yang datang sesudah masa Adz-Dzahabi. Di nau' ini, ia hanya membawakan satu jenis ringan (naw'an lathifan) dari karyanya itu - sekadar cuplikan, bukan daftar lengkap.1

Riwayat Umar bin Khattab: Menghitung Para Imam

As-Suyuthi membuka cuplikannya dengan riwayat yang dinukil Al-Baihaqi dalam kitab Al-Madkhal, lengkap dengan sanadnya sendiri hingga kepada Imam Malik, dari Yahya bin Sa'id, bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu suatu hari berkata kepada orang-orang di sekitarnya:

عُدُّوا الْأَئِمَّةَ
"Hitunglah para imam (a'immah)." Maka orang-orang pun menghitungnya, kira-kira ada lima orang. Umar berkata, "Apakah manusia dibiarkan tanpa para imam?" (seakan mempertanyakan mengapa jumlahnya sesedikit itu)2

Yahya bin Sa'id lalu bertanya langsung kepada Imam Malik, siapa sebenarnya yang dimaksud para imam itu. Malik menjawab singkat namun tegas: mereka adalah a'immatud-din fil-fiqhi wal-wara' - para imam agama dalam hal fiqih dan wara' (kehati-hatian dari yang syubhat maupun haram).3

Ulama Terkemuka Madinah: Penilaian 'Irak bin Malik dan Az-Zuhri

As-Suyuthi lalu menukil dialog Ja'far bin Rabi'ah yang bertanya kepada 'Irak bin Malik: siapa yang paling faqih di antara penduduk Madinah? 'Irak menjawab dengan penilaian yang cukup terperinci - bukan satu nama tunggal, melainkan pembagian keunggulan menurut bidangnya masing-masing: yang paling tahu tentang keputusan-keputusan (qadhaya) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, juga keputusan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, sekaligus paling faqih dan paling tahu urusan orang-orang terdahulu, adalah Sa'id bin Al-Musayyab. Yang paling banyak haditsnya adalah 'Urwah bin Az-Zubair. Sementara jika hendak menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah, niscaya akan selalu ada yang bisa ditimba - begitu luas ilmunya. Namun yang paling berilmu di antara semuanya, menurut 'Irak, adalah Ibnu Syihab (Az-Zuhri), sebab ia menghimpun ilmu mereka semua ke dalam ilmunya sendiri.4

Az-Zuhri sendiri punya penilaian serupa dalam skala yang lebih luas, mencakup empat kota sekaligus: ulama itu ada empat - Sa'id bin Al-Musayyab di Madinah, Asy-Sya'bi di Kufah, Al-Hasan (Al-Bashri) di Bashrah, dan Makhul di Syam. Abu Az-Zinad menambahkan penilaian khusus untuk Madinah saja, menyebut empat fuqaha terkemuka di sana: Sa'id bin Al-Musayyab, Qabishah bin Dzu'aib, 'Urwah bin Az-Zubair, dan 'Abdul Malik bin Marwan.5

Empat yang Diberkahi Allah untuk Umat Ini

As-Suyuthi kemudian berpindah ke generasi yang lebih belakangan, era Imam Ahmad bin Hanbal. Ia menukil ucapan Hilal bin Al-'Ala' Ar-Raqqi yang menyebut empat sosok sebagai anugerah Allah bagi umat ini di zaman mereka: Ahmad bin Hanbal, yang teguh menghadapi Mihnah (ujian berat masa pemaksaan paham Al-Qur'an sebagai makhluk) - seandainya bukan karena keteguhannya, orang-orang bisa saja terjerumus pada kekufuran; Asy-Syafi'i, yang tepercaya dalam menjaga hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; Yahya bin Ma'in, yang membersihkan hadits dari kedustaan; dan Abu 'Ubaid, yang menjelaskan makna kata-kata gharib (asing/sulit) dalam hadits - seandainya bukan karena penjelasannya, orang-orang bisa terjerumus pada kekeliruan memahami maknanya.6

Ibnu Warah punya penilaian serupa namun dengan susunan nama berbeda, menyebutnya sebagai empat pilar agama (arkanud-din): Ahmad bin Shalih di Mesir, Ahmad bin Hanbal di Baghdad, Ibnu Numair di Kufah, dan An-Nufaili di Harran. Adapun Yahya bin Yahya An-Naisaburi memberi penilaian khusus untuk Irak, membaginya menjadi dua generasi: dua yang sudah sepuh (asy-syaikhan) yaitu Yazid bin Zurai' dan Husyaim, serta dua yang masih setengah baya (al-kahlan) yaitu Waki' dan Yazid bin Harun - dengan catatan Yazid bin Harun lebih kuat hafalannya di antara dua yang setengah baya itu.7

Ahmad bin Hanbal Menilai Silang Huffazh Bashrah

Bagian yang paling menarik dari nau' ini adalah ketika As-Suyuthi menukil penilaian Imam Ahmad bin Hanbal sendiri, yang justru sering diberi predikat sebagai salah satu dari empat sosok teragung di atas, namun di sisi lain ia sendiri tak segan menilai - bahkan membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan - huffazh lain di sekitarnya. 'Abdush-Shamad Sulaiman Al-Balkhi bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang empat nama sekaligus: Yahya bin Sa'id (Al-Qaththan), Ibnu Mahdi ('Abdurrahman bin Mahdi), Waki', dan Abu Nu'aim Al-Fadhl bin Dukain. Ahmad menjawab satu demi satu: ia belum pernah melihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Waki'; cukuplah 'Abdurrahman bin Mahdi disebut sebagai orang yang memiliki ma'rifah (pengetahuan mendalam) dan itqan (ketelitian); ia juga belum pernah melihat orang yang lebih teguh ketelitiannya dalam urusan rijal (kritik para perawi) daripada Yahya bin Sa'id; sementara Abu Nu'aim, kata Ahmad, adalah yang paling sedikit bagiannya di antara keempat orang itu.8

Dalam riwayat lain yang dinukil Hanbal bin Ishaq, Ahmad bin Hanbal (dipanggil Abu 'Abdillah) berkata: ia belum pernah melihat di Bashrah orang seperti Yahya bin Sa'id, dan sesudahnya 'Abdurrahman bin Mahdi - namun 'Abdurrahman lebih faqih di antara keduanya. Ketika ditanya soal Waki' dan Abu Nu'aim, ia menjawab: Abu Nu'aim lebih tahu soal para syaikh (guru-guru hadits) dan nama-nama mereka, juga soal rijal, sedangkan Waki' lebih faqih.9

Kriteria yang Berbeda-beda: Hafalan, Fiqih, dan Ilmu Rijal

Pola yang sama muncul lagi ketika Qutaibah menukil ucapan orang-orang di zamannya: para huffazh itu ada empat - Isma'il bin 'Ulayyah, 'Abdul Warits, Yazid bin Zurai', dan Wuhaib. Ia menambahkan, 'Abdurrahman (bin Mahdi) sendiri justru lebih memilih Wuhaib dibanding Isma'il. Abu Hatim menilai Wuhaib sebagai yang keempat di antara huffazh Bashrah, dan menyebut Wuhaib tidak kalah tahu soal rijal dibanding Syu'bah bin Al-Hajjaj - padahal Syu'bah sendiri dikenal luas sebagai salah satu rujukan utama ilmu rijal pada masanya.10

As-Suyuthi menutup rangkaian kutipan ini dengan penilaian Yahya bin Ma'in yang membandingkan dua tokoh besar sekaligus: Syu'bah lebih tahu soal rijal, sedangkan Sufyan (Ats-Tsauri) adalah shahibu abwab - ahli dalam menguasai bab-bab permasalahan fiqih yang digali dari hadits.11

Dari seluruh kutipan yang dihimpun As-Suyuthi ini, terlihat jelas satu benang merah: gelar hafizh atau imam pada masa itu tidak pernah dipahami secara monolitik. Seorang ulama bisa unggul dalam hafalan namun kalah dalam fiqih dibanding rekannya; unggul dalam ilmu rijal namun kalah dalam ketelitian mudzakarah; atau justru menguasai penjelasan kata-kata gharib yang tak dikuasai huffazh lain. Para ulama sendiri terbiasa saling menilai secara jujur dan spesifik - bukan memberi predikat paling hebat secara serampangan, melainkan menunjuk kelebihan konkret masing-masing orang di bidangnya.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Kebiasaan para ulama salaf saling menilai dan mengoreksi keunggulan satu sama lain - bahkan terhadap sesama huffazh besar sekalipun - adalah wujud nyata dari prinsip yang mendasari seluruh ilmu hadits: kehati-hatian dalam menentukan dari siapa sebenarnya agama ini boleh diambil.

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar dari Ibnu Sirin)12

Nau' 93 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 936.

  2. Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, sebagaimana dinukil As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, hlm. 936.

  3. Ibid., hlm. 936.

  4. Ibid., hlm. 936.

  5. Ibid., hlm. 936.

  6. Ibid., hlm. 939.

  7. Ibid., hlm. 939.

  8. Ibid., hlm. 939.

  9. Ibid., hlm. 939.

  10. Ibid., hlm. 939.

  11. Ibid., hlm. 939.

  12. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email