Al-Maqthu': Ucapan atau Perbuatan Tabi'in, dan Perbedaannya dari Al-Munqathi'

Nau' 8 dalam Tadrib ar-Rawi membahas hadits maqthu' - riwayat yang berhenti bukan pada sahabat, melainkan pada tabi'in.

Definisi dan Kerancuan Istilahnya

As-Suyuthi merumuskan: hadits maqthu' (jamaknya maqathi' atau maqathi'') adalah apa yang mauquf (berhenti) pada seorang tabi'in, baik berupa ucapan maupun perbuatannya. As-Suyuthi mencatat, istilah ini pernah dipakai dalam makna berbeda oleh Asy-Syafi'i, kemudian Ath-Thabarani, untuk merujuk pada hadits munqathi' (nau' 10 kitab ini) - yakni hadits yang sanadnya tidak bersambung - sebagaimana juga terlihat dalam ungkapan Abu Bakr Al-Humaidi dan Ad-Daraquthni. Namun As-Suyuthi menjelaskan, Asy-Syafi'i memakai istilah itu sebelum penggunaan baku (istilah yang sudah mapan) terbentuk - terlihat dari ucapannya soal sebuah hadits: "hasan, dan ia memenuhi syarat Asy-Syaikhain" - kalimat yang janggal kalau "maqthu'" di sana benar-benar dimaksudkan dalam makna teknis munqathi' seperti sekarang.

As-Suyuthi juga menukil catatan menarik: Abu Hafsh Ibnu Badr Al-Mushili pernah menyusun kitab berjudul "Ma'rifat al-Wuquf 'alal-Mauquf," memuat riwayat-riwayat yang oleh penulis kitab-kitab maudhu'at (hadits palsu) keliru dimasukkan sebagai hadits palsu, padahal sebenarnya riwayat itu shahih - hanya saja bukan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan dari seorang sahabat atau tabi'in dan generasi sesudahnya. As-Suyuthi menegaskan: memasukkan riwayat semacam itu ke dalam kategori maudhu' adalah kekeliruan, karena ada perbedaan jelas antara hadits yang benar-benar palsu (maudhu') dan hadits yang hanya berstatus mauquf (berhenti pada selain Nabi). Ia menutup dengan menyebut sumber-sumber utama untuk mencari hadits mauquf dan maqthu': Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf 'Abdur Razzaq, serta tafsir-tafsir karya Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnul Mundzir.1

Kenapa Pembedaan Ini Penting

Membedakan dengan cermat mana riwayat yang benar-benar palsu dan mana yang sekadar berhenti pada seorang tabi'in mencegah kekeliruan fatal dalam menilai sebuah riwayat - keduanya jauh berbeda derajatnya, meski sama-sama bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)2

Nau' 8 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Riwayat yang berhenti pada sahabat dibahas di Al-Mauquf, sementara hadits yang sanadnya tidak bersambung ada di Al-Munqathi'.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 218-219.

  2. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email