Ma Rawahush-Shahabatu 'anit-Tabi'in 'anish-Shahabah: Ketika Sahabat Meriwayatkan Lewat Perantara Tabi'in

Nau' 78 dalam Tadrib ar-Rawi meneruskan rangkaian nau' tambahan As-Suyuthi seputar pola-pola periwayatan antar-generasi perawi, tepat setelah pembahasan sahabat meriwayatkan dari sesama sahabat dan tabi'in dari sesama tabi'in (nau' 76-77 kitab ini). Nau' ini mengangkat pola yang lebih jarang dijumpai: sebuah hadits yang diriwayatkan seorang sahabat, namun sumber langsungnya bukan sahabat lain, melainkan seorang tabi'in - dan tabi'in itu sendiri baru mengambil riwayatnya dari sahabat lain.1

Definisi: Sahabat - Tabi'in - Sahabat

Judul nau' ini, Ma Rawahush-Shahabatu 'anit-Tabi'in 'anish-Shahabah, secara harfiah berarti "apa yang diriwayatkan sahabat dari tabi'in, dari sahabat (lain)." Polanya: seorang sahabat berperan sebagai perawi yang menyampaikan sebuah hadits, tapi jalur yang ia tempuh untuk mendapatkannya bukan langsung dari sahabat lain, melainkan lewat seorang tabi'in di tengah sanad - tabi'in itulah yang lebih dulu mengambil riwayat tersebut dari sahabat yang menjadi sumber aslinya. Hasilnya, dua sahabat di kedua ujung sanad ini terhubung lewat satu perantara tabi'in di antara mereka, bukan bertemu langsung.

Kenapa Pola Ini Dianggap Ganjil

Yang membuat pola semacam ini layak dicatat tersendiri oleh ulama hadits: secara alur generasi yang lazim, arah periwayatan yang diharapkan justru sebaliknya - seorang tabi'in mengambil riwayat dari sahabat, bukan seorang sahabat mengambil riwayat lewat perantara tabi'in. Ketika susunan sanad ternyata berjalan ke arah yang tidak biasa ini, seseorang yang tidak menyadarinya sebagai fenomena yang memang terjadi bisa saja mengira ada kekeliruan urutan generasi dalam sanad tersebut, padahal itu adalah pola periwayatan yang sah dan sudah didokumentasikan.

Posisinya di Antara Nau' Tambahan Lain

As-Suyuthi menempatkan nau' ini tepat setelah pembahasan periwayatan sesama-generasi (nau' 76-77 kitab ini, sahabat dengan sesama sahabat dan tabi'in dengan sesama tabi'in), dan sebelum rangkaian nau' berikutnya tentang berbagai kebetulan kecocokan kunyah dengan nama ayah atau guru (nau' 79 dan seterusnya kitab ini). Ketiganya sama-sama bagian dari deretan panjang nau' tambahan yang As-Suyuthi susun untuk mendokumentasikan berbagai pola dan kejanggalan struktur sanad yang mungkin dijumpai seorang penuntut ilmu hadits, agar tidak keliru menafsirkannya sebagai kesalahan penyalinan atau cacat sanad.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Mengenali pola-pola periwayatan yang tidak lazim seperti ini adalah bagian dari kehati-hatian menyeluruh dalam menelusuri jalur sanad, memastikan hubungan setiap perawi di dalamnya benar-benar dipahami sebagaimana adanya, bukan ditebak-tebak:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)2

Nau' 78 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pola periwayatan sesama sahabat dan sesama tabi'in dibahas sebelumnya di Riwayatush Shahabati Ba'duhum 'an Ba'd; rangkaian berikutnya soal kecocokan kunyah dengan nama ayah dibahas di Man Wafaqat Kunyatuhu Isma Abihi wa 'Aksuhu.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 917.

  2. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email