Ma'rifatu Atba'it-Tabi'in: Nau' Ringkas tentang Generasi Sesudah Tabi'in

Setelah merampungkan nau' ke-74 (Al-Muharraf), As-Suyuthi masuk ke deretan nau' tambahan yang tidak dibahas Ibnu Ash-Shalah maupun An-Nawawi dalam kitab aslinya. Salah satunya adalah nau' ke-75: Ma'rifatu Atba'it-Tabi'in, mengenal generasi yang datang sesudah tabi'in.1

Redaksi As-Suyuthi Sangat Ringkas

Berbeda dari kebanyakan nau' lain dalam Tadrib ar-Rawi yang dibahas panjang lebar lengkap dengan dalil, perbedaan pendapat, dan contoh, untuk nau' ini As-Suyuthi hanya menulis satu kalimat singkat: bahwa Al-Hakim (An-Naisaburi) telah membahasnya dalam kitab Ma'rifatu 'Ulumil Hadits, tepat sesudah pembahasan mengenal tabi'in.2 As-Suyuthi tidak menguraikan sendiri definisi atau contohnya di sini - ia hanya menunjukkan bahwa topik ini sudah pernah diangkat sebagai nau' tersendiri oleh Al-Hakim, ulama yang karyanya menjadi salah satu rujukan utama Ibnu Ash-Shalah dalam menyusun sistematika ilmu hadits.

Posisinya dalam Rangkaian Generasi Perawi

Penyebutan nau' ini tidak berdiri sendiri. As-Suyuthi meletakkannya tepat sesudah dua nau' besar yang sudah dibahas Ibnu Ash-Shalah sendiri: nau' 39 (Ma'rifatush-Shahabah) dan nau' 40 (Ma'rifatut-Tabi'in). Urutan ini menunjukkan bahwa atba'ut-tabi'in dipahami sebagai kelanjutan wajar dari dua generasi sebelumnya - mengikuti pola penamaan yang sama, seorang atba'ut-tabi'i secara umum dipahami sebagai orang yang berjumpa dengan seorang tabi'i dalam keadaan beriman, sebagaimana seorang tabi'i dipahami sebagai orang yang berjumpa dengan seorang sahabat.3 Generasi ini penting secara historis karena banyak imam besar penyusun mazhab fiqih dan kitab-kitab hadits induk berasal dari generasi ini atau generasi sesudahnya.

Kenapa As-Suyuthi Tidak Menguraikannya Lebih Jauh

As-Suyuthi sendiri menjelaskan di awal rangkaian nau' tambahan ini bahwa ia sedang melengkapi nau'-nau' yang belum diangkat Ibnu Ash-Shalah, bukan menulis ulang seluruh ilmu hadits dari nol.4 Untuk nau' yang sudah pernah dibahas ulama lain secara memadai - seperti Al-Hakim untuk topik ini - As-Suyuthi cukup menunjuk sumbernya tanpa mengulang isinya secara rinci, sebuah pola yang juga ia pakai untuk beberapa nau' tambahan lain di sekitar bagian ini (misalnya Al-Mu'allaq, Al-Mu'an'an, Al-Mutawatir, dan Al-'Aziz yang cukup dirujuk balik ke pembahasan nau' sebelumnya).5

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Sesingkat apa pun catatan As-Suyuthi soal nau' ini, tujuannya tetap sama dengan seluruh pembahasan generasi perawi dalam kitab ini: memastikan setiap orang dalam sanad benar-benar dikenal posisinya, agar bersambung-tidaknya sebuah riwayat bisa dinilai dengan tepat.

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)6

Nau' 75 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Dua generasi sebelumnya dibahas di Ma'rifatush-Shahabah dan Ma'rifatut-Tabi'in.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 915.

  2. Ibid., hlm. 915.

  3. Ibid., hlm. 915; bandingkan pola definisi pada nau' 39-40, Ibid., hlm. 699.

  4. Ibid., hlm. 915.

  5. Ibid., hlm. 915.

  6. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email