Al-Mutasyabih: Ketika Pola Nama Ayah dan Anak Tertukar dengan Pasangan Lain

Nau' 55 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-Mutasyabih (nama-nama yang tampak serupa) - salah satu kasus paling rumit dalam mengenali identitas perawi, karena As-Suyuthi menjelaskan nau' ini sebenarnya tersusun dari gabungan dua nau' sebelumnya sekaligus: al-Mu'talif wal-Mukhtalif (nau' 53) dan al-Muttafiq wal-Muftariq (nau' 54). Al-Khathib Al-Baghdadi bahkan menulis kitab tersendiri khusus membahas persoalan ini.1

Definisi Al-Mutasyabih

As-Suyuthi menjelaskan mekanismenya: kasus al-Mutasyabih terjadi ketika nama dua orang perawi sama persis tulisannya pada satu unsur - misalnya nama perawinya sendiri identik, baik tulisan maupun bacaannya (inilah unsur muttafiq) - sementara pada unsur lain, yakni nama ayah keduanya, tulisannya juga sama persis tapi cara membacanya berbeda (inilah unsur mu'talif-mukhtalif). Bisa juga terjadi sebaliknya: nama ayah keduanya yang identik tulisan maupun bacaannya, sementara nama si perawi sendiri yang tulisannya sama tapi dibaca berbeda. Singkatnya, satu pasangan nama-dan-ayah tampak seperti pasangan nama-dan-ayah yang lain di atas kertas, padahal menunjuk pada dua orang yang benar-benar berbeda - dan letak kerancuan bacaannya bisa berpindah, kadang di nama si perawi, kadang di nama ayahnya.2

Contoh Pola Biasa: Musa bin 'Ali dan Musa bin 'Ulayy

Ibnu Shalah memberi contoh: Musa bin 'Ali (dibaca dengan fathah pada 'ain) - perawi dengan nama ini banyak dijumpai. Sementara dengan dhammah, ada Musa bin 'Ulayy bin Rabah Al-Mishri, meski sebagian ulama membacanya dengan fathah juga. Ada pula pendapat yang menyebut: bacaan dengan dhammah sebenarnya adalah sebuah laqab (julukan), sedangkan bacaan dengan fathah adalah ism (nama asli) - untuk orang yang sama.3

As-Suyuthi menambahkan latar belakang menarik di balik variasi nama ini. Menurut Abu Abdurrahman Al-Muqri', dahulu Bani Umayyah membunuh setiap bayi laki-laki yang diberi nama 'Ali karena kebencian mereka terhadap 'Ali radhiyallahu 'anhu. Ketika kabar itu sampai kepada Rabah (ayah perawi di atas), ia pun menyebut anaknya "'Ulayy" - bentuk kecil (diminutif) dari 'Ali - untuk menghindarkannya dari ancaman tersebut. Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat mencatat kebiasaan serupa: penduduk Syam kala itu mengubah setiap nama "'Ali" menjadi "'Ulayy" karena kebencian mereka kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu - karena itu pula ayah Maslamah dan ayah Ibnu Rabah sama-sama disebut "'Ulayy".4

Namun As-Suyuthi sendiri mengoreksi penggunaan contoh ini: karena bacaan nama ayah Musa ternyata masih diperdebatkan ulama - apakah keduanya benar-benar dua orang berbeda, atau justru satu orang yang punya dua bentuk nama (ism dan laqab) - ia menilai contoh ini kurang tepat dijadikan misal utama, dan mengusulkan contoh yang lebih jelas.5

Contoh yang Lebih Jelas: Ayyub bin Bisyr dan Ayyub bin Busyair

Contoh yang diusulkan As-Suyuthi: Ayyub bin Bisyr dan Ayyub bin Busyair. Nama depan keduanya identik, sama-sama Ayyub. Perbedaannya ada pada nama ayah: yang pertama nama ayahnya dalam bentuk mukabbar (bentuk asli/besar), "Bisyr" - seorang dari Bani 'Ijl yang tinggal di Syam, diriwayatkan darinya oleh Tsa'labah bin Muslim Al-Khats'ami. Yang kedua nama ayahnya dalam bentuk mushaghghar (bentuk kecil/diminutif), "Busyair" - seorang dari Bani 'Adiy yang tinggal di Bashrah, diriwayatkan darinya oleh Abul Husain Khalid Al-Bashri, Qatadah, dan yang lainnya.6

Pola Terbalik: Surayj bin An-Nu'man dan Shurayh bin An-Nu'man

As-Suyuthi juga memberi contoh pola sebaliknya - di sini justru nama ayah yang identik, sementara nama perawinya sendiri yang tulisannya mirip tapi dibaca berbeda: Surayj bin An-Nu'man dan Shurayh bin An-Nu'man. Nama ayah keduanya sama persis, An-Nu'man. Nama depan keduanya sama-sama berbentuk diminutif, tapi dieja dan dibaca berbeda: yang pertama dengan huruf sin dan jim tak bertitik (Surayj) - kakeknya bernama Marwan Al-Lu'lu'i Al-Baghdadi, diriwayatkan darinya langsung oleh Al-Bukhari. Yang kedua dengan huruf syin bertitik dan ha' tak bertitik (Shurayh) - seorang tabi'i dari Kufah, memiliki satu hadits dalam Sunan yang empat, diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib.7

Contoh Lain: Nisbah dan Kunyah yang Mirip

Kerancuan serupa juga bisa terjadi pada nisbah maupun kunyah, tidak hanya pada nama-dan-ayah. Ibnu Shalah mencontohkan Muhammad bin Abdullah Al-Mukharrimi (dibaca dhammah-fathah-kasrah), dinisbahkan ke kawasan Mukharrim di Baghdad - seorang perawi yang masyhur. Sementara Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami dinisbahkan ke Makhramah - kurang dikenal, meriwayatkan dari Asy-Syafi'i. Nama dan nama ayah keduanya identik, "Muhammad bin Abdullah"; hanya nisbahnya yang tulisannya mirip tapi dibaca berbeda.8

Contoh lain pada kunyah: Abu 'Amr Asy-Syaibani (dengan syin bertitik) - seorang tabi'i bernama Sa'd bin Iyas, dan ahli bahasa Ishaq bin Mirar juga dikenal dengan kunyah serupa (dibaca seperti Dhirar, atau menurut pendapat lain seperti Ghazal atau 'Ammar). Sementara Abu 'Amr As-Saibani (dengan sin tak bertitik) - juga seorang tabi'i, bernama Zur'ah, ayah dari Yahya. Kunyah "Abu 'Amr" pada keduanya sama persis, hanya nisbah yang membedakan lewat titik hurufnya.9

Satu contoh lagi: 'Amr bin Zurarah (dibaca fathah pada 'ain) - sejumlah perawi memakai nama ini, termasuk guru Imam Muslim, Abu Muhammad An-Naisaburi. Sementara dengan dhammah, 'Umar bin Zurarah, dikenal dengan sebutan Al-Hadatsi. Nama ayah "Zurarah" pada keduanya sama persis, hanya nama depannya yang tulisannya mirip tapi dibaca berbeda.10

Kenapa Ketelitian Berlapis Ini Penting

Al-Mutasyabih menuntut kewaspadaan ganda: memastikan bacaan yang benar pada satu unsur nama saja tidak cukup, karena unsur lain bisa jadi menyimpan kerancuan serupa dengan pola yang terbalik. Kombinasi dua lapis kerumitan semacam ini adalah pengingat bahwa menjaga keakuratan sanad menuntut kesungguhan yang tidak boleh berhenti pada pemeriksaan yang tampak sudah cukup:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)11

Nau' 55 ini adalah salah satu dari 88 bab dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Dua nau' penyusunnya dibahas di Al-Mu'talif wal-Mukhtalif dan Al-Muttafiq wal-Muftariq.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 836.

  2. Ibid., hlm. 836.

  3. Ibid., hlm. 836.

  4. Ibid., hlm. 839.

  5. Ibid., hlm. 839.

  6. Ibid., hlm. 839.

  7. Ibid., hlm. 839.

  8. Ibid., hlm. 836, 839.

  9. Ibid., hlm. 836.

  10. Ibid., hlm. 836.

  11. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email