Nau' 87 dalam Tadrib ar-Rawi masih berada dalam rangkaian panjang pembahasan kebetulan-kebetulan penamaan perawi (nau' 74 sampai 88 kitab ini). Pada nau' ini, As-Suyuthi mengangkat kasus ma'rifatu man wafaqa ismuhu nasabahu - mengenal perawi yang nama aslinya (ism) sendiri kebetulan berbentuk persis seperti nasab atau nisbah yang ia sandang, sehingga sekilas orang bisa salah mengira nama itu sekadar sebutan keturunan atau asal-usul, padahal ia memang nama diri sang perawi.
Kedudukan Nau' Ini di Antara Ulama Hadits
Sama seperti nau' sebelumnya - ma'rifatu man ittafaqa ismuhu wa kunyatuhu (nau' 86) - As-Suyuthi mencatat bahwa para ulama pendahulu juga tidak membahas jenis kasus ini secara khusus.1 Statusnya sama: bukan bahasan baku yang selalu muncul dalam kitab-kitab ilmu hadits standar, melainkan catatan tambahan untuk melengkapi ragam kebetulan penamaan yang bisa menjebak seorang pengkaji sanad kalau tidak diketahui sejak awal.
Contoh: Himyar bin Basyir al-Himyari
As-Suyuthi memberi contoh Himyar bin Basyir al-Himyari, seorang perawi yang meriwayatkan dari Jundub al-Bajali, Abu ad-Darda', dan Ma'qal bin Yasar radhiyallahu 'anhum.2 Perhatikan namanya: "Himyar" adalah ism (nama diri)-nya, sedangkan "al-Himyari" di ujung namanya adalah nisbah kepada suku Himyar di Yaman. Keduanya kebetulan berbunyi identik - "Himyar" sebagai nama diri, dan "al-Himyari" sebagai bentuk nisbah dari nama suku yang sama - padahal fungsinya berbeda sama sekali: satu menunjuk nama pribadi, satu lagi menunjuk asal-usul kesukuan. Tanpa mengetahui kebetulan ini, seseorang bisa saja mengira "Himyar" pada nama perawi ini juga sekadar bentuk nisbah, bukan nama aslinya.
Kategori Terkait: Nama yang Berbentuk Lafal Nasab
As-Suyuthi menambahkan satu kategori yang berdekatan dengan kasus di atas: nama-nama yang bentuknya sama persis dengan lafal nasab (nisbah), padahal ia murni nama diri (ism), bukan sekadar sebutan asal-usul. Contoh yang beliau sebutkan adalah "al-Hadhrami," nama ayah dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Al-'Ala' bin al-Hadhrami.3 Kata "al-Hadhrami" di sini berfungsi sebagai ism (nama diri) sang ayah - meski bentuk katanya identik dengan nisbah yang lazim dipakai untuk menunjukkan asal seseorang dari wilayah Hadhramaut. Inilah yang membuatnya berdekatan dengan kasus Himyar bin Basyir: sama-sama nama diri yang secara kebetulan mengambil bentuk kata yang lazim dipakai sebagai nasab/nisbah.
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Kedua contoh di atas menegaskan pentingnya tidak tergesa-gesa menyimpulkan makna sebuah nama hanya dari bentuk katanya. Sebuah kata yang terlihat seperti nisbah kesukuan atau nisbah wilayah bisa jadi justru adalah ism asli seorang perawi - dan sebaliknya. Kecermatan semacam ini sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan identitas sumber sebuah riwayat sebelum menerimanya:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4
Nau' 87 ini adalah tambahan orisinal As-Suyuthi dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.