Man Ittafaqa Ismuhu wa Kunyatuhu: Ketika Nama Asli Seorang Perawi Sama dengan Kunyahnya Sendiri

Nau' 86 dalam Tadrib ar-Rawi membahas ma'rifatu man ittafaqa ismuhu wa kunyatuhu - mengenal perawi yang ismu-nya (nama aslinya) kebetulan sama persis dengan kunyah-nya. Ini kasus yang tidak lazim, sebab secara umum kunyah (bentuk Abu Fulan atau Ummu Fulan, dibahas tersendiri di nau' lain kitab ini) adalah unsur identitas yang berbeda bentuk dari nama asli seseorang. As-Suyuthi mencatat, nau' ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-'Asqalani di awal kitab An-Nukat-nya yang mengomentari Muqaddimah Ibnu Shalah, namun tidak dicantumkan Ibnu Hajar dalam ringkasannya sendiri, An-Nukhbah.1

Kenapa Kasus Ini Layak Dicatat Tersendiri

As-Suyuthi menyebutkan, Al-Khathib al-Baghdadi bahkan menulis kitab khusus yang membahas tema ini secara tersendiri - tanda bahwa persoalan ini cukup penting untuk didokumentasikan secara mandiri, bukan sekadar catatan pinggir dalam pembahasan kunyah pada umumnya. Faedah utamanya, menurut As-Suyuthi: menafikan kekeliruan dari orang yang disebut dengan salah satu dari dua identitasnya itu. Jika seorang perawi kadang disebut dalam sanad dengan namanya, dan di riwayat lain disebut dengan kunyahnya, seorang pengkaji hadits yang tidak tahu bahwa keduanya kebetulan identik bisa saja keliru mengira itu dua orang berbeda, atau sebaliknya menduga ada kejanggalan penyebutan padahal sebenarnya wajar - karena memang ismu dan kunyah orang tersebut sama.2

Contoh yang Disebutkan As-Suyuthi: Ibnu Thailasan al-Hafizh

As-Suyuthi memberi satu contoh konkret: Ibnu Thailasan al-Hafizh, muhaddits Andalusia (al-Andalus). Nama aslinya (ism) adalah Al-Qasim, sementara kunyah-nya adalah Abul Qasim - jadi inti nama yang dipakai sebagai kunyah-nya persis sama dengan nama aslinya sendiri. Seseorang yang hanya membaca "Al-Qasim" di satu tempat dan "Abul Qasim" di tempat lain, tanpa tahu keduanya merujuk pada orang yang sama, berisiko salah mengidentifikasi perawi ini sebagai dua sosok berbeda.3

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Mendokumentasikan kasus-kasus tidak lazim semacam ini adalah bagian dari kelengkapan data yang menjaga akurasi identifikasi perawi, sehingga sebuah sanad tidak salah dibaca hanya karena kebetulan bentuk penyebutan nama:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4

Nau' 86 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 927.

  2. Ibid., hlm. 927.

  3. Ibid., hlm. 927.

  4. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email