Nau' 74 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-muharraf secara sangat ringkas - As-Suyuthi tidak menguraikannya dari awal di sini, melainkan hanya merujuk balik ke satu nau' yang sudah beliau bahas tuntas sebelumnya: nau' al-mushahhaf (nau' 35 kitab ini).
Kenapa As-Suyuthi Hanya Merujuk Balik
As-Suyuthi menulis nau' ini hanya dengan satu kalimat singkat: rujukan tentang al-muharraf sudah beliau sampaikan sebelumnya dalam nau' al-mushahhaf.1 Pola ini bukan hal aneh dalam rangkaian nau' 66 sampai 77 - sekumpulan nau' tambahan yang As-Suyuthi susun sendiri sesudah nau'-nau' pokok Ibn ash-Shalah, yang memang sengaja ditulis ringkas karena isinya sudah lebih dulu dibahas di tempat lain. Nau' 66-67 (Mu'allaq dan Mu'an'an) dirujuk balik ke nau' Mu'dhal, nau' 68-69 (Mutawatir dan 'Aziz) dirujuk balik ke nau' Masyhur dan Gharib, nau' 70 (Mustafidh) dirujuk balik ke nau' Masyhur juga, nau' 71-72 (Mahfuzh dan Ma'ruf) dirujuk balik ke nau' Syadz dan Munkar, dan nau' 73 (Matruk) dirujuk balik ke nau' Munkar serta keterangan pasca nau' Maqlub.2 Muharraf mengikuti pola yang persis sama: bukan berarti istilahnya kurang penting, tapi As-Suyuthi menilai pembahasannya sudah cukup tersedia di nau' al-mushahhaf, sehingga tidak perlu diulang di sini.
Muharraf: Kesalahan pada Harakat, Bukan Bentuk Huruf
Kata muharraf berasal dari tahrif, yang secara bahasa berarti penyimpangan atau pengubahan. Dalam nau' al-mushahhaf sendiri, As-Suyuthi memang belum memisahkan secara eksplisit istilah tahrif dari tashif - keduanya dibahas sebagai satu kesatuan cabang ilmu yang sama, dengan pembagian tashif bashar (kekeliruan penglihatan saat membaca tulisan), tashif sam' (kekeliruan pendengaran), tashif lafal, dan tashif makna.3 Pemisahan yang lebih tegas antara keduanya baru dijumpai pada ulama musthalah hadits generasi sesudahnya - As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, misalnya, membedakan at-tashif (kesalahan pada bentuk tulisan huruf, biasanya akibat titik yang tertukar) dari at-tahrif (kesalahan pada harakat/vokal sebuah kata, di mana bentuk hurufnya tetap sama persis, hanya cara membacanya yang berubah sehingga mengubah makna).
Dengan kata lain, muharraf adalah kata yang mengalami tahrif - jenis kekeliruan yang lebih sempit dari tashif secara umum, karena hanya menyangkut kesalahan lafal/harakat, bukan kesalahan bentuk huruf itu sendiri. Salah satu contoh tashif yang sudah dibahas di nau' al-mushahhaf sebenarnya lebih tepat digolongkan sebagai kasus tahrif: hadits "barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan ENAM hari (sittan) di bulan Syawal" yang oleh Ash-Shuli dibaca keliru menjadi "sesuatu (syai'an)" - bentuk hurufnya berdekatan dan mudah tertukar tanpa mengubah kerangka tulisan secara drastis, sebuah pola yang sejalan dengan cara kerja tahrif.4
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Membongkar kesalahan lafal dan harakat sekecil apa pun - yang bisa mengubah total makna sebuah hadits - adalah wujud nyata kehati-hatian menyeluruh menjaga kata-kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersampaikan persis seperti aslinya:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)5
Nau' 74 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Konsep dasarnya, tashif, dibahas tuntas di Al-Mushahhaf.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 915.
↩Ibid., hlm. 915.
↩Ibid., hlm. 648.
↩Ibid., hlm. 648-649.
↩HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.
↩