Man Dzukira bi Asma'in aw Shifatin Mukhtalifah: Satu Perawi, Berbagai Sebutan

Nau' 48 dalam Tadrib ar-Rawi menutup rangkaian pembahasan kasus-kasus langka periwayatan (nau' 46 dan 47 sebelumnya) dengan topik yang berbeda sifatnya: bagaimana satu orang perawi yang sama bisa tercatat dalam sanad-sanad hadits dengan nama, kunyah, atau nasab yang berbeda-beda. As-Suyuthi menegaskan, ini bukan sekadar detail teknis - kerancuan semacam ini berkaitan langsung dengan kemampuan mendeteksi tadlis.

Fann yang Rumit, demi Mengenali Tadlis

As-Suyuthi menyebut nau' ini sebagai fannun 'awish - sebuah disiplin yang sulit dan rumit.1 Mengenali bahwa dua sebutan berbeda sebenarnya merujuk pada satu orang yang sama, atau sebaliknya menyadari bahwa dua sebutan yang tampak mirip justru merujuk pada dua orang berlainan, membutuhkan ketelitian tinggi. Kebutuhan mempelajarinya, tegas As-Suyuthi, sangat erat kaitannya dengan upaya mengenali tadlis - praktik menyamarkan identitas guru dalam sanad yang dibahas tersendiri di nau' 12 kitab ini - karena salah satu cara seorang mudallis menyamarkan gurunya adalah dengan sengaja menyebutnya memakai nama, kunyah, atau nasab yang tidak umum dikenal orang.

Karya Rujukan tentang Fenomena Ini

As-Suyuthi mencatat, Al-Hafizh 'Abdul Ghani bin Sa'id al-Azdi menyusun kitab khusus membahas fenomena ini berjudul Idhah al-Isykal (Menjelaskan Persoalan yang Rumit) - sebuah kitab yang bermanfaat. As-Suyuthi mengaku telah menelaah kitab tersebut secara langsung, dan akan meringkas beberapa contoh darinya di nau' ini. Selain Abdul Ghani bin Sa'id, ulama lain juga menulis tentang topik serupa, di antaranya Al-Khatib (al-Baghdadi).

Contoh Konkret: Muhammad bin as-Sa'ib al-Kalbi

Contoh pertama yang diangkat As-Suyuthi adalah Muhammad bin as-Sa'ib al-Kalbi, seorang ahli tafsir (al-mufassir) yang juga dikenal luas sebagai pakar ilmu nasab (silsilah keturunan orang Arab) - meski statusnya sendiri sebagai perawi hadits tergolong dhaif (lemah). Orang yang sama ini dikenal pula dengan kunyah Abu an-Nadhr - dan dari sosok berkunyah Abu an-Nadhr inilah diriwayatkan hadits tentang Tamim ad-Dari dan 'Adiy bin Badda', dua orang yang kisahnya melatarbelakangi turunnya ayat tentang persaksian dalam wasiat, QS Al-Ma'idah ayat 106.2 Riwayat kisah ini disampaikan dari Badzan, dari Ibnu 'Abbas.

Uniknya, sosok 'Adiy' yang muncul dalam kisah ini pun punya identitas ganda tersendiri: ia sebenarnya adalah Hammad bin as-Sa'ib, perawi yang dikenal meriwayatkan hadits tentang penyamakan kulit yang menyucikan kulit bangkai. Orang yang sama ini juga dikenal dengan kunyah Abu Sa'id - dan dari sosok berkunyah Abu Sa'id inilah 'Athiyyah (al-'Aufi) meriwayatkan penafsiran Al-Qur'an. Satu orang, tiga sebutan berbeda, tiga konteks periwayatan yang bagi siapa pun yang tidak mengenal fann ini akan tampak seperti tiga orang yang sama sekali berlainan.

Contoh Salim: Satu Orang, Sembilan Sebutan

Contoh kedua yang disebut As-Suyuthi lebih rumit lagi: seorang perawi bernama Salim, yang meriwayatkan dari Abu Hurairah, Abu Sa'id (al-Khudri), dan 'Aisyah. Salim yang sama ini tercatat dalam berbagai jalur dengan sebutan yang berbeda-beda: Salim Abu 'Abdillah al-Madini, Salim mawla (budak yang telah dimerdekakan) Malik bin Aus, Salim mawla Syaddad bin al-Had, Salim mawla an-Nashriyyin, Salim mawla al-Mahri, Salim Sablan, Salim Abu 'Abdillah ad-Dawsi, Salim mawla Daws, hingga Abu 'Abdillah mawla Syaddad.3 Semua sebutan ini, tegas As-Suyuthi, merujuk pada satu orang yang sama - sebuah kasus yang menunjukkan betapa status wala' (perbudakan yang telah dimerdekakan) saja bisa dicatat berbeda-beda oleh perawi yang berbeda, tergantung majikan mana yang paling dikenal disandingkan dengan namanya.

Kebiasaan Al-Khatib al-Baghdadi

As-Suyuthi menutup pembahasan nau' ini dengan sebuah catatan: Al-Khatib al-Baghdadi banyak mempraktikkan cara penyebutan yang bervariasi semacam ini terhadap para gurunya sendiri.4 Catatan ini sekaligus mengingatkan bahwa mengenal fann ini tidak hanya penting untuk membaca sanad ulama-ulama terdahulu, tapi juga untuk memahami karya para ulama yang menyusun sanadnya sendiri dengan gaya penyebutan yang beragam.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Memastikan bahwa dua sebutan berbeda benar-benar merujuk pada satu perawi yang sama - atau sebaliknya, tidak keliru menyatukan dua orang yang sebenarnya berlainan - adalah bagian dari kehati-hatian menyeluruh dalam menjaga keakuratan sanad, sejalan dengan prinsip memastikan betul dari siapa sebenarnya sebuah ilmu agama diambil:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)5

Nau' 48 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Kasus guru dengan murid tunggal dibahas di Man Lam Yarwi 'anhu illa Rawin Wahid.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 746.

  2. Ibid., hlm. 746.

  3. Ibid., hlm. 746.

  4. Ibid., hlm. 746.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email