As-Sabiq wal-Lahiq: Dua Perawi Berjauhan Wafat, Satu Guru yang Sama

Nau' 46 dalam Tadrib ar-Rawi membahas as-sabiq wal-lahiq - istilah untuk fenomena di mana dua orang perawi sama-sama meriwayatkan hadits dari satu guru yang sama, padahal jarak wafat keduanya berjauhan, bisa sampai lebih dari seratus tahun. As-Suyuthi mencatat, fenomena inilah yang membuat Al-Khatib al-Baghdadi menyusun satu kitab khusus membahasnya.

Definisi dan Kitab Rujukan Al-Khatib al-Baghdadi

As-Sabiq ("yang mendahului") adalah murid yang lebih dulu wafat, sementara al-lahiq ("yang menyusul") adalah murid yang wafat jauh belakangan - meski keduanya sama-sama pernah meriwayatkan langsung dari guru yang sama. As-Suyuthi menjelaskan, Al-Khatib al-Baghdadi menyusun sebuah kitab yang baik (hasan) khusus mengenai kasus-kasus semacam ini, dan ia sendiri menamainya As-Sabiq wal-Lahiq.1

Manfaat: Manisnya Ketinggian Sanad

As-Suyuthi menyebut di antara faedah mengetahui kasus as-sabiq wal-lahiq adalah "halawatu 'uluwwil-isnad" - manisnya ketinggian sanad yang dirasakan di hati ketika mendapati jarak generasi sedemikian jauh masih bisa tersambung lewat satu guru yang sama. Faedah lainnya: mencegah dugaan keliru bahwa ada sesuatu yang gugur (terputus) dari sanad, semata karena jarak wafat kedua perawi terlihat mustahil untuk sezaman berguru pada orang yang sama.2

Dua Contoh yang Dicatat As-Suyuthi

Contoh pertama: Muhammad bin Ishaq as-Sarraj. Darinya meriwayatkan Al-Bukhari (dalam kitab Tarikh-nya) dan Abul-Husain Ahmad bin Muhammad al-Khaffaf an-Naysaburi - padahal jarak wafat keduanya seratus tiga puluh tujuh tahun atau lebih.3

Contoh kedua: Az-Zuhri dan Zakariya bin Duwaid, keduanya sama-sama meriwayatkan dari Imam Malik bin Anas, dengan jarak wafat yang serupa jauhnya.4

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Mencatat dengan tepat siapa saja yang benar-benar meriwayatkan dari seorang guru - berapa pun jauhnya rentang wafat mereka - menjaga agar sebuah sanad yang tampak ganjil di permukaan tidak buru-buru dicurigai terputus, sekaligus memastikan setiap mata rantai riwayat benar-benar bisa dipertanggungjawabkan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)5

Nau' 46 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Bab sebelumnya membahas Riwayatul Abna' 'anil-Aba', sementara kasus terkait, guru yang riwayatnya hanya diteruskan satu murid, dibahas di Man Lam Yarwi 'anhu illa Rawin Wahid.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 737.

  2. Ibid., hlm. 737.

  3. Ibid., hlm. 737.

  4. Ibid., hlm. 737.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email