Nau' 41 dalam Tadrib ar-Rawi membahas riwayatul-akabir 'anil-ashaghir - kasus ketika seorang ulama besar justru meriwayatkan dari orang yang lebih muda usianya, lebih rendah kedudukannya, atau bahkan dari generasi sesudahnya. As-Suyuthi menjelaskan salah satu faedah mengenal pola ini: agar tidak keliru mengira orang yang diriwayatkan itu otomatis lebih besar dan lebih utama, hanya karena pola semacam itu memang lebih sering terjadi sebaliknya.
Tiga Jenis Riwayatul-Akabir 'anil-Ashaghir
As-Suyuthi merinci tiga jenis kasus ini. Pertama, perawi yang lebih tua usianya dan lebih dulu generasinya, meriwayatkan dari yang lebih muda - seperti Az-Zuhri yang meriwayatkan dari Malik (padahal Malik jauh lebih muda), atau Al-Azhari yang meriwayatkan dari Al-Khathib. Kedua, perawi yang lebih besar kedudukan keilmuannya, meriwayatkan dari gurunya yang levelnya di bawahnya - seperti seorang hafizh/'alim besar meriwayatkan dari seorang syaikh biasa, contohnya Malik yang meriwayatkan dari 'Abdullah bin Dinar. Ketiga, gabungan keduanya sekaligus (lebih tua usia SEKALIGUS lebih tinggi kedudukan) - seperti 'Abdul Ghani yang meriwayatkan dari Ash-Shuri, Al-Barqani yang meriwayatkan dari Al-Khathib, bahkan Al-Khathib sendiri yang meriwayatkan dari Ibnu Makula.
As-Suyuthi juga menyebut pola serupa di luar tiga jenis di atas: riwayat sahabat dari tabi'in - seperti Al-'Abadilah (para sahabat bernama 'Abdullah) dan sahabat-sahabat lain, termasuk Abu Hurairah, Mu'awiyah, dan Anas, yang meriwayatkan dari Ka'b Al-Ahbar (seorang tabi'in, mantan alim Yahudi yang masuk Islam). Ada pula riwayat seorang tabi'i dari tabi'i lain yang justru muridnya sendiri - seperti Az-Zuhri dan Al-Anshari yang meriwayatkan dari Malik. Kasus menarik lainnya: 'Amr bin Syu'aib, yang sebenarnya BUKAN tabi'i, namun diriwayatkan lebih dari dua puluh orang tabi'in (ada yang menghitung tiga puluh sembilan orang berdasarkan himpunan Al-Hafizh 'Abdul Ghani bin Sa'id, bahkan Al-Hafizh Abul Fadhl Ath-Thabasi menyebut lebih dari tujuh puluh orang, sementara Al-Hafizh Abul Fadhl Al-'Iraqi mendaftar lebih dari lima puluh nama).1
Akar Polanya: Nabi Sendiri Meriwayatkan dari Tamim Ad-Dari
As-Suyuthi menjelaskan, akar/dasar dari pola ini adalah riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri dari Tamim Ad-Dari - yakni hadits Al-Jassasah yang termasyhur (diriwayatkan Imam Muslim), tentang kisah seorang pelaut yang bertemu makhluk aneh bernama Al-Jassasah di sebuah pulau terpencil, yang kemudian mengarahkannya kepada sosok yang diyakini sebagai Dajjal. As-Suyuthi juga mencontohkan riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari Malik bin Muzarrid (ada pula yang menyebut Ibnu Mararah, atau Ibnu Murrah) Ar-Rahawi - dinukil Ibnu Mandah dalam kitab tentang sahabat, lewat sanad dari Zur'ah bin Saif bin Dzi Yazan: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menulis surat kepadanya, yang isinya antara lain, "Malik bin Mazrad Ar-Rahawi telah mengabarkan kepadaku bahwa engkau telah masuk Islam dan memerangi kaum musyrikin, maka bergembiralah dengan kebaikan."2
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Mengenali pola riwayatul-akabir 'anil-ashaghir mencegah kekeliruan menilai kedudukan seseorang semata dari arah sanadnya - sebuah kehati-hatian yang menjaga penilaian terhadap setiap perawi tetap berdasarkan fakta, bukan asumsi pola yang umum:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)3
Nau' 41 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.