Al-Mushahhaf: Ketika Salah Baca Satu Huruf Mengubah Total Makna Sebuah Hadits

Nau' 35 dalam Tadrib ar-Rawi membahas ma'rifatul-mushahhaf - ilmu mengenali kesalahan baca atau salah dengar yang mengubah bunyi sebuah kata dalam hadits, lengkap dengan sejumlah contoh yang sebagiannya cukup menghibur.

Definisi dan Ragam Tashif

As-Suyuthi menjelaskan, ini cabang ilmu yang mulia dan penting, namun hanya benar-benar dikuasai para huffazh ulung - Ad-Daraquthni salah satunya, bahkan menyusun karya khusus yang bermanfaat di bidang ini (begitu pula Abu Ahmad Al-'Askari). Ahmad bin Hanbal sendiri pernah berkata, "Siapa yang bebas sepenuhnya dari kesalahan dan tashif?" As-Suyuthi merinci tashif menjadi beberapa jenis: tashif lafal (lawannya tashif makna) dan tashif penglihatan/bashar (lawannya tashif pendengaran/sam'), masing-masing bisa terjadi pada sanad maupun matan.1

Tashif pada Sanad: Nama yang Salah Dibaca

As-Suyuthi mencontohkan nama Al-'Awwam bin Murajim (dengan huruf ra dan jim) yang salah dibaca Ibnu Ma'in menjadi "Muzahim" (dengan huruf za dan ha) - kemiripan bentuk huruf Arab tanpa titik membuat keduanya mudah tertukar. Contoh lain: 'Utbah ibn An-Nuddar, salah dibaca Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan huruf yang berbeda sama sekali.

Tashif pada Matan: Ketika Makna Berubah Total

As-Suyuthi mencontohkan hadits Zaid bin Tsabit, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ihtajara di masjid" (huruf ra) - maksudnya membuat sekat/bilik kecil dari tikar untuk shalat di sana - namun Ibnu Lahi'ah salah membacanya menjadi "ihtajama" (huruf mim, berarti "berbekam") - kesalahan satu huruf yang mengubah total maknanya. Contoh lain yang lebih terkenal: hadits "barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan ENAM hari (sittan) di bulan Syawal" - Ash-Shuli salah membacanya menjadi "sesuatu (syai'an)" karena kemiripan bentuk hurufnya. Hadits Abu Dzarr, "bantulah seorang pengrajin (tu'inu shani'an)," salah dibaca Hisyam bin 'Urwah dengan kata lain akibat kemiripan huruf. Hadits riwayat Mu'awiyah, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat orang-orang yang memecah-mecah khutbah (yusyaqqiquna)," salah dibaca Waki' (dan juga Ibnu Syahin) dengan huruf yang berbeda - As-Suyuthi mencatat kisah lucu: seorang pelaut yang mendengar versi salah baca itu, spontan berkomentar dengan nada heran, "Bagaimana bisa begitu, wahai kaum, padahal kebutuhan sedang mendesak?" - menunjukkan betapa janggalnya bunyi hasil salah baca itu bila didengar orang awam sekalipun.2

Tashif Pendengaran dan Tashif Makna

As-Suyuthi juga membedakan tashif akibat salah dengar (bukan salah baca) - misalnya sebuah hadits dari 'Ashim Al-Ahwal yang oleh sebagian perawi keliru disebut sebagai hadits dari "Washil Al-Ahdab," akibat kemiripan bunyi saat didengar, bukan akibat kemiripan tulisan. Ia juga mencontohkan tashif pada tataran makna (bukan sekadar huruf): ucapan Muhammad bin Al-Mutsanna, "Kami adalah kaum yang punya kemuliaan - kami dari suku 'Anazah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat menghadap kami (shalla ilaina)" - klaim ini keliru memahami sebuah riwayat yang sebenarnya berbicara soal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat menghadap sebuah tongkat pendek ('anazah, sejenis sutrah/pembatas shalat) - bukan menghadap suku bernama sama.3

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Membongkar kesalahan baca dan dengar sekecil apa pun - yang bisa mengubah total makna sebuah hadits - adalah wujud nyata kehati-hatian menyeluruh menjaga kata-kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersampaikan persis seperti aslinya, tanpa kekeliruan huruf demi huruf:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)4

Nau' 35 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 648.

  2. Ibid., hlm. 648-649.

  3. Ibid., hlm. 649.

  4. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email