Adh-Dha'if: Definisi Hadits Dha'if dan Sanad-Sanad Paling Lemah Menurut As-Suyuthi

Seni langit-langit kubah Islami, ilustrasi untuk artikel "Adh-Dha'if: Definisi Hadits Dha'if dan Sanad-Sanad Paling Lemah Menurut As-Suyuthi"

Nau' 3 dalam Tadrib ar-Rawi membahas hadits dha'if - kategori payung yang menaungi hadits-hadits yang tidak lolos syarat shahih maupun hasan. As-Suyuthi mengiringi pembahasannya dengan sejumlah istilah sinonim yang sering dipakai ulama untuk menyebut hadits yang layak diamalkan, sebelum menutup nau' ini dengan sebuah catatan yang tidak biasa: daftar sanad-sanad paling lemah yang pernah dikenal, per wilayah dan per sahabat.

Definisi Hadits Dha'if

As-Suyuthi merumuskan hadits dha'if secara ringkas: hadits yang tidak menghimpun sifat hadits shahih maupun hasan. Rumusan ini sengaja digabungkan dari kedua sifat (mengikuti Ibn ash-Shalah), meski ada pendapat yang menilai cukup menyebut "tidak menghimpun sifat hasan" saja sudah memadai - sebab hadits yang gagal memenuhi syarat hasan otomatis lebih jauh lagi dari syarat shahih; karena alasan itu pula, kata As-Suyuthi, Ibnu Daqiq al-'Id tidak menyebutkan definisi ini sama sekali dalam karyanya. As-Suyuthi menambahkan, derajat kelemahan hadits dha'if itu sendiri bertingkat-tingkat, sama seperti derajat keshahihan pada hadits shahih - ada yang lemahnya ringan, ada pula yang sangat lemah (awha).1

Istilah-Istilah Lain untuk Hadits yang Layak Dipakai

As-Suyuthi mendaftar sejumlah istilah yang sering dipakai ulama hadits selain "shahih" dan "hasan" itu sendiri, dan menjelaskan cakupan masing-masing. Jayyid (baik) dan qawi (kuat) pada dasarnya semakna dengan shahih, meski seorang kritikus ulung biasanya hanya berpindah dari kata "shahih" ke "jayyid" karena ada pertimbangan khusus - misalnya ketika sebuah hadits sudah naik dari derajat hasan li dzatihi namun ia masih ragu apakah benar-benar mencapai derajat shahih, sehingga penyebutan "jayyid" jatuh pada tingkat yang sedikit di bawah "shahih." Shalih (layak dipakai) mencakup baik hadits shahih maupun hasan sekaligus - karena keduanya sama-sama layak dijadikan hujjah - dan istilah ini juga kadang dipakai untuk hadits dha'if yang masih layak dijadikan i'tibar (lihat nau' 15 kitab ini). Sementara ma'ruf adalah lawan dari munkar (nau' 14), dan mahfuzh adalah lawan dari syadz (nau' 13); mujawwad dan tsabit juga mencakup makna shahih. As-Suyuthi menambahkan satu istilah lagi dari dirinya sendiri: musyabbah, yang dipakai untuk hadits hasan dan yang mendekatinya - kedudukannya terhadap hasan sama seperti kedudukan jayyid terhadap shahih. Ia menukil catatan Abu Hatim tentang seorang perawi, 'Amr bin Hushain Al-Kilabi, yang mula-mula mengeluarkan hadits-hadits musyabbah yang baik, namun kemudian mengeluarkan pula hadits-hadits maudhu' (palsu) sehingga merusak reputasi apa yang sudah ditulis darinya.2

Sanad-Sanad Paling Lemah yang Pernah Dikenal

Sebagai penutup nau' ini, As-Suyuthi menukil catatan Al-Hakim tentang sanad-sanad paling lemah (awha al-asanid) yang dikenal ulama, disusun per sahabat dan per wilayah - semacam kebalikan dari daftar "asahhul asanid" (sanad paling shahih) yang sudah dibahas di nau' sebelumnya. Di antaranya: sanad paling lemah dari jalur Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah jalur Shadaqah Ad-Daqiqi dari Farqad As-Sabakhi dari Murrah Ath-Thayyib; sanad paling lemah dari jalur Ahlul Bait adalah jalur 'Amr bin Syimr dari Jabir Al-Ju'fi dari Al-Harits Al-A'war dari 'Ali; dan seterusnya, dengan daftar serupa disusun untuk jalur-jalur dari Abu Hurairah, 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, Anas bin Malik, dan penduduk Makkah, Yaman, Mesir, Syam, serta Khurasan.

Salah satu yang paling terkenal adalah sanad paling lemah dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma secara mutlak: jalur As-Suddi Ash-Shaghir, Muhammad bin Marwan, dari Al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu 'Abbas - yang oleh Syaikhul Islam (Ibnu Hajar) disebut dengan sindiran tajam: "Ini silsilatul-kadzib (rangkaian kedustaan), bukan silsilatudz-dzahab (rangkaian emas)" - sebuah plesetan dari julukan "sanad emas" yang biasa disematkan pada jalur-jalur paling shahih seperti Malik dari Nafi' dari Ibnu 'Umar.3

Kenapa Kehati-Hatian Ini Wajib

Menandai dengan jelas mana sanad yang kokoh dan mana yang paling rapuh - sampai-sampai disusun daftar "sanad paling lemah" per wilayah dan per sahabat seperti di atas - adalah wujud nyata dari kehati-hatian yang diperintahkan terhadap siapa pun yang menyandarkan sesuatu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)4

Pembahasan lebih lengkap soal ragam jenis hadits dha'if bisa dibaca di Mengenal Jenis-Jenis Hadits Dha'if. Nau' 3 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pembahasan sanad paling shahih ada di Ash-Shahih.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 195.

  2. Ibid., hlm. 195-196.

  3. Ibid., hlm. 197-198.

  4. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email