Nau' 28 dalam Tadrib ar-Rawi membahas adabu thalibil-hadits - adab yang layak dimiliki seorang penuntut ilmu hadits, dari niat sampai kapan ia layak mulai menyusun karya sendiri.
Kewajiban Meluruskan Niat
As-Suyuthi menegaskan: seorang penuntut ilmu hadits wajib meluruskan niatnya dan ikhlas karena Allah semata dalam mencarinya, waspada agar tidak menjadikannya sarana meraih tujuan duniawi, memohon taufik dan kemudahan kepada Allah, serta membiasakan akhlak dan adab yang baik. Ia menukil hadits riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya dicari untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk meraih sesuatu dari dunia, ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat." Hammad bin Salamah berkata, "Siapa yang mencari hadits bukan karena Allah, ia akan tertipu olehnya." Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Aku tidak tahu amalan yang lebih utama daripada mencari hadits, bagi siapa yang menghendaki Allah."1
Mulai dari Guru Terbaik, Lalu Mengembara
As-Suyuthi menganjurkan seorang penuntut ilmu memulai dengan mendengar dari guru paling unggul di kotanya sendiri - baik dari sisi sanad, keilmuan, kemasyhuran, maupun agamanya - baru setelah menyelesaikan apa yang penting darinya, ia mengembara (rihlah) mengikuti kebiasaan para huffazh terkemuka. Ia mengingatkan agar ketamakan tidak membuatnya ceroboh dalam proses tahammul sehingga melalaikan syarat-syaratnya. Ia juga menganjurkan mengamalkan hadits-hadits tentang ibadah dan adab yang ia dengar - itulah "zakat hadits" sekaligus sebab ia lebih mudah diingat.2
Menghormati Guru
As-Suyuthi menekankan pentingnya memuliakan guru dan siapa pun yang darinya seseorang belajar - itu bagian dari mengagungkan ilmu itu sendiri dan sebab utama bisa mengambil manfaat darinya. Ia menukil Al-Mughirah, "Kami dulu menyegani Ibrahim (An-Nakha'i) seperti kami menyegani penguasa"; dan Al-Bukhari, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menghormati para ahli hadits dibanding Yahya bin Ma'in." Ia juga menukil hadits 'Ubadah bin Ash-Shamit secara marfu': "Bukan termasuk golongan kami siapa yang tidak memuliakan yang lebih tua di antara kami, menyayangi yang lebih muda, dan mengenal hak orang berilmu di antara kami" (HR. Ahmad). Ibnu 'Abbas sendiri memberi teladan kerendahan hati: meski ia sepupu dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia tetap mendatangi rumah-rumah kaum Anshar untuk belajar, bahkan rela menunggu di depan pintu mereka sampai istirahat siang - padahal seandainya ia mau, ia bisa saja langsung diizinkan masuk karena kedekatan nasabnya dengan Rasulullah - namun ia lebih memilih menjaga perasaan baik gurunya.3
Jangan Berhenti pada Mendengar dan Menulis Saja
As-Suyuthi menegaskan: seorang penuntut ilmu tidak boleh berhenti sekadar mendengar dan menulis hadits, tanpa benar-benar memahami dan mengenalnya - ia mengutip Abu 'Ashim An-Nabil, "Kepemimpinan dalam ilmu hadits tanpa dirayah (pemahaman mendalam) adalah kepemimpinan yang hina." Ia perlu mengenali keshahihan-kedhaifan, fiqih kandungannya, makna, kaidah bahasa, dan nama-nama perawinya secara mendalam, dengan urutan prioritas bacaan: Shahihain lebih dulu, lalu Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, kemudian As-Sunan al-Kubra karya Al-Baihaqi (As-Suyuthi menegaskan belum ada karya sebanding dengannya di bidangnya), lalu kitab-kitab lain sesuai kebutuhan seperti Musnad Ahmad, kitab-kitab 'ilal (termasuk karya Ad-Daraquthni), kitab-kitab sejarah rijal seperti Tarikh Al-Bukhari, karya Ibnu Abi Khaitsamah, dan Ibnu Abi Hatim, kitab penjernihan nama-nama serupa karya Ibnu Makula, serta kitab-kitab gharibul-hadits beserta syarahnya.4
Mudzakarah: Mendiskusikan Hafalan Bersama
As-Suyuthi menganjurkan mudzakarah - mendiskusikan kembali hadits yang sudah dihafal bersama sesama penuntut ilmu - dengan menukil kata-kata para salaf yang menggambarkan betapa pentingnya kebiasaan ini. 'Ali bin Abi Thalib berkata, "Saling mudzakarahlah hadits ini, kalau tidak, ia akan pudar." Ibnu Mas'ud berkata, "Saling mudzakarahlah hadits, karena hidupnya ada pada mudzakarah itu." Ibnu 'Abbas berkata, "Mudzakarah ilmu sesaat lebih baik daripada menghidupkan satu malam (dengan ibadah)." Abu Sa'id Al-Khudri berkata, "Mudzakarah hadits lebih utama daripada membaca Al-Qur'an." Az-Zuhri berkata, "Bencana ilmu adalah lupa dan sedikitnya mudzakarah" - keduanya dinukil Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal. As-Suyuthi juga menganjurkan menghafal secara bertahap, sedikit demi sedikit - sejalan dengan hadits shahih, "ambillah amalan sesuai kemampuan kalian," dan ucapan Az-Zuhri, "siapa yang mencari ilmu sekaligus banyak, ia akan kehilangan banyak sekaligus - ilmu hanya bisa diraih setahap, satu-dua hadits saja."5
Menyusun Karya Setelah Benar-Benar Mumpuni
As-Suyuthi menganjurkan seorang penuntut ilmu untuk mulai bergiat dalam takhrij (menelusuri sumber hadits) dan tashnif (menyusun karya) begitu ia benar-benar mumpuni - dengan menegaskan, jarang ada yang benar-benar mahir dalam ilmu hadits tanpa melewati proses ini. Ia merinci dua metode utama penyusunan kitab hadits di kalangan ulama: yang paling baik adalah penyusunan berdasarkan bab-bab tema (fiqih), memuat setiap hadits yang relevan dalam babnya masing-masing; metode kedua adalah penyusunan berdasarkan musnad - mengumpulkan seluruh riwayat (baik shahih maupun dhaif) dari setiap sahabat di bawah namanya masing-masing, tersusun berdasarkan huruf abjad, suku, kedekatan nasab dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, atau urutan keutamaan masuk Islam (mulai dari sepuluh sahabat yang dijamin surga, ahli Badr, ahli Hudaibiyah, para muhajirin di antara keduanya sampai Fathu Makkah, sahabat-sahabat muda, lalu para wanita, dimulai dari Ummahatul-Mu'minin). Bentuk terbaik menggabungkan penyusunan ini dengan ta'lil - menghimpun seluruh jalur dan perbedaan riwayat setiap hadits sekaligus dalam satu tempat. Sebagian ulama juga menyusun berdasarkan musnad tiap-tiap guru secara terpisah (seperti Musnad Malik, Musnad Sufyan), berdasarkan rangkaian sanad tertentu (tarajim, seperti "Malik dari Nafi' dari Ibnu 'Umar"), atau berdasarkan bab-bab tema tertentu (seperti bab melihat Allah, atau bab mengangkat tangan dalam shalat).
As-Suyuthi mengingatkan: jangan menerbitkan sebuah karya sebelum benar-benar merapikan, menyunting, dan menelaahnya berulang kali; jangan pula menyusun karya di bidang yang belum benar-benar dikuasai; dan hendaklah memilih ungkapan yang jelas serta istilah yang sudah baku dipakai.6
Kenapa Adab Ini Penting
Seluruh tahapan ini - dari niat yang lurus, penghormatan kepada guru, sampai kesiapan menyusun karya sendiri - adalah jalan yang harus ditempuh seorang penuntut ilmu sebelum ia layak menjadi penjaga sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bagi generasi sesudahnya:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)7
Nau' 28 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Adab dari sisi guru dibahas di Adabul-Muhaddits.
Catatan & Referensi