Nau' 27 dalam Tadrib ar-Rawi membahas adabul-muhaddits - adab yang layak dimiliki seorang pengajar hadits, mulai dari kemuliaan ilmu ini sendiri sampai tata cara menggelar majelis pengajaran dan dikte hadits.
Kemuliaan Ilmu Hadits
As-Suyuthi membuka dengan menegaskan kemuliaan ilmu hadits - ilmu inilah jalan penghubung kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menyelidiki keabsahan ucapan dan perbuatan beliau, sekaligus membela beliau dari disandarkannya sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan. Ilmu ini selaras dengan akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji, dan tergolong murni ilmu akhirat - berbeda dari kebanyakan ilmu lainnya. As-Suyuthi menukil ucapan Abul Hasan Syabbuyah: "Siapa yang ingin ilmu kubur (akhirat), hendaklah berpegang pada atsar; siapa yang ingin ilmu roti (dunia), hendaklah berpegang pada ra'yu (pendapat semata)." Siapa yang terhalang darinya, terhalang dari kebaikan besar; siapa yang dikaruniai, meraih keutamaan yang melimpah - cukuplah baginya termasuk dalam doa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku lalu menjaganya (dengan baik)."1
Usia Mengajar dan Kapan Harus Berhenti
As-Suyuthi menegaskan, pendapat yang shahih: seseorang boleh mulai mengajarkan hadits pada usia berapa pun, kapan saja ilmunya memang dibutuhkan orang. Namun ia sebaiknya menahan diri dari mengajar bila khawatir mengalami kekacauan pikiran akibat usia sangat tua, pikun, atau kebutaan - meski ini berbeda-beda tergantung orangnya. Ibnu Khallad menandai usia delapan puluh sebagai patokan kasar, dengan catatan tasbih, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an lebih utama baginya di usia itu - namun bila pikirannya masih kokoh dan pendapatnya masih terarah, tidak masalah tetap mengajar. As-Suyuthi mencontohkan banyak sahabat dan ulama yang terus mengajar jauh melewati usia itu dengan pikiran tetap jernih: Anas bin Malik, Sahl bin Sa'd, 'Abdullah bin Abi Aufa dan yang lain dari kalangan sahabat; Syuraih Al-Qadhi, Mujahid, Asy-Sya'bi dari kalangan tabi'in; Malik, Al-Laits, dan Ibnu 'Uyainah dari generasi sesudahnya. Malik sendiri berkata, "Yang pikun hanyalah para pendusta." As-Suyuthi bahkan mencatat beberapa yang tetap mengajar setelah usia seratus tahun: Hakim bin Hizam dari sahabat, Syarik An-Namari dari tabi'in, dan dari generasi berikutnya Al-Hasan bin 'Arafah, Abul Qasim Al-Baghawi, Qadhi Abuth-Thayyib Ath-Thabari, dan As-Silafi.2
Tidak Mengajar di Hadapan yang Lebih Berhak
As-Suyuthi menegaskan: sebaiknya seseorang tidak mengajarkan hadits di hadapan orang yang lebih berhak darinya, baik karena usia, keilmuan, atau alasan lain (misalnya sanadnya lebih tinggi, atau sama'-nya bersambung sementara jalur si pengajar hanya lewat ijazah) - bahkan sebagian ulama memakruhkan mengajar di sebuah negeri yang di dalamnya ada orang yang lebih berhak. Bila diminta menyampaikan sesuatu yang lebih dikuasai orang lain yang lebih unggul, sebaiknya ia mengarahkan peminta itu kepadanya - karena agama adalah nasihat. Namun ia tidak perlu menahan diri mengajar seseorang hanya karena menduga niat orang itu kurang lurus, sebab selalu ada harapan niatnya membaik - dan hendaklah ia bersemangat menyebarkan ilmunya demi mengharap pahala yang melimpah.3
Adab Menghadiri Majelis Pengajaran
As-Suyuthi merinci adab yang dianjurkan saat hendak menghadiri majelis mengajar hadits: bersuci (mandi/wudhu), memakai wewangian, membakar dupa, bersiwak, merapikan jenggot, lalu duduk di depan majelis dengan tenang dan berwibawa. Bila ada yang mengeraskan suara, ia menegurnya; ia menghadap seluruh hadirin, membuka dan menutup majelisnya dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam serta doa yang sesuai keadaan, setelah seorang pembaca bersuara merdu membacakan sebagian Al-Qur'an; dan ia tidak boleh menyampaikan hadits terlalu cepat sampai menghalangi pemahaman sebagiannya. As-Suyuthi menukil riwayat Al-Bukhari dari 'Urwah: Abu Hurairah duduk di samping kamar 'Aisyah yang sedang shalat, lalu ia bercerita hadits; setelah selesai shalat, 'Aisyah berkata, "Tidakkah kau heran padanya?" - sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri biasa berbicara dengan tempo yang bisa dihitung seandainya seseorang menghitungnya. Dalam riwayat Muslim: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah bertutur cepat seperti tutur cepat kalian." Dalam riwayat Al-Baihaqi setelahnya: "Tuturnya jelas terpisah-pisah, dipahami oleh hati."
As-Suyuthi menukil pula sejumlah hadits soal keutamaan menyebarkan ilmu: "sampaikanlah dariku - agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir" (Shahihain); "barangsiapa menyampaikan kepada umatku satu hadits yang dengannya ia menegakkan sebuah sunnah atau menolak sebuah bid'ah, baginya surga" (riwayat Al-Hakim dalam Al-Arba'in); dan riwayat Al-Baihaqi dari Abu Dzar: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami agar tidak kalah dalam tiga hal: memerintahkan yang makruf, mencegah yang mungkar, dan mengajarkan sunnah-sunnah kepada manusia."4
Adab Menggelar Majelis Imla' (Dikte Hadits)
As-Suyuthi menganjurkan seorang ahli hadits yang mumpuni untuk menggelar majelis imla' (mendiktekan hadits agar dicatat murid-muridnya) - inilah tingkatan riwayat paling tinggi, dan sama' lewat cara ini adalah bentuk tahammul paling baik dan paling kuat. Ia menukil kisah indah: Abul Khaththab Ma'ruf Al-Khayyath berkata, "Aku melihat Watsilah bin Al-Asqa' radhiyallahu ta'ala 'anhu mendiktekan hadits-hadits kepada orang banyak, dan mereka menulisnya di hadapannya." Bila jamaah yang hadir sangat banyak, sang muhaddits mengambil seorang mustamli (juru sampai) yang cerdas dan sigap untuk meneruskan suaranya - sebagaimana kebiasaan Malik, Syu'bah, Waki', dan banyak lagi. Sesi dibuka dengan bacaan Al-Qur'an oleh pembaca bersuara merdu, lalu basmalah, hamdalah, dan shalawat; mustamli meminta hadirin diam, lalu bertanya kepada sang muhaddits, "Apa/siapa yang kau sebutkan, semoga Allah merahmatimu?" - dan setiap kali nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam disebut, keduanya bershalawat; setiap kali nama sahabat disebut, diucapkan "radhiyallahu 'anhu" (atau "'anhuma" bila ia putra seorang sahabat lain). Dianjurkan pula memuji gurunya sendiri secara pantas saat meriwayatkan darinya, sebagaimana dilakukan banyak kalangan salaf, dan lebih mengutamakan mendoakannya - itu yang lebih penting.
As-Suyuthi menganjurkan seorang muhaddits menghimpun sejumlah gurunya dalam satu sesi imla', mendahulukan yang paling utama, meriwayatkan satu hadits dari masing-masing, memilih hadits bersanad tinggi namun matannya ringkas dan bermanfaat, menjelaskan keshahihannya serta keistimewaan sanadnya, dan menghindari materi yang tidak terjangkau akal atau pemahaman hadirin. Sesi ditutup dengan kisah-kisah, cerita-cerita menarik, dan syair - lengkap dengan sanadnya masing-masing - diutamakan yang bertema zuhud, adab, dan akhlak mulia. Bila sang muhaddits sendiri kurang mampu atau sibuk mengurus takhrij materi imla'-nya, ia bisa dibantu seorang hafizh; dan setelah sesi imla' selesai, hendaklah dikoreksi dan disempurnakan.5
Kenapa Adab Ini Penting
Kemuliaan ilmu hadits menuntut kemuliaan cara menyampaikannya - dari niat yang lurus sampai tata cara duduk dan berbicara di hadapan murid, semuanya adalah wujud penghormatan kepada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang disampaikan:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)6
Nau' 27 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Adab dari sisi murid dibahas di Adabu Thalibil-Hadits.
Catatan & Referensi