Al-Mudraj: Ketika Ucapan Perawi Tercampur dan Dikira Sabda Nabi

Nau' 20 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-mudraj - sisipan yang tercampur ke dalam sebuah hadits, baik pada matan maupun sanadnya, sehingga bisa keliru dikira sebagai bagian asli dari riwayat itu. As-Suyuthi merinci enam pola (tiga di matan, tiga di sanad), meski hanya sebagian yang benar-benar ia bahas satu per satu di kitab ini.

Mudraj al-Matn Jenis Pertama: Sisipan Setelah Hadits

As-Suyuthi menjelaskan jenis pertama mudraj matn: seorang perawi menambahkan ucapannya sendiri atau ucapan orang lain persis setelah sebuah hadits, tanpa jeda pemisah, sehingga perawi-perawi sesudahnya keliru mengira tambahan itu bagian dari hadits itu sendiri. Contohnya hadits Abu Hurairah yang memuat kalimat "seandainya bukan karena jihad di jalan Allah, haji, dan berbakti kepada ibuku, niscaya aku ingin mati dalam keadaan sebagai budak" - As-Suyuthi menegaskan, kalimat "wal-ladzi nafsi biyadihi..." dan seterusnya sebenarnya ucapan Abu Hurairah sendiri, bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - karena mustahil Nabi mengharapkan status budak untuk dirinya, dan ibunda Abu Hurairah sendiri belum ada (belum masuk Islam) pada masa itu untuk bisa ia berbakti kepadanya dalam konteks tersebut.

As-Suyuthi mencontohkan lagi hadits riwayat Al-Khathib dari Abu Qathan dan Syababah, dari Syu'bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah: "sempurnakanlah wudhu, celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh) dari api neraka." Kalimat "asbighul-wudhu" (sempurnakanlah wudhu) ternyata sisipan dari ucapan Abu Hurairah sendiri, bukan bagian sabda Nabi - terbukti dari riwayat Al-Bukhari sendiri lewat jalur Adam dari Syu'bah dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah, yang memisahkan keduanya dengan jelas: "sempurnakanlah wudhu, karena Abul Qasim (Nabi) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'celakalah tumit-tumit dari api neraka.'"1

Sisipan Berupa Penjelasan/Tafsir Perawi

As-Suyuthi mencontohkan lagi hadits Fadhalah, "aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi (orang yang berjuang membawa beban orang lain)..." - kalimat penjelas "az-za'im: al-hamil" (penjamin artinya yang menanggung) ternyata sisipan tafsir dari Ibnu Wahb, bukan bagian sabda Nabi. As-Suyuthi menegaskan, contoh semacam ini sangat banyak ditemukan. Ia juga menukil peringatan penting dari Ibnu Daqiq al-'Id: metode untuk memutuskan apakah sebuah sisipan berada di AWAL atau di TENGAH sebuah hadits jauh lebih lemah kepastiannya dibanding sisipan di akhir - apalagi kalau sisipan itu mendahului redaksi hadits yang sebenarnya, atau disambung dengan huruf 'athaf (kata sambung "dan").2

Mudraj al-Isnad: Ketika Dua Matan Digabung dengan Satu Sanad

As-Suyuthi menjelaskan jenis kedua: seorang perawi punya dua matan berbeda dengan dua sanad berbeda, lalu ia meriwayatkan keduanya seolah hanya dengan satu sanad saja - atau meriwayatkan satu matan dengan sanadnya sendiri, namun menambahkan bagian dari matan lain yang sebenarnya tidak ada di situ - atau punya sebuah matan lengkap dengan satu sanad kecuali satu bagiannya yang sebenarnya berasal dari sanad lain, namun ia meriwayatkannya utuh seolah semuanya dari sanad pertama. Termasuk pula: mendengar sebuah hadits dari gurunya kecuali satu bagian yang sebenarnya ia dengar lewat perantara, namun ia meriwayatkannya utuh dengan menghilangkan perantara itu. As-Suyuthi mencontohkan hadits riwayat Sa'id bin Abi Maryam, dari Malik, dari Az-Zuhri, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling membelakangi, janganlah kalian saling bersaing (secara tidak sehat)..."

Jenis ketiga: seorang perawi mendengar sebuah hadits dari sekelompok guru yang berbeda-beda redaksi sanad atau matannya, lalu ia meriwayatkannya dari mereka semua seolah mereka sepakat, tanpa menjelaskan perbedaan yang sebenarnya ada - As-Suyuthi menegaskan, seluruh bentuk ini haram dilakukan. Al-Khathib bahkan menyusun sebuah kitab khusus membahas tema ini yang dinilai As-Suyuthi tuntas dan memadai. Contohnya hadits At-Tirmidzi dari Bundar, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Washil, Manshur, dan Al-A'masy, dari Abu Wa'il, dari 'Amr bin Syurahbil, dari 'Abdullah, "aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?'" - riwayat Washil di sini sebenarnya sisipan yang digabung dengan riwayat Manshur dan Al-A'masy, karena Washil sendiri sebetulnya tidak menyebut 'Amr dalam sanadnya, langsung dari Abu Wa'il ke 'Abdullah - sebagaimana diriwayatkan Syu'bah, Mahdi bin Maimun, Malik bin Mighwal, dan Sa'id bin Masruq dari Washil. Yahya bin Sa'id Al-Qaththan berhasil memisahkan kedua sanad ini dengan jelas dalam riwayatnya dari Sufyan, dan Al-Bukhari sendiri meriwayatkannya secara terpisah dalam Shahih-nya.3

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Memisahkan dengan cermat mana kata-kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang asli dan mana tambahan atau tafsir seorang perawi yang tercampur tanpa disengaja adalah wujud nyata kehati-hatian menyeluruh dalam menjaga keaslian setiap kata yang disandarkan kepada beliau:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)4

Nau' 20 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 314, 317.

  2. Ibid., hlm. 319.

  3. Ibid., hlm. 319, 321.

  4. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email