Nau' 18 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-mu'allal (juga disebut ma'lul) - salah satu cabang ilmu hadits paling rumit dan paling dihormati, karena hanya bisa dikuasai segelintir ulama dengan hafalan, pengalaman, dan ketajaman pemahaman luar biasa.
Istilah dan Definisi
As-Suyuthi mencatat catatan bahasa menarik: istilah "mu'allal" sebenarnya sedikit menyimpang secara kaidah bahasa (lahn) - bentuk isim maf'ul yang lebih tepat semestinya "mu'all," bukan "mu'allal" (yang sebenarnya bentuk maf'ul dari kata lain, "'allala," bermakna menyibukkan seseorang dengan sesuatu). Namun istilah "mu'allal" ini sudah dipakai oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ad-Daraquthni, dan ulama-ulama besar lainnya, sehingga tetap dipertahankan meski secara kaidah bahasa kurang tepat.
As-Suyuthi mendefinisikan 'illah sebagai sebab yang samar dan tersembunyi, yang mencederai keabsahan sebuah hadits, padahal secara zahir hadits itu tampak selamat darinya. Nau' ini termasuk cabang paling mulia dalam ilmu hadits, dan hanya bisa dikuasai orang-orang dengan hafalan kuat, pengalaman luas, dan pemahaman yang sangat tajam - karena itu, sepanjang sejarah, hanya segelintir ulama yang benar-benar berbicara tentangnya secara otoritatif: Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Ya'qub bin Syaibah, Abu Hatim, Abu Zur'ah, dan Ad-Daraquthni.1
Ilmu yang Sulit Dijelaskan Secara Analitis
As-Suyuthi menukil kisah menarik dari Ibnu Mahdi soal sifat ilmu ini: "Mengetahui 'illah hadits itu ilham - kalau engkau bertanya kepada seorang ahli 'ilal, 'Dari mana engkau tahu ini?', ia tidak akan punya dalil (analitis) untuk menjawabnya, dan betapa banyak orang yang tidak bisa memahami hal itu." Ketika ditanya lebih lanjut soal dasar penilaiannya terhadap sebuah hadits sebagai shahih atau tidak, Ibnu Mahdi menjawab dengan perumpamaan: seandainya seseorang membawa uang dirhamnya kepada seorang penukar uang yang ahli, lalu penukar itu berkata "ini bagus, ini palsu," apakah orang itu akan bertanya alasannya, atau menerima begitu saja penilaian sang ahli? Begitu pula penilaian 'illah - hasil dari pengalaman panjang bermajelis, berdiskusi, dan berlatih.
As-Suyuthi juga menukil kisah pembuktian yang lebih konkret: ketika Abu Zur'ah ditanya apa dasar (hujjah) penilaian 'illah mereka, ia menjawab: cobalah tanyakan kepadaku sebuah hadits yang punya 'illah, aku akan sebutkan 'illah-nya; lalu pergilah ke Ibnu Warah, tanyakan hal yang sama, ia akan menyebutkan 'illah-nya sendiri; lalu pergilah ke Abu Hatim, ia pun akan menjelaskan 'illah-nya - bandingkan ketiga penjelasan kami; jika kalian menemukan perbedaan, ketahuilah masing-masing kami berbicara sesuai maksudnya sendiri; namun jika kalian menemukan kesepakatan, ketahuilah itulah hakikat ilmu ini. Orang yang mencoba itu pun melakukannya, dan ternyata penjelasan ketiganya sepakat - ia lalu bersaksi bahwa ilmu ini benar-benar ilham.2
Jalan Menuju Pengetahuan 'Illah
As-Suyuthi menjelaskan, jalan mengetahui 'illah adalah mengumpulkan seluruh jalur (turuq) sebuah hadits, lalu memeriksa perbedaan antar-perawinya serta ketelitian dan penguasaan masing-masing. Ibnul Madini menegaskan: sebuah bab hadits, jika seluruh jalurnya tidak dikumpulkan, kekeliruannya tidak akan terlihat jelas. 'Illah paling sering menyebabkan pengguguran dengan cara irsal - yakni ketika perawi yang me-mursal-kan sebuah hadits ternyata lebih kuat (lebih dipercaya) dibanding perawi yang menyambungkannya. 'Illah paling sering muncul di sanad, namun bisa juga muncul pada matan; 'illah yang muncul di sanad kadang mencederai baik sanad maupun matan sekaligus (seperti pada kasus irsal dan mauquf), namun kadang hanya mencederai sanadnya saja sementara matannya sendiri sudah dikenal shahih dari jalur lain - misalnya hadits "al-bayyi'ani bil-khiyar" (penjual dan pembeli sama-sama punya hak khiyar) yang diriwayatkan Ya'la bin 'Ubaid dari Ats-Tsauri dari 'Amr bin Dinar - Ya'la keliru, karena sebenarnya jalurnya adalah dari 'Abdullah bin Dinar, bukan 'Amr bin Dinar.3
Pola-Pola Umum Sumber 'Illah
As-Suyuthi memberi beberapa contoh pola khas yang sering memicu 'illah. Salah satunya: riwayat penduduk satu wilayah dari penduduk wilayah lain yang rawan tergelincir - misalnya riwayat orang Madinah dari orang Kufah. Ad-Daraquthni mencontohkan hadits Musa bin 'Uqbah, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari ayahnya, secara marfu': "Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari" - Ad-Daraquthni menegaskan, sanad ini sekilas tampak memenuhi syarat shahih, namun orang Madinah memang rawan tergelincir saat meriwayatkan dari orang Kufah - hadits ini sebenarnya mahfuzh (terpelihara/akurat) lewat jalur Abu Burdah dari Al-Aghar Al-Muzani, bukan lewat jalur di atas.
Pola lain: sebuah riwayat yang sebenarnya dikenal dari seorang sahabat, namun secara keliru diriwayatkan dengan redaksi yang mengesankan seorang tabi'in mendengar langsung dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - Ad-Daraquthni mencontohkan hadits Zuhair bin Muhammad, dari 'Utsman bin Sulaiman, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib: hadits ini ma'lul, karena Abu 'Utsman (ayah 'Utsman) sebenarnya tidak pernah mendengar langsung dari Nabi dan tidak pernah melihat beliau - 'Utsman sendiri sebenarnya meriwayatkannya dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya - dan nama yang benar adalah 'Utsman bin Abi Sulaiman, bukan 'Utsman bin Sulaiman.
Pola ketiga: sebuah riwayat 'an'anah yang kehilangan satu perawi, terbukti lewat jalur lain yang lebih terpelihara. Ad-Daraquthni mencontohkan hadits Yunus, dari Ibnu Syihab (Az-Zuhri), dari 'Ali bin Al-Husain, dari seorang laki-laki Anshar, tentang bintang jatuh yang bersinar terang saat mereka bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suatu malam - 'illah-nya, kata Ad-Daraquthni, adalah Yunus - meski seorang perawi besar - memendekkan sanad ini; yang benar, riwayat ini dari Ibnu 'Abbas, "beberapa orang menceritakan kepadaku," sebagaimana diriwayatkan Ibnu 'Uyainah, Syu'aib, Shalih, Al-Auza'i, dan yang lain dari Az-Zuhri.4
Studi Kasus: Basmalah dalam Hadits Anas soal Bacaan Nabi
As-Suyuthi memberi satu contoh mendalam penelusuran 'illah yang melibatkan banyak jalur sekaligus: hadits Anas soal kebiasaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuka bacaan shalat. Ad-Daraquthni menegaskan riwayat yang mahfuzh (terpelihara) dari Qatadah dan yang lain dari Anas TIDAK menyebutkan basmalah; Al-Baihaqi menambahkan, mayoritas murid Qatadah - seperti Ayyub, Syu'bah, Ad-Dastuwa'i, Syaiban bin 'Abdurrahman, Sa'id bin Abi 'Arubah, dan Abu 'Awanah - meriwayatkannya dengan cara yang sama, dan itulah redaksi yang disepakati Shahihain. Ibnu 'Abdil Barr menegaskan para huffazh murid Qatadah ini tidak punya alasan untuk menggugurkan basmalah dari riwayat mereka. Riwayat serupa (tanpa basmalah) juga datang dari Tsabit Al-Bunani dan Ishaq bin 'Abdullah bin Abi Thalhah, keduanya juga dari Anas - bahkan Asy-Syafi'i sendiri meriwayatkannya secara eksplisit lewat sanad shahih riwayat Ad-Daraquthni, "mereka membuka bacaan dengan Ummul Qur'an (Al-Fatihah)."
As-Suyuthi mencatat, sebagian riwayat Humaid dari Anas sebenarnya didengarnya lewat perantara Qatadah dan Tsabit, bukan langsung dari Anas - didukung fakta Ibnu 'Adi menyebutkan Qatadah sebagai perantara di antara keduanya dalam hadits ini, sehingga jalur itu sebenarnya munqathi' dan kembali ke jalur yang sama. Adapun riwayat Al-Auza'i (yang menyebutkan basmalah), sebagian ulama meng-'illah-kannya karena perawi darinya - yakni Al-Walid - dikenal melakukan tadlis at-taswiyah (lihat nau' 12 kitab ini), meski ia sendiri menegaskan mendengar langsung dari gurunya. As-Suyuthi menutup dengan catatan penting dari Al-Hafizh Abul Fadhl Al-'Iraqi: klaim Ibnul Jauzi bahwa para imam sepakat atas keshahihan hadits (versi dengan basmalah) ini perlu ditinjau ulang - sebab Asy-Syafi'i, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan Ibnu 'Abdil Barr sendiri justru tidak berpendapat demikian, sehingga klaim kesepakatan itu tidak akurat.5
Pemakaian Istilah 'Illah di Luar Makna Teknisnya
As-Suyuthi menutup nau' ini dengan catatan penting: istilah 'illah kadang dipakai di luar makna teknis yang sudah dijelaskan di atas - misalnya untuk menyebut kedustaan perawi, kefasikannya, kelalaiannya, atau buruknya hafalannya, dan sebab-sebab kelemahan hadits lainnya secara umum (pemakaian longgar semacam ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab 'ilal). At-Tirmidzi bahkan menyebut naskh (pembatalan sebuah hukum oleh dalil yang datang belakangan) sebagai 'illah. Sebagian ulama juga memakai istilah 'illah untuk pertentangan yang sebenarnya tidak mencederai keabsahan hadits - seperti irsal yang menyelisihi penyambungan seorang perawi tsiqah yang dhabit - sampai-sampai ada ungkapan "sebagian hadits shahih itu mu'allal," sebagaimana ada pula ungkapan "sebagian hadits shahih itu syadz."6
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Kemampuan menyelami cacat tersembunyi yang tidak tampak di permukaan sebuah sanad adalah puncak dari kehati-hatian menyeluruh dalam ilmu hadits - sebuah keahlian langka yang menjaga umat dari terjebak oleh riwayat yang tampak baik di luar, namun rapuh di dalamnya:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)7
Nau' 18 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 294.
↩Ibid., hlm. 296.
↩Ibid., hlm. 296.
↩Ibid., hlm. 305.
↩Ibid., hlm. 299.
↩Ibid., hlm. 302.
↩HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.
↩