Al-Baiquniyyah Bab 6: 'Aziz, Masyhur, Mu'an'an, Mubham, 'Ali, Nazil

Tiga bait berikutnya - 12 sampai 14 - memperkenalkan enam istilah sekaligus, semuanya berkutat pada dua hal: berapa banyak jalur sebuah hadits diriwayatkan, dan bagaimana cara perawi menyebutkan sumber riwayatnya. Padat, tapi setiap istilahnya penting untuk dikuasai sebelum melangkah ke bait-bait yang lebih rumit.

Pertama: Hadits 'Aziz dan Masyhur

عَزِيزٌ مَرْوِي اثْنَينِ أَوْ ثَلاَثَهْ مَشْهُورٌ مَرْوِي فَوْقَ مَا ثَلاَثَهْ

'Aziizun marwiy itsnaini au tsalaatsah, masyhuurun marwiy fauqa maa tsalaatsah

"Hadits 'aziz adalah yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang (perawi pada satu tingkatan sanad), sedangkan masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga orang."

Bait ini menempatkan 'aziz dan masyhur sebagai dua dari tiga sub-kategori hadits ahad (hadits yang tidak mencapai jumlah jalur hadits mutawatir) - sub-kategori ketiganya adalah gharib, yang akan dibahas di bab 7. Pembahasan lebih menyeluruh soal kenapa pembagian mutawatir-ahad ini penting, dan bagaimana masyhur/'aziz/gharib saling melengkapi, bisa dibaca di artikel hadits mutawatir vs ahad.

Kedua: Hadits Mu'an'an dan Mubham

مُعَنْعَنٌ كَعَنْ سَعِيدٍ عَنْ كَرَمْ وَمُبْهَمٌ مَا فيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمّْ

Mu'an'anun ka'an Sa'iidin 'an Karam, wa mubhamun maa fiihi raawin lam yusamm

"Mu'an'an contohnya seperti (lafal periwayatan), 'Dari Sa'id, dari Karam...' sedangkan mubham adalah hadits yang di dalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya."

Mu'an'an menunjuk pada cara penyampaian riwayat yang memakai kata "'an" (dari) - misalnya "dari fulan, dari fulan" - tanpa menyebut kata yang lebih tegas seperti "saya mendengar" atau "ia menceritakan kepadaku". Lafal ini pada dasarnya dianggap menunjukkan proses mendengar langsung selama perawinya bukan mudallas (lihat bab 8) dan diketahui benar-benar pernah bertemu gurunya.1

Mubham berarti "samar" - istilah untuk hadits yang salah satu perawinya tidak disebutkan namanya secara jelas, misalnya hanya disebut "dari seseorang" atau "dari salah seorang sahabat". Kesamaran ini membuat penilaian kredibilitas perawi itu (apakah ia tsiqah atau tidak) menjadi sulit dipastikan, sehingga hadits mubham umumnya butuh jalur lain untuk mengonfirmasi identitas perawi yang disamarkan itu.

Ketiga: Sanad 'Ali dan Nazil

وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ وَضِدُهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَزَلاَ

Wa kullu maa qallat rijaaluhu 'alaa, wa dhidduhu dzaalikal ladzii qad nazalaa

"Setiap (sanad) yang jumlah perawinya sedikit (lebih pendek) disebut 'ali (tinggi), dan kebalikannya - yang lebih panjang - disebut nazil (rendah)."

Istilah 'ali (tinggi) dan nazil (rendah) sama sekali tidak menilai kekuatan atau kelemahan sebuah hadits - keduanya murni soal jarak, seberapa sedikit "mata rantai" yang memisahkan seorang perawi tertentu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Semakin sedikit jumlah perawi dalam sebuah sanad (semakin pendek), semakin "'ali" (tinggi) kedudukannya - karena semakin sedikit pula kemungkinan kesalahan atau kelemahan menyusup di sepanjang jalur itu.

Karena itulah para muhaddits klasik rela menempuh perjalanan (rihlah) sangat jauh, kadang bertahun-tahun, hanya untuk mendapatkan sanad 'ali - sanad yang lebih pendek dan lebih dekat ke sumbernya. Kisah nyata perjalanan semacam ini bisa dibaca di artikel rihlah mengembara demi satu hadits.

Baca lebih lengkap soal istilah ini di Hadits Mutawatir vs Ahad.

Catatan & Referensi

  1. Penilaian bahwa mu'an'an menunjukkan proses mendengar langsung (kecuali pada perawi mudallas) adalah pandangan mayoritas ulama hadits (jumhur), sebagaimana dijelaskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya - berbeda dengan pandangan sebagian ulama yang lebih ketat dan mensyaratkan kepastian pertemuan (liqa') secara eksplisit.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email