Setelah bab sebelumnya membahas keutuhan sanad (musnad dan muttasil), Al-Baiquniyyah lanjut ke satu istilah yang unik: musalsal. Kalau istilah-istilah lain umumnya menilai kekuatan atau kelemahan sebuah riwayat, musalsal justru menyoroti sesuatu yang lebih ke bentuk penyampaian - kesamaan cara atau kondisi setiap perawi saat menyampaikan hadits itu.
Pertama: Definisi Hadits Musalsal
مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى مِثْلُ أَمَا وَاللهِ أَنْبَانِي الْفَتَى
Musalsalun qul maa 'alaa washfin ataa, mitslu amaa wallaahi anbaanil fataa
"Katakanlah, musalsal adalah hadits yang datang dengan (kesamaan) sifat/kondisi tertentu (pada setiap perawinya) - seperti (setiap perawi berkata), 'Demi Allah, pemuda itu mengabarkan kepadaku...'"
Kata musalsal sendiri berasal dari akar kata "silsilah" (rangkaian/rantai) - dan itu memang menggambarkan tepat apa yang terjadi: setiap perawi dalam sanad, satu demi satu, sepakat menyampaikan riwayat itu dengan cara atau ungkapan yang sama, membentuk "rantai kesamaan" di sepanjang sanad. Dalam contoh pada bait ini, kesamaannya ada pada lafal sumpah - setiap perawi memakai kata "demi Allah" saat menyampaikan riwayat dari gurunya.
Kedua: Dua Contoh Lagi dari Bait Kesebelas
كَذَاكَ قَدْ حَدَّثَنِيهِ قَائِما أوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِي تَبَسَّما
Kadzaaka qad haddatsaniihi qaaiman, au ba'da an haddatsanii tabassama
"Begitu pula (dikatakan setiap perawi), 'Ia menceritakannya kepadaku sambil berdiri,' atau 'Setelah menceritakannya kepadaku, ia tersenyum.'"
Dua contoh tambahan ini menunjukkan bahwa kesamaan yang dimaksud musalsal tidak harus berupa lafal sumpah - bisa juga berupa kondisi fisik saat periwayatan berlangsung. Kalau setiap perawi dalam sanad sepakat mencatat bahwa gurunya menyampaikan riwayat itu "sambil berdiri", atau "sambil tersenyum", maka riwayat itu disebut musalsal bil-qiyam (musalsal karena berdiri) atau musalsal bit-tabassum (musalsal karena tersenyum).1
Perlu dicatat: kesamaan yang membentuk musalsal bisa terjadi pada sanad yang berkualitas apa pun - shahih, hasan, maupun dha'if. Musalsal bukan penilai kekuatan hadits, melainkan kategori tersendiri yang menyoroti bentuk transmisinya. Karena itu, sebuah hadits musalsal tetap perlu dinilai terpisah dengan lima syarat shahih/hasan yang sudah dibahas di bab 2 sebelum dianggap kuat.
Ketiga: Kenapa Musalsal Tetap Berharga Dipelajari
Meski bukan penanda kekuatan sanad, hadits musalsal punya nilai tersendiri dalam tradisi periwayatan: ia menjadi bukti nyata bahwa mata rantai sanad itu benar-benar hidup dan diwariskan lewat praktik nyata, bukan sekadar daftar nama di atas kertas. Setiap perawi yang meneruskan "kesamaan" itu - entah lafal sumpah, posisi berdiri, atau senyuman - menunjukkan bahwa ia benar-benar hadir dan menerima riwayat itu langsung dari gurunya, sampai ke generasi berikutnya.
Inilah sebagian dari makna praktis kenapa isnad dianggap "bagian dari agama" seperti yang sudah dibahas di bab pertama - bukan hanya soal menjaga keakuratan teks, tapi juga menjaga keberlangsungan sebuah tradisi periwayatan yang hidup, generasi demi generasi, sampai ke para pengajar bersanad hari ini.
Catatan & Referensi
Musalsal bil-qiyam (berdiri) dan musalsal bit-tabassum (tersenyum) adalah dua dari puluhan jenis musalsal yang tercatat dalam literatur musthalah hadits - sebagian ulama bahkan menghimpunnya dalam kitab tersendiri yang disebut Kitab al-Musalsalat, seperti karya As-Suyuthi.
↩