Al-Baiquniyyah Bab 3: Hadits Dha'if

Setelah membahas dua tingkatan hadits yang diterima - shahih dan hasan - di bab sebelumnya, bait keenam Al-Baiquniyyah membalik arah: memperkenalkan hadits yang tertolak. Uniknya, penyair hanya memberi satu bait untuk seluruh kategori ini - bukan karena sepele, justru karena cakupannya terlalu luas untuk dirangkum dalam satu-dua baris saja.

Pertama: Definisi Hadits Dha'if

وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُرْ فَهُوَ الضَّعِيفُ وَهْوَ أَقْسَامَاً كَثُرْ

Wa kullu maa 'an rutbatil husni qashur, fahuwadh-dha'iifu wa huwa aqsaaman katsur

"Dan setiap (hadits) yang kualitasnya di bawah derajat hasan, maka itulah hadits dha'if - dan ia terbagi menjadi banyak sekali jenis."

Definisi ini bersifat negatif: hadits dha'if bukan didefinisikan lewat ciri positif yang khas, melainkan lewat apa yang tidak ia miliki - salah satu (atau lebih) dari lima syarat hadits shahih/hasan yang sudah dibahas di bab sebelumnya (ittishal, 'adalah, dhabt, bebas syudzudz, bebas 'illat). Semakin banyak syarat yang tidak terpenuhi, atau semakin serius pelanggarannya, semakin lemah pula derajat hadits itu.1

Kedua: Kenapa Jenisnya "Sangat Banyak"

Kalimat penutup bait ini - "wa huwa aqsaaman katsur" (dan ia terbagi menjadi banyak sekali jenis) - bukan basa-basi penyair. Ulama musthalah hadits mencatat puluhan sub-kategori hadits dha'if, masing-masing dengan penyebab kelemahan yang berbeda. Al-Baiquniyyah sendiri akan merincinya satu per satu di bait-bait berikutnya, dikelompokkan berdasarkan penyebabnya:

  • Cacat pada sambungan sanad - seperti mursal, munqathi', mu'dhal, dan mudallas, yang akan dibahas di bab 7 dan bab 8.
  • Cacat pada kredibilitas atau kesepakatan perawi - seperti syadz, munkar, dan matruk, dibahas di bab 9 dan bab 11.
  • Cacat tersembunyi atau kekacauan riwayat - seperti mu'allal, mudhtharib, dan mudraj, dibahas di bab 10.
  • Riwayat yang direka-reka sepenuhnya - hadits maudhu' (palsu), tingkatan paling parah, dibahas di penutup bab 11.

Pembahasan lebih menyeluruh soal ragam hadits dha'if - termasuk kenapa hadits dha'if tidak otomatis berarti "bohong", dan kapan sebagian ulama masih membolehkannya untuk fadhailul a'mal (keutamaan amal) dengan syarat ketat - bisa dibaca di artikel jenis-jenis hadits dha'if.

Ketiga: Kenapa Ketelitian Ini Bukan Formalitas

Kehati-hatian yang begitu terperinci ini punya dasar yang kuat. Muhammad bin Sirin, salah satu ulama generasi tabi'in, mengingatkan bahwa sikap teliti terhadap sumber ilmu agama bukan pilihan, melainkan kewajiban:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (Perkataan Muhammad bin Sirin, dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)

Setiap sub-kategori hadits dha'if yang akan dibahas di bab-bab berikutnya sebenarnya adalah jawaban konkret atas nasihat Ibnu Sirin ini: cara sistematis untuk "memperhatikan dari siapa" sebuah riwayat diambil, dan pada titik mana kepercayaan terhadapnya menjadi tidak lagi bisa dipertahankan.

Baca lebih lengkap soal istilah ini di Mengenal Jenis-Jenis Hadits Dha'if.

Catatan & Referensi

  1. Pengelompokan sub-kategori hadits dha'if berdasarkan penyebabnya (cacat sanad vs cacat rawi/matan vs cacat tersembunyi) adalah kerangka yang lazim dipakai dalam syarah-syarah Al-Baiquniyyah untuk memudahkan pembelajar melihat struktur besarnya sebelum masuk ke definisi tiap istilah satu per satu - kerangka serupa juga dipakai Syaikh Mahmud ath-Thahhan dalam Taisir Musthalah al-Hadits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email