Nau' 85 dalam Tadrib ar-Rawi mengangkat satu kasus unik yang jarang disinggung ulama sebelumnya: bagaimana jika nama seorang guru dalam sanad kebetulan sama persis dengan nama murid yang meriwayatkan darinya? As-Suyuthi menyebut kasus ini sebagai naw' latif (jenis yang halus) yang dahulu tidak dibahas Ibnu Shalah dalam kitabnya, dan baru diangkat kemudian oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam An-Nukhbah.1
Definisi dan Manfaatnya
Ma'rifatu man ittafaqa ismu syaikhihi war-rawi 'anhu secara sederhana berarti: mengenali kasus di mana nama seorang guru (syaikh) dalam sebuah sanad kebetulan sama persis dengan nama orang yang meriwayatkan darinya (muridnya sendiri) - dua orang yang jelas berbeda, hanya kebetulan bernama sama. As-Suyuthi menjelaskan, manfaat mengenali kasus semacam ini adalah menghilangkan kerancuan (raf'ul-labs) bagi orang yang membaca sebuah sanad lalu mengira ada pengulangan nama (takrar), atau bahkan menduga susunan sanadnya terbalik/tertukar (inqilab) - padahal sebenarnya itu memang dua orang berlainan yang kebetulan memiliki nama sama.2
Contoh: Dua Tokoh Bernama Muslim di Sekitar Al-Bukhari
As-Suyuthi memberi satu contoh konkret yang langsung menyangkut dua imam besar hadits. Imam Al-Bukhari pernah meriwayatkan dari seorang gurunya yang bernama Muslim, dan di sisi lain, ada pula seorang bernama Muslim yang meriwayatkan dari Al-Bukhari sendiri. Dibaca sepintas, kemunculan nama yang sama, Muslim, di dua posisi berdekatan dalam sanad-sanad Al-Bukhari ini bisa membuat orang menyangka ada kekeliruan penyalinan atau pengulangan. Padahal keduanya adalah dua tokoh yang sama sekali berbeda: guru Al-Bukhari yang bernama Muslim itu adalah Muslim bin Ibrahim, dikenal dengan kun-yah Abu Muslim al-Faradisi al-Bashri. Sedangkan Muslim yang meriwayatkan dari Al-Bukhari adalah Muslim bin Al-Hajjaj, penulis Shahih Muslim sendiri.3
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Tanpa mengenali kasus semacam ini, seseorang yang menelaah sanad bisa saja salah menyimpulkan hubungan antar-perawi hanya karena kesamaan nama, padahal identitas sebenarnya jauh berbeda. Ketelitian mendokumentasikan setiap kemungkinan kebetulan nama seperti inilah yang menjaga keakuratan penelusuran sanad dari generasi ke generasi:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4
Nau' 85 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.