Nau' 50 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-asma' wal-kuna - ilmu yang mempertemukan nama asli (ism) seorang perawi dengan kunyahnya (sebutan "Abu ..." atau "Ummu ..."). As-Suyuthi mencatat, sejumlah ulama besar sudah menyusun karya khusus di bidang ini: Ibnul Madini, lalu Muslim, An-Nasa'i, Al-Hakim Abu Ahmad, Ibnu Mandah, dan lain-lain. Tujuan utamanya, sebagaimana disebut As-Suyuthi, adalah menjelaskan nama asli orang-orang yang justru lebih dikenal lewat kunyahnya - karya-karya semacam ini biasanya disusun berdasarkan urutan huruf kunyah.1
Kenapa Ilmu Ini Diperlukan
As-Suyuthi menjelaskan, nau' ini pada dasarnya mencakup dua arah: mengenal nama asli orang yang masyhur dengan kunyahnya, dan mengenal kunyah orang yang masyhur dengan namanya. Ketelitian di sini penting supaya seorang perawi yang sama - yang kadang disebut dengan namanya dan kadang dengan kunyahnya di riwayat berbeda - tidak dikira sebagai dua orang berlainan oleh orang yang belum paham seluk-beluknya. Bahkan, kata As-Suyuthi, terkadang nama dan kunyah orang yang sama justru disebut BERSAMAAN dalam satu sanad, sehingga muncul kesan seolah-olah ada dua perawi.2
Sebagai contoh nyata, As-Suyuthi menyebut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim dari jalur Abu Yusuf, dari Abu Hanifah, dari Musa bin 'Aisyah, dari Abdullah bin Syaddad, dari Abu Al-Walid, dari Jabir secara marfu':
مَنْ صَلَّى خَلْفَ الْإِمَامِ فَإِنَّ قِرَاءَتَهُ لَهُ قِرَاءَةٌ
"Barang siapa shalat di belakang imam, maka bacaan imam itu adalah bacaan baginya (mencukupinya)." (diriwayatkan Al-Hakim)3
Sanad ini tampak memuat dua perawi berbeda antara "Abdullah bin Syaddad" dan "Abu Al-Walid" - padahal, sebagaimana ditegaskan Al-Hakim dan dijelaskan Ibnul Madini, keduanya adalah orang yang SAMA: Abdullah bin Syaddad itulah yang berkunyah Abu Al-Walid. Tanpa mengetahui hal ini, seseorang bisa salah membaca sanad tersebut sebagai lebih panjang dari yang sebenarnya, atau menyangka ada perawi tambahan yang mubham (tidak dikenal).4
Pembagian Nau' Ini
As-Suyuthi membagi nau' ini ke dalam beberapa qism (bagian). Qism pertama adalah orang yang "dinamai" dengan bentuk kunyah, tapi bentuk itu sesungguhnya adalah nama aslinya (ism), bukan sekadar kunyah tambahan. Qism ini sendiri terbagi dua:
Pertama, orang yang ismnya berbentuk kunyah namun ia tetap punya kunyah lain yang terpisah. Contohnya Abu Bakr bin Abdurrahman, salah satu dari Tujuh Fuqaha Madinah - namanya adalah "Abu Bakr", sedangkan kunyahnya adalah "Abu Abdurrahman". Serupa dengannya, Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm, yang kunyahnya adalah "Abu Muhammad". Al-Khathib Al-Baghdadi menyebut, tidak ada contoh lain yang menyerupai keduanya dalam hal ini - meski ada pula pendapat yang menyebut Ibnu Hazm sama sekali tidak memiliki kunyah.5
Kedua, orang yang ismnya berbentuk kunyah dan ia sama sekali tidak memiliki kunyah lain di luar itu. Contohnya Abu Bilal, yang meriwayatkan dari Syarik, dan Abu Hashin (dengan fathah pada ha), yang meriwayatkan dari Abu Hatim Ar-Razi.6
Ketika Nama Asli Benar-Benar Tidak Diketahui
Di antara yang dibahas dalam nau' ini adalah kasus-kasus perawi yang dikenal lewat kunyahnya, sementara nama aslinya sendiri diperselisihkan atau bahkan tidak diketahui sama sekali. Salah satu contoh yang dibahas As-Suyuthi adalah Abu Al-Abyadh. Ibnu Abi Hatim menyebutnya di kitab Al-Kuna dengan nama "Isa", namun di kitab Al-Jarh wat-Ta'dil pada bagian nama-nama ia justru memasukkannya lagi di akhir daftar Kuna yang nama pemiliknya tidak diketahui. Al-'Iraqi menukil keterangan Ibnu Abi Hatim sendiri: ia mendengar ayahnya (Abu Hatim Ar-Razi) berkata bahwa Abu Zur'ah pernah ditanya soal Abu Al-Abyadh, dan menjawab, "Kami tidak mengetahui namanya." Ibnu 'Asakir menduga, Ibnu Abi Hatim mendapati dalam sebagian riwayat sebutan "Abu Al-Abyadh Al-'Absi", lalu kata "Al-'Absi" itu tertashif (salah baca/salah tulis) menjadi "Isa".7
Contoh lain yang disebut As-Suyuthi dalam kategori serupa adalah Abu Bakr bin Nafi', mawla Ibnu 'Umar, dan Abu An-Najib - menurut Ibnu Ash-Shalah, ia adalah mawla Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash.8
Abu Hurairah: Perdebatan Paling Masyhur soal Nama Asli
Kasus paling terkenal dalam pembahasan al-asma' wal-kuna adalah nama asli Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. As-Suyuthi menukil pendapat yang paling kuat, yaitu pendapat Ibnu Ishaq, yang juga dishahihkan Abu Ahmad Al-Hakim dalam kitab Al-Kuna, Ar-Rafi'i dalam At-Tadzhib, dan lain-lain - bahkan dinukil pula oleh Imam An-Nawawi (penyusun Taqrib yang disyarah kitab ini) dalam Tahdzibul Asma' dari Al-Bukhari serta mayoritas ahli tahqiq. Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari jalur Ibnu Ishaq, bahwa ia berkata:
كَانَ اسْمِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَبْدَ شَمْسِ بْنَ صَخْرٍ، فَسُمِّيتُ فِي الْإِسْلَامِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ
"Namaku pada masa jahiliyah adalah 'Abdu Syams bin Sakhr, lalu aku dinamai pada masa Islam dengan 'Abdurrahman." (dinukil Abu Hurairah, diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari jalur Ibnu Ishaq)9
Namun As-Suyuthi juga mencatat betapa banyaknya pendapat lain yang beredar soal nama asli Abu Hurairah - menunjukkan betapa rumitnya kasus ini sekaligus betapa pentingnya nau' al-asma' wal-kuna untuk merapikan kekacauan semacam ini. Di antara pendapat-pendapat itu: 'Umair bin 'Amir (disebut Hisyam bin Al-Kalbi dan Khalifah bin Khayyath, dishahihkan Asy-Syaraf Ad-Dimyathi, orang yang paling mengetahui ilmu nasab di kalangan ulama belakangan), 'Abdurrahman bin Ghanm, Abdullah bin 'A'idz, Abdullah bin 'Amir, Abdullah bin 'Amr, Sukain bin Daumah, Sukain bin Hani', Sukain bin Mull, Sukain bin Sakhr, 'Amir bin 'Abdi Syams, 'Amir bin 'Umair, Barir bin 'Asyraqah, 'Abdu Nahm, 'Abdu Syams, Ghanm, 'Ubaid bin Ghanm, 'Amr bin Ghanm, 'Amr bin 'Amir, hingga Sa'id bin Al-Harits.10
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Kasus Abu Hurairah membuktikan: seorang perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits sekalipun bisa memiliki nama asli yang diperselisihkan puluhan pendapat, sementara kunyahnya justru menjadi identitas yang paling dikenal sepanjang sejarah. Merapikan pasangan nama-kunyah setiap perawi bukan sekadar catatan pinggiran, melainkan bagian dari kecermatan menyeluruh yang menopang keabsahan sanad - sebab kekeliruan mengira satu orang sebagai dua (atau sebaliknya) bisa mengubah cara sebuah sanad dinilai:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)11
Nau' 50 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 763.
↩Ibid., hlm. 767.
↩Ibid., hlm. 767.
↩Ibid., hlm. 771.
↩Ibid., hlm. 771.
↩Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.
↩