Nau' 33 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-musalsal - hadits yang unik karena setiap perawi dalam sanadnya, secara berantai, berbagi sifat, kebiasaan, atau cara periwayatan yang sama persis.
Definisi dan Ragam Musalsal
As-Suyuthi mendefinisikan musalsal sebagai hadits yang para perawi dalam sanadnya berturut-turut memiliki satu sifat atau keadaan yang sama - kadang menyangkut sifat perawinya sendiri, kadang menyangkut cara periwayatannya. Sifat perawi bisa berupa ucapan, perbuatan, atau jenis lain: contohnya musalsal dengan jabat tangan sambil menghitung sesuatu di tangan, atau kesamaan nama, sifat, maupun nisbah para perawi - As-Suyuthi mencontohkan hadits-hadits yang seluruh perawinya berasal dari Damaskus, atau musalsal khusus di kalangan fuqaha. Adapun sifat periwayatan, contohnya musalsal dengan kata "sami'tu" (aku mendengar) di setiap tingkatan sanad, atau "akhbarana" disertai sumpah "demi Allah" ("akhbarana fulan wallahi").
As-Suyuthi menegaskan, jenis musalsal terbaik adalah yang menunjukkan kepastian tersambungnya sanad (misalnya rantai "sami'tu" di setiap tingkatan) - salah satu faedahnya adalah menambah kepastian ketelitian (dhabt) para perawinya. Namun ia mengingatkan, rantai musalsal jarang benar-benar selamat dari cela di suatu titik - kadang rantainya justru putus di tengah, sebagaimana terjadi pada musalsal "hadits pertama yang kudengar" - contohnya hadits 'Abdullah bin 'Amr, "orang-orang yang penyayang akan disayangi Ar-Rahman." As-Suyuthi menjelaskan, rangkaian musalsal pada hadits ini sebenarnya berhenti di Sufyan bin 'Uyainah - sama' Sufyan dari 'Amr bin Dinar terputus, sama' 'Amr dari Abu Qabus terputus, dan sama' Abu Qabus dari 'Abdullah bin 'Amr sendiri pun terputus, menurut pendapat yang shahih soal itu - sebagian perawi lain justru meriwayatkannya dengan rangkaian yang tampak utuh penuh, namun itu keliru (wahm).
As-Suyuthi menukil catatan Syaikhul Islam (Ibnu Hajar): salah satu musalsal paling baik yang diriwayatkan di dunia adalah musalsal dengan membaca Surat Ash-Shaff. As-Suyuthi menambahkan pendapatnya sendiri: musalsal dengan para huffazh dan musalsal dengan para fuqaha juga termasuk yang terbaik - bahkan dalam Syarh An-Nukhbah disebutkan, musalsal dengan para huffazh termasuk yang memberikan kepastian ('ilmu qath'i).1
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Menelusuri rantai kesamaan sifat atau kebiasaan setiap perawi sepanjang sanad adalah bentuk lain dari kehati-hatian ilmu hadits - sebuah cara tambahan memastikan sanad benar-benar tersambung dan setiap perawinya benar-benar dikenal:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)2
Nau' 33 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.