Gharibul-Hadits: Kosakata Asing dalam Matan dan Kitab-Kitab yang Menjelaskannya

Nau' 32 dalam Tadrib ar-Rawi membahas gharibul-hadits - bidang yang berbeda dari nau' sebelumnya, meski memakai istilah serupa: bukan soal jarangnya sebuah hadits diriwayatkan, melainkan kata-kata asing dan jarang dipakai yang muncul di dalam matan sebuah hadits.

Definisi dan Bahayanya

As-Suyuthi mendefinisikan gharibul-hadits sebagai kosakata yang muncul dalam matan hadits, samar dan sulit dipahami karena jarang dipakai. Ini termasuk cabang ilmu penting, namun menyelaminya cukup berbahaya - siapa pun yang menekuninya harus benar-benar berhati-hati. As-Suyuthi mencatat, generasi salaf sendiri sangat berhati-hati dalam bidang ini - sebab menafsirkan kata yang keliru bisa mengubah total makna sebuah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.1

Kitab-Kitab Rujukan Utama

As-Suyuthi mencatat, banyak ulama menyusun karya khusus di bidang ini. Disebutkan An-Nadhr bin Syumail sebagai penyusun pertama, ada pula yang menyebut Abu 'Ubaidah Ma'mar sebagai yang pertama. Sesudah keduanya, Abu 'Ubaid menyusun karya yang sangat menyeluruh dan berkualitas tinggi; kemudian Ibnu Qutaibah melengkapi apa yang terlewat dari Abu 'Ubaid; kemudian Al-Khaththabi - keempat karya inilah yang menjadi rujukan induk (ummahat) bidang ini. Sesudahnya bermunculan banyak karya lain dengan tambahan dan faedah, namun As-Suyuthi mengingatkan agar hanya mempercayai karya-karya yang disusun ulama besar yang benar-benar otoritatif. Ia menegaskan, penafsiran gharibul-hadits paling baik adalah yang sudah dijelaskan langsung di dalam riwayat itu sendiri - bukan tafsiran dari luar.2

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Memahami dengan tepat setiap kata asing dalam sebuah hadits - tidak menerka-nerka maknanya secara sembarangan - adalah bagian dari kehati-hatian menyeluruh menjaga pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersampaikan persis seperti maksud aslinya:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)3

Nau' 32 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 637.

  2. Ibid., hlm. 637.

  3. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email