Nau' 29 dalam Tadrib ar-Rawi membahas isnad al-'ali wan-nazil - sanad yang tinggi (lebih pendek/lebih dekat ke sumber) dan sanad yang rendah (lebih panjang), sekaligus menegaskan bahwa sanad itu sendiri adalah kekhususan istimewa umat ini yang tidak dimiliki umat-umat lain.
Sanad, Kekhususan Umat Ini
As-Suyuthi menukil pernyataan Ibnu Hazm: penukilan dari orang tsiqah ke orang tsiqah sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sanad yang bersambung adalah kekhususan yang Allah berikan khusus kepada umat Islam, tidak dimiliki agama-agama lain. Adapun penukilan lewat cara mursal atau mu'dhal (yang terputus), itu memang ditemukan di kalangan Yahudi - tapi mereka tidak sedekat kita kepada Musa 'alaihissalam; jarak mereka dengan Musa lebih dari tiga puluh generasi, dan sanad mereka biasanya hanya mencapai figur seperti Sam'un (Simon) atau semisalnya. Kalangan Nasrani bahkan tidak punya bentuk penukilan semacam ini sama sekali, kecuali satu hal saja: pengharaman talak. Penukilan yang mengandung pendusta atau perawi yang tidak dikenal identitasnya justru banyak ditemukan dalam tradisi penukilan Yahudi dan Nasrani.1
Lima Jenis 'Uluw (Sanad Tinggi)
As-Suyuthi merinci lima jenis 'uluw. Pertama dan paling mulia: kedekatan (jumlah perawi paling sedikit) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lewat sanad yang shahih dan bersih - bukan yang disertai kelemahan, apalagi bila di dalamnya ada pendusta belakangan yang mengaku-aku pernah mendengar langsung dari sahabat (As-Suyuthi menyebut beberapa nama pendusta semacam itu: Ibnu Hudbah, Dinar, Khirasy, Nu'aim bin Salim, Ya'la bin Al-Asydaq, Abud-Dunya Al-Asyaj). Adz-Dzahabi berkata tajam: "Kapan pun kau melihat seorang ahli hadits bergembira dengan sanad-sanad 'tinggi' dari orang-orang semacam ini, ketahuilah ia masih awam." As-Suyuthi bahkan menuliskan kesaksian pribadinya sendiri: sanad shahih tersambung dengan sama' paling tinggi yang bisa ia dan orang-orang sezamannya capai di masanya adalah dua belas orang perawi antara mereka dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; lewat ijazah, sebelas orang (dan itu sudah cukup banyak); dengan sedikit kelemahan yang tidak parah, sepuluh orang - dan hanya sangat sedikit hadits yang bisa mencapai jumlah itu, ditemukannya dalam Al-Mu'jam Ash-Shaghir karya Ath-Thabarani.
Kedua: kedekatan kepada seorang imam besar hadits (seperti Ibnu Juraij, Al-Auza'i, Malik, atau Syu'bah) dengan sanad yang shahih, meski jumlah perawi sesudahnya sampai ke Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masih banyak. Ketiga: 'uluw yang diukur relatif terhadap salah satu dari lima kitab induk (Al-Ushul Al-Khamsah) atau kitab mu'tamad lainnya - Ibnu Daqiq al-'Id menyebutnya "'uluw at-tanzil" karena bukan 'uluw mutlak (bila sanad itu diriwayatkan lewat jalur langsung tanpa lewat kitab tersebut, bisa jadi malah lebih rendah, atau justru tetap lebih tinggi secara mutlak juga). As-Suyuthi menjelaskan istilah-istilah teknis yang banyak diperhatikan ulama belakangan dalam kategori ini: muwafaqah (kesepakatan) - ketika sanadmu sampai ke guru Imam Muslim lewat jalur lain dengan jumlah perawi lebih sedikit dibanding jika kau meriwayatkannya lewat Muslim sendiri; ibdal (penggantian) - ketika 'uluw serupa itu dicapai lewat guru LAIN yang sederajat dengan guru Muslim; musawah (kesetaraan) - ketika jumlah perawi antara dirimu dan seorang sahabat (atau yang mendekatinya) sama persis dengan jumlah antara Muslim dan sahabat itu; dan musafahah (jabat tangan) - ketika kesetaraan itu justru dicapai oleh gurumu, sehingga bagimu serasa seperti "berjabat tangan" langsung dengan Muslim sendiri.
Keempat: 'uluw karena lebih dulunya wafat seorang perawi, meski jumlah perawinya sama. As-Suyuthi mencontohkan dari dirinya sendiri: riwayatnya lewat tiga perawi dari Al-Baihaqi dari Al-Hakim dinilai lebih tinggi dibanding riwayatnya lewat tiga perawi dari Abu Bakr bin Khalaf dari Al-Hakim - karena Al-Baihaqi wafat lebih dulu dibanding Ibnu Khalaf. Soal 'uluw karena gurumu sendiri wafat lebih dulu, Al-Hafizh Ibnu Juwsha menetapkan patokannya: lewat lima puluh tahun sejak wafatnya sang guru; Ibnu Mandah menetapkan tiga puluh tahun.2
An-Nuzul: Kebalikan dari 'Uluw
As-Suyuthi menjelaskan, nuzul (sanad rendah) adalah kebalikan dari 'uluw - lima jenisnya bisa dikenali dari lawan masing-masing jenis 'uluw di atas. Pendapat yang benar, dipegang mayoritas ulama: nuzul adalah sesuatu yang kurang diutamakan dan tidak disukai. Ibnul Madini berkata, "Nuzul adalah kesialan." Ibnu Ma'in berkata, "Sanad yang nazil (rendah) itu seperti bisul di wajah." Namun sebagian ulama - dinukil Ibnu Khallad dari sebagian ahli nazhar - justru mengunggulkan nuzul dibanding 'uluw, dengan alasan: semakin panjang sebuah sanad, semakin besar pula usaha (ijtihad) yang dikeluarkan untuk menelusurinya, sehingga pahalanya pun bertambah. Namun Ibn ash-Shalah menegaskan ini pendapat lemah dengan dalil yang lemah pula. As-Suyuthi menutup dengan catatan penyeimbang: nuzul tetap bisa menjadi pilihan yang lebih baik bila ia membawa keistimewaan tersendiri - misalnya kandungan fiqih yang lebih kaya, atau keunggulan lain yang tidak dimiliki jalur 'uluw-nya.3
Kenapa Perhatian pada 'Uluw dan Nuzul Ini Penting
Ketelitian mengukur jarak sebuah sanad - sekecil apa pun perbedaannya - adalah wujud nyata betapa istimewanya kekhususan isnad bagi umat ini, sebuah warisan yang tidak dimiliki umat mana pun sebelumnya dalam menjaga sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4
Nau' 29 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.