Nau' 22 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-maqlub - hadits yang dibolak-balik komponennya, baik nama perawi maupun pasangan matan-sanadnya. As-Suyuthi merinci dua jenisnya, satu di antaranya berujung pada salah satu kisah paling terkenal soal kehebatan hafalan Al-Bukhari.
Jenis Pertama: Menukar Nama Perawi
As-Suyuthi menjelaskan jenis pertama: sebuah hadits yang sudah masyhur diriwayatkan seorang perawi tertentu, lalu sengaja diganti dengan nama perawi lain sederajat dengannya - misalnya hadits masyhur dari Salim diubah seolah dari Nafi', atau dari Malik diubah seolah dari 'Ubaidillah bin 'Umar - agar tampak lebih menarik dan diminati karena kesan "langka" atau "asing" (gharabah). Di antara pemalsu yang dikenal melakukan trik ini: Hammad bin 'Amr An-Nashibi, Abu Isma'il Ibrahim bin Abi Hayyah, dan Buhlul bin 'Ubaid Al-Kindi.1
Jenis Kedua: Menukar Pasangan Matan dan Sanad
As-Suyuthi menjelaskan jenis kedua: sanad dari satu matan diambil dan dipasangkan pada matan lain, begitu pula sebaliknya. Ini kadang dilakukan dengan motif yang sama seperti pemalsuan (mengesankan sesuatu yang asing/gharib), namun kadang dilakukan justru sebagai UJIAN - menguji kekuatan hafalan seorang ahli hadits, atau menguji apakah ia mudah menerima suntikan informasi palsu begitu saja. Syu'bah, Hammad bin Salamah, dan sejumlah ahli hadits lain diketahui pernah melakukan pengujian semacam ini.
As-Suyuthi menceritakan kisah paling terkenal dari jenis ini: ketika penduduk Baghdad membolak-balik seratus hadits sebagai ujian bagi Al-Bukhari, dan beliau berhasil mengembalikan seluruhnya ke bentuk aslinya yang benar - membuat mereka tunduk mengakui keunggulannya. As-Suyuthi menukil riwayat Al-Khathib secara rinci: ketika Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari tiba di Baghdad, para ahli hadits di sana berkumpul dan sengaja mengambil seratus hadits, lalu membolak-balik matan dan sanadnya - matan dari satu sanad dipasangkan pada sanad lain, dan sebaliknya. Seratus hadits yang sudah dibolak-balik itu dibagikan kepada sepuluh orang, masing-masing sepuluh hadits, dengan instruksi: begitu majelis dimulai, mereka harus melontarkan hadits-hadits itu satu per satu kepada Al-Bukhari.
Majelis pun digelar, dihadiri banyak ahli hadits dari berbagai daerah - termasuk para perantau dari Khurasan dan penduduk Baghdad sendiri. Ketika suasana sudah tenang, salah satu dari sepuluh orang itu maju dan bertanya tentang salah satu hadits yang sudah dibolak-balik. Al-Bukhari menjawab, "Aku tidak mengenalinya (la a'rifuhu)." Orang itu bertanya lagi soal hadits kedua - jawaban yang sama. Begitu seterusnya sampai seluruh sepuluh haditsnya habis ditanyakan, dan Al-Bukhari terus menjawab "aku tidak mengenalinya" untuk setiap satu. Para fuqaha yang hadir mulai saling berpandangan - sebagian berbisik "orang ini paham (maksud ujian ini)," sementara sebagian lain justru menyimpulkan Al-Bukhari lemah, kurang cakap, dan kurang paham. Lalu orang kedua dari sepuluh itu maju, bertanya soal hadits-hadits bolak-balik lainnya, dan pola yang sama terus berlanjut.2
Sebagaimana disebutkan dalam rumusan definisi nau' ini sendiri, kisah ini berujung pada Al-Bukhari yang justru "mengembalikan seluruh seratus hadits itu ke bentuk aslinya yang benar (radda-ha 'ala wujuhiha)" - satu per satu, mengoreksi mana sanad yang benar untuk mana matan, sehingga seluruh hadirin yang semula meragukannya pun tunduk mengakui keunggulan hafalan dan pemahamannya.
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Kemampuan mendeteksi matan dan sanad yang tertukar - baik akibat kesengajaan memalsukan maupun sekadar ujian - adalah bukti nyata betapa mendalamnya penguasaan yang dituntut dari seorang ahli hadits sejati sebelum sebuah riwayat layak dipercaya dan disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)3
Nau' 22 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 342.
↩Ibid., hlm. 342, 345.
↩HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.
↩