Senyum kerap dianggap remeh, sekadar ekspresi wajah yang tidak ada urusannya dengan ibadah. Padahal dalam sejumlah hadits shahih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam justru menyetarakan tabassum (senyum) dengan sedekah, dan riwayat tentang keseharian beliau sendiri mencatat betapa jarang beliau absen tersenyum kepada siapa pun yang datang menemuinya. Artikel ini mengumpulkan hadits tentang senyum yang paling sering dijadikan rujukan, dikutip langsung dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hasil kurasi penuh Kutubus Sittah di halaman Hadits), supaya kamu bisa menelusuri sendiri teks Arab dan nomornya ke halaman aslinya.
Pertama: Senyum sebagai Sedekah
Hadits paling terkenal tentang tema ini datang dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, sahabat senior yang dikenal keras memegang prinsip zuhud. Ia meriwayatkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mendaftar beberapa amal ringan namun bernilai sedekah, dengan tabassum di urutan pertama:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالَةِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Engkau menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar adalah sedekah. Engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat adalah sedekah. Engkau menuntun orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah. Dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah." (HR. Tirmidzi no. 1956, dinilai hasan gharib oleh Imam At-Tirmidzi sendiri)1
Semua amal dalam daftar ini tidak membutuhkan harta. Tirmidzi sendiri mencatat bahwa hadits senada juga diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Jabir, Hudzaifah, Aisyah, dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum. Ini bukan riwayat tunggal yang berdiri sendiri, tapi pesan yang beredar luas di kalangan sahabat. Konsepnya sejalan dengan pemahaman sedekah yang lebih luas daripada sekadar uang, seperti yang sudah dibahas di artikel tentang keutamaan sedekah: tabassum masuk kategori sedekah karena ia kebaikan yang bisa diberikan siapa saja, kapan saja, tanpa syarat kemampuan finansial.
Kedua: Jangan Meremehkan Wajah yang Berseri
Masih dari Abu Dzarr, ada riwayat lain yang menegaskan pesan yang sama dari sudut berbeda. Kali ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memakai kata tabassum secara langsung, melainkan istilah wajhun thaliq (wajah yang cerah), sebuah ungkapan yang maknanya nyaris sama:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri." (HR. Muslim no. 6690, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu)2
Hadits ini menutup celah yang sering dipakai orang untuk menunda kebaikan: menunggu sampai bisa berbuat sesuatu yang besar. Wajah berseri saat bertemu orang lain, sekilas terlihat sepele, tapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam justru mewanti-wanti agar tidak dianggap remeh (la tahqiranna). Hal ini terkait erat dengan semangat menjaga hubungan baik antarsesama yang dibahas lebih luas di artikel tentang silaturahmi: senyum adalah pintu paling ringan untuk membuka dan merawat hubungan itu.
Ketiga: Kesaksian Sahabat tentang Kebiasaan Nabi
Kalau dua hadits di atas berbentuk perintah, riwayat berikut ini adalah kesaksian langsung dari sahabat yang mengalaminya sendiri. Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang masuk Islam belakangan namun begitu dekat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menceritakan pengalamannya:
مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menolak menemuiku sejak aku masuk Islam, dan setiap kali beliau melihatku, beliau selalu tersenyum kepadaku." (HR. Bukhari no. 3035)3
Jarir melanjutkan ceritanya: suatu kali ia mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa dirinya tidak pandai bertahan di atas kuda, lalu Nabi menepuk dadanya sambil mendoakan agar ia diteguhkan dan dijadikan pemberi petunjuk. Detail ini menunjukkan bahwa senyum Nabi bukan basa-basi formal, melainkan bagian dari cara beliau membuat orang lain merasa diterima, bahkan saat orang itu sedang mengeluhkan kekurangannya sendiri. Kisah yang sama juga tercatat di HR. Muslim no. 6364 dan HR. Tirmidzi no. 3821 dengan redaksi yang nyaris sama persis.
Keempat: Begini Cara Nabi Tertawa
Kalau Jarir bersaksi tentang senyum Nabi kepada dirinya secara pribadi, Aisyah radhiyallahu 'anha, istri beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang keseharian Nabi, memberi gambaran yang lebih umum tentang bagaimana ekspresi wajah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat merasa senang atau geli:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ، إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
"Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak sampai terlihat anak lidahnya. Beliau hanya tersenyum." (HR. Bukhari no. 6092, dari Aisyah radhiyallahu 'anha)4
Riwayat paralel di HR. Muslim no. 2086 memuat redaksi yang sama, dengan tambahan cerita tentang bagaimana raut wajah Nabi berubah waspada saat melihat awan mendung. Bagian ini di luar tema senyum, tapi memperlihatkan betapa dekat pengamatan Aisyah terhadap ekspresi wajah suaminya sehari-hari. Kesaksian Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' radhiyallahu 'anhu menguatkan gambaran yang sama dari sisi lain:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih banyak tersenyum dibandingkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Tirmidzi no. 3641)5
Dua kesaksian ini saling melengkapi. Aisyah menjelaskan batas atas ekspresi Nabi: sejauh apa pun rasa senangnya, beliau tidak sampai terbahak-bahak. Abdullah bin Al-Harits menjelaskan frekuensinya: dari sekian banyak orang yang pernah ia temui, tidak ada yang lebih sering tersenyum daripada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Gabungan keduanya menggambarkan pola yang konsisten, bukan kejadian sesekali.
Kelima: Senyum yang Terekam dalam Al-Qur'an
Kata tabassum ternyata juga muncul di dalam Al-Qur'an, meski dalam konteks kisah, bukan perintah syariat secara langsung. Ayat ini menceritakan reaksi Nabi Sulaiman 'alaihissalam ketika mendengar seekor semut memperingatkan pasukannya agar menyingkir dari jalur yang dilalui bala tentara Sulaiman:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ
"Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku...'" (QS. An-Naml: 19, potongan)6
Ayat ini bukan dalil hukum tentang anjuran tersenyum, melainkan gambaran narasi tentang seorang nabi yang bereaksi wajar dan manusiawi terhadap sesuatu yang menggelikan hatinya. Akar kata yang dipakai persis sama dengan hadits-hadits di atas (ta-ba-sin-mim), dan Al-Qur'an memakainya untuk melukiskan momen positif yang berujung syukur, bukan sesuatu yang perlu ditahan-tahan.
Menjadikan Senyum sebagai Kebiasaan
Dari kumpulan riwayat di atas, ada satu benang merah yang jelas: senyum dalam Islam bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan amal yang dihitung dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keseharian beliau. Berbeda dari sedekah materi yang butuh harta atau mengajar yang butuh ilmu, senyum bisa diberikan siapa saja kepada siapa saja yang ditemui: keluarga, tetangga, sesama murid di majelis ilmu, bahkan orang asing di jalan.
Kalau kamu ingin menelusuri lebih jauh bagaimana akhlak-akhlak semacam ini terjalin dalam keseluruhan ajaran Islam, termasuk kaitannya dengan kesempurnaan iman, kamu bisa membaca artikel tentang kedudukan akhlak dalam Islam. Sebagai perbandingan sikap, ada juga artikel tentang larangan marah yang membahas sisi berlawanan dari tema ini: bagaimana Islam mengajarkan pengendalian diri saat emosi sedang tidak stabil. Untuk belajar lebih terstruktur tentang akhlak dan penyucian jiwa semacam ini, kamu bisa menjajaki kelas-kelas jalur Tazkiyatun Nafs di Ngaji Sanad.
Catatan & Referensi
HR. Tirmidzi no. 1956, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu (Kitab Kebajikan dan Silaturahmi, bab macam-macam perbuatan makruf) - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/tirmidzi.json), dicek content-match langsung, bukan mengutip nomor dari situs luar. Imam At-Tirmidzi sendiri mencatat status hadits ini hasan gharib dan menyebutkan jalur periwayatan senada dari Ibnu Mas'ud, Jabir, Hudzaifah, Aisyah, dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Muslim no. 6690, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu (Kitab Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab, bab anjuran bermuka ceria ketika berjumpa dengan orang lain) - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/muslim.json). Redaksinya memakai istilah "wajhun thaliq" (wajah berseri), bukan kata "tabassum" secara literal, tapi maknanya diakui ulama sejalan dan sering dikutip berdampingan dengan hadits tentang senyum sebagai sedekah. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Bukhari no. 3035, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu (dalam Kitab Jihad dan Perjalanan) - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/bukhari.json). Riwayat yang sama dengan redaksi nyaris identik juga tercatat di Bukhari no. 6089 dan 6090 (Kitab Adab, bab "Tersenyum dan tertawa", field terjemahan Indonesia kosong di data vendor untuk kedua nomor ini sehingga tidak dijadikan kutipan utama), Muslim no. 6364, dan Tirmidzi no. 3821 - semua dicek content-match dari data primer sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Bukhari no. 6092, dari Aisyah radhiyallahu 'anha (Kitab Adab, bab "Tersenyum dan tertawa") - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri. Kutipan di badan artikel dipangkas pada bagian lanjutan cerita tentang reaksi Aisyah melihat perubahan raut wajah Nabi saat cuaca mendung (di luar tema senyum), yang lengkapnya ada di riwayat paralel HR. Muslim no. 2086. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Tirmidzi no. 3641, dari Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' radhiyallahu 'anhu (Kitab Keutamaan/Manaqib, bab keceriaan wajah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), dinilai hasan gharib oleh Imam At-Tirmidzi - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri. Riwayat paralel dengan redaksi berbeda dari narator yang sama ("tidaklah tertawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali dengan tersenyum") tercatat sebagai Tirmidzi no. 3642, dinilai shahih gharib oleh Imam At-Tirmidzi, tidak dikutip di badan karena maknanya sejalan. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩QS. An-Naml: 19, potongan - teks Arab dan terjemahan Indonesia (edisi Kemenag) diambil dari API resmi Al-Qur'an Kemenag, dicek silang ke sumber pembanding lain, identik. Ayat lengkap juga memuat lanjutan doa Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang tidak dikutip di badan artikel karena tidak lagi berkaitan langsung dengan tema senyum.
↩