Ada satu pertanyaan lama yang sering diajukan di majelis-majelis ilmu klasik: mana yang lebih dulu dibangun, adab atau ilmu? Jawabannya, menurut para ulama salaf, cukup tegas — adab lebih dulu, dan kedudukannya bahkan lebih tinggi. Bukan berarti ilmu tidak penting, tapi tanpa adab yang matang lebih dulu, ilmu yang didapat rawan berubah jadi alat kesombongan, bahan perdebatan, atau sekadar koleksi pengetahuan yang tidak pernah benar-benar meresap ke akhlak sehari-hari. Artikel ini membahas kedudukan adab dibanding ilmu semata, lengkap dengan dalil dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan warisan ungkapan para ulama salaf soal ini.
Perlu digarisbawahi di awal: pembahasan ini beda sudut pandang dengan artikel Ilmu Tanpa Amal: Kenapa Islam Mengecamnya. Di sana dibahas apa yang terjadi setelah ilmu didapat tapi tidak diamalkan. Di sini, fokusnya ada di titik sebelum dan selama proses belajar itu sendiri — soal karakter dan adab yang harus lebih dulu terbentuk supaya ilmu yang masuk nanti benar-benar punya wadah yang layak, bukan sekadar informasi yang menumpuk tanpa membentuk apa-apa.
Pertama: Akhlak, Bukan Banyaknya Ilmu, adalah Ukuran Kesempurnaan Iman
Kalau ditanya siapa mukmin yang paling sempurna imannya, jawaban yang mungkin muncul di kepala banyak orang adalah yang paling banyak hafalannya, paling tinggi jenjang keilmuannya, atau paling sering mengisi kajian. Tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi jawaban yang berbeda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi no. 1162, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri)1
Perhatikan tolok ukur yang dipakai hadits ini: bukan ahsanuhum 'ilman (yang paling banyak ilmunya), tapi ahsanuhum khuluqan (yang paling baik akhlaknya/adabnya). Iman — sesuatu yang paling inti dalam beragama — diukur kesempurnaannya lewat akhlak, bukan lewat kuantitas ilmu yang dikuasai. Ini bukan berarti ilmu tidak dibutuhkan untuk beramal dengan benar, tapi hadits ini menegaskan bahwa buah akhir dari keberagamaan seseorang adalah akhlaknya, dan akhlak itulah yang jadi barometer paling jujur untuk menilai kualitas keimanan, jauh lebih jujur dibanding gelar atau banyaknya kitab yang sudah dikhatamkan.
Menariknya, hadits ini ditutup dengan contoh yang sangat konkret dan dekat dengan keseharian: perlakuan kepada istri. Bukan kefasihan berdalil atau ketajaman berargumen, tapi akhlak dalam rumah tangga — ranah yang jauh dari sorotan publik, tempat karakter asli seseorang biasanya paling jujur terlihat. Bagi Ngaji Sanad, ini sejalan dengan penekanan bahwa ilmu yang bersanad selalu disertai keteladanan adab dari gurunya, bukan sekadar teks yang dihafal — sebagaimana dibahas lebih jauh di Apa Itu Sanad?.
Kedua: yang Dilihat Allah Bukan Rupa atau Hartamu, Termasuk "Harta Ilmu"
Godaan yang sering muncul ketika ilmu seseorang bertambah adalah menjadikannya semacam kebanggaan atau simbol status, mirip harta atau penampilan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan bahwa standar penilaian Allah sama sekali berbeda dari standar itu:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim no. 6543, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab)2
Hadits ini datang dalam satu kitab yang sama dengan bahasan-bahasan tentang silaturahmi dan adab pergaulan — bukan kebetulan, sebab konteksnya memang bicara soal apa yang benar-benar bernilai di sisi Allah dalam interaksi antar manusia. "Rupa" di sini bisa dimaknai luas: bukan cuma wajah dan penampilan fisik, tapi juga segala bentuk tampilan luar yang sering dijadikan ukuran kehormatan seseorang di mata manusia — termasuk gelar keilmuan, banyaknya sanad yang dimiliki, atau seberapa fasih seseorang berbicara di depan umum. Semua itu bisa jadi "rupa" kalau berhenti sebagai tampilan, tanpa benar-benar mengubah hati dan amal.
Yang dilihat Allah adalah qalbu (hati) dan a'mal (amal/perbuatan) — dan akhlak yang baik pada dasarnya adalah amal hati yang terwujud dalam interaksi sehari-hari: bagaimana seseorang menahan marah, menjaga lisan, menghormati sesama, dan bersikap rendah hati. Dengan kata lain, ilmu yang tidak sampai membentuk hati dan amal — termasuk adab dalam berinteraksi — belum menyentuh titik yang justru paling diperhatikan Allah. Inilah kenapa dalam tradisi keilmuan Islam, mengejar ilmu tanpa membangun sisi batin lebih dulu dianggap timpang, sebagaimana dibahas lebih dalam soal pentingnya niat yang lurus di Ikhlas dalam Menuntut Ilmu.
Ketiga: Warisan Salaf — "Kami Belajar Adab Sebelum Ilmu"
Selain dua hadits di atas, ada satu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan penuntut ilmu dan sering dijadikan rujukan untuk menegaskan keutamaan adab di atas ilmu. Ungkapan ini umumnya dinisbatkan kepada Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat 181 H), salah satu ulama besar generasi tabi'ut tabi'in yang dikenal luas keilmuannya dalam hadits, fiqih, dan jihad sekaligus:
طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانُوا يَطْلُبُونَ الأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ
"Aku menuntut adab selama tiga puluh tahun, dan aku menuntut ilmu selama dua puluh tahun. Dan dahulu para (ulama salaf) menuntut adab sebelum ilmu."3
Perlu jujur disampaikan di sini: ungkapan ini adalah atsar, yaitu perkataan seorang ulama, bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan Ibnul Mubarak sendiri hidup pada generasi setelah tabi'in (tabi'ut tabi'in), bukan sahabat maupun tabi'in langsung. Perkataan ini juga tidak dimaksudkan secara harfiah sebagai dua fase belajar yang benar-benar terpisah tiga puluh dan dua puluh tahun — penekanannya bersifat filosofis: para ulama terdahulu menempatkan pembentukan adab sebagai fondasi yang harus lebih dulu kokoh, baru di atasnya ilmu dibangun, bukan sebaliknya.
Semangat yang sama juga banyak dikutip dari Imam Malik bin Anas rahimahullah, yang menasihati seorang pemuda dari kalangan Quraisy yang datang untuk belajar hadits kepadanya:
تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
"Belajarlah adab sebelum kamu belajar ilmu."4
Sama seperti ungkapan Ibnul Mubarak, ini pun atsar dari seorang imam mazhab, bukan hadits Nabi — sehingga dikutip di sini sebagai pengingat dan warisan pemikiran ulama, bukan sebagai dalil yang berdiri sendiri di atas dua hadits shahih pada bagian pertama dan kedua artikel ini. Justru itulah fungsinya: dua ungkapan ini menjadi penjelas kenapa para ulama menghayati semangat dari hadits "ahsanuhum khuluqan" dan "yanzhuru ila qulubikum" tadi dengan sangat serius, sampai membangun kebiasaan belajar yang mendahulukan pembentukan karakter.
Keempat: Kenapa Adab Harus Lebih Dulu, Bukan Ilmu
Kalau direnungkan, urutan ini masuk akal secara praktis, bukan sekadar formalitas tradisi. Ilmu, terutama ilmu agama, adalah alat yang sangat kuat — bisa dipakai untuk menyampaikan kebenaran, tapi juga bisa disalahgunakan untuk merendahkan orang lain, memenangkan perdebatan demi ego, atau membenarkan sikap sombong dengan dalih "aku lebih tahu". Tanpa adab yang sudah tertanam lebih dulu, semakin banyak ilmu yang masuk, semakin besar pula potensi kerusakan yang bisa ditimbulkannya — baik pada diri sendiri maupun orang di sekitarnya.
Sebaliknya, orang yang sudah punya adab yang baik akan memperlakukan ilmu sedikit yang dimilikinya dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan bagaimana menyampaikan kebenaran tanpa melukai. Adab yang baik juga yang membuat seseorang rela duduk lama di hadapan gurunya, sabar diuji sebelum diberi ijazah, dan tidak tergesa-gesa mengaku ahli sebelum benar-benar matang — pola yang sejalan dengan pentingnya sikap rendah hati dalam menuntut ilmu, sebagaimana dibahas di Tawadhu dalam Berilmu.
Ini juga alasan kenapa dalam tradisi sanad, hubungan antara guru dan murid tidak pernah dilepaskan dari adab. Sanad bukan sekadar daftar nama perawi yang tersambung secara administratif, tapi jalur pewarisan ilmu yang di dalamnya ada penghormatan, kesabaran, dan keteladanan akhlak dari generasi ke generasi. Guru yang menjaga sanadnya biasanya juga menjaga adab muridnya sebelum mempercayakan ilmu yang lebih dalam — sebuah pola yang jauh lebih tua dari sekadar metode pengajaran modern, dan salah satu alasan kenapa Ngaji Sanad menekankan pentingnya belajar langsung kepada pengajar yang jelas jalur keilmuannya, bukan sekadar membaca teks secara mandiri.
Kelima: Adab sebagai Wadah, Bukan Pelengkap di Akhir
Kesalahan yang sering terjadi adalah menempatkan adab sebagai "nilai tambah" yang baru dipikirkan setelah ilmu dianggap cukup — seolah-olah adab adalah polesan akhir, bukan fondasi awal. Padahal, kalau merujuk pada dua hadits di bagian pertama dan kedua artikel ini, urutannya justru terbalik: akhlak adalah ukuran kesempurnaan iman itu sendiri, dan hati serta amal adalah yang benar-benar dilihat Allah — bukan sekadar pelengkap di ujung proses belajar.
Analogi yang sering dipakai para ulama untuk menjelaskan hal ini adalah wadah dan isi. Adab adalah wadah, ilmu adalah isinya. Kalau wadahnya belum siap — retak, kotor, atau bahkan belum ada — sebanyak apa pun ilmu yang dituangkan, hasilnya tidak akan optimal, bahkan bisa tumpah sia-sia atau justru merusak. Sebaliknya, wadah yang kokoh dan bersih akan menjaga ilmu yang dituangkan ke dalamnya, betapapun sedikit jumlahnya di awal, untuk terus bertambah dan memberi manfaat dalam jangka panjang.
Penutup: Membangun Adab dan Ilmu Bersamaan, dengan Sanad yang Jelas
Dua hadits shahih dan dua ungkapan salaf di atas menunjukkan gambaran yang konsisten: akhlak dan adab bukan pelengkap dari ilmu, melainkan fondasi dan ukurannya. Iman yang sempurna diukur dari akhlak, bukan kuantitas ilmu semata; yang dilihat Allah adalah hati dan amal, bukan rupa atau "harta" pengetahuan; dan para ulama terdahulu sengaja menempatkan pembentukan adab lebih dulu sebelum ilmu, supaya ilmu yang didapat kelak benar-benar berbuah, bukan justru menjadi beban di akhirat sebagaimana dibahas di Ilmu Tanpa Amal: Kenapa Islam Mengecamnya.
Membangun adab bukan proses yang bisa diselesaikan sendirian dengan membaca buku, sebab adab pada dasarnya dipelajari lewat keteladanan langsung — dari cara seorang guru bersikap, menegur, dan memperlakukan muridnya. Kalau kamu ingin belajar akhlak dan penyucian hati secara terstruktur bersama pengajar bersanad, bukan sekadar nasihat lepas tanpa rujukan yang jelas, kamu bisa mempelajarinya lebih jauh lewat jalur kelas Tazkiyatun Nafs di Ngaji Sanad, bersama Ust. Agung Cahyono dan pengajar lainnya. Semoga adab dan ilmu yang kita cari benar-benar berjalan beriringan, bukan berat sebelah.
Catatan & Referensi
HR. Tirmidzi no. 1162 (nomor urut data primer Ngaji Sanad sendiri, hadith-api/books/tirmidzi.json), Kitab Ar-Radha' (Penyusuan), bab "Hak Istri atas Suami" - dikonfirmasi lewat getChapterFor('tirmidzi', 1162) di server/lib/hadith-chapters.js. Diriwayatkan dari jalur Muhammad bin 'Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih, dan menyebutkan adanya riwayat semakna dari 'Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum. Teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Muslim no. 6543 (nomor urut data primer Ngaji Sanad sendiri, hadith-api/books/muslim.json), Kitab Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab, bab ke-10 "Haramnya Menzalimi, Menelantarkan, dan Merendahkan Seorang Muslim" - dikonfirmasi lewat getChapterFor('muslim', 6543) di server/lib/hadith-chapters.js. Diriwayatkan dari jalur Ja'far bin Burqan dari Yazid bin Al-Asham dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩Atsar yang umumnya dinisbatkan kepada Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat 181 H). Redaksi ini, per riset sesi ini terhadap sumber sekunder berbahasa Arab, tercatat antara lain dalam kitab biografi Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra' karya Ibnul Jazari (wafat 833 H) - sebuah kitab biografi ulama yang disusun berabad-abad setelah masa Ibnul Mubarak sendiri, sehingga disajikan di sini sebagai warisan ungkapan yang masyhur dikutip di kalangan penuntut ilmu, bukan sebagai atsar yang sanadnya telah diverifikasi ulang secara independen dalam sesi penulisan ini. Ibnul Mubarak sendiri adalah ulama generasi tabi'ut tabi'in (bukan sahabat maupun tabi'in), sehingga perkataannya dikutip di sini sebagai nasihat seorang ulama, bukan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maupun atsar sahabat/tabi'in.
↩Atsar yang umumnya dinisbatkan kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat 179 H), dikutip secara luas dalam literatur adab thalabul ilmi sebagai nasihat beliau kepada seorang pemuda dari kalangan Quraisy yang hendak belajar hadits kepadanya. Sama seperti catatan pada atsar Ibnul Mubarak di atas, redaksi ini dikutip dari sumber sekunder berbahasa Arab dan belum diverifikasi ulang isnadnya secara independen dalam sesi penulisan ini, sehingga disajikan sebagai warisan nasihat ulama, bukan dalil yang berdiri setara dengan dua hadits shahih pada bagian pertama dan kedua artikel ini.
↩