Bab sebelumnya membahas sejarah dan adab dasar menulis hadits. Bab ini membahas sistem simbol khusus yang dipakai ulama untuk menandai status verifikasi sebuah naskah, sekaligus kode singkatan yang mereka pakai untuk merujuk kitab-kitab induk.
At-Tash-hih wat-Tamridh - Simbol Verifikasi Naskah
Alfiyah al-'Iraqi merumuskan definisi kedua istilah ini dalam dua bait, yang lalu ditegaskan ulang As-Sakhawi dalam satu kalimat ringkas:
وَمَرَّضُوا فَضَبَّبُوا صَادًا تُمَدْ ... فَوْقَ الَّذِي صَحَّ وُرُودًا وَفَسَد
"Mereka menuliskan (kata) 'shah' (sah) di atas bagian yang terpapar keraguan, apabila penukilan dan maknanya (tetap) diridhai (dibenarkan). Dan mereka men-tamridh dengan membuat tanda dhabbah (setengah lingkaran) berbentuk huruf shad yang dipanjangkan, di atas bagian yang shahih periwayatannya namun rusak (dari sisi makna/susunan)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 590-591, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 3 hlm. 92)
Ketika ulama menyalin atau memeriksa sebuah naskah hadits, mereka memakai simbol-simbol khusus untuk menandai status setiap bagian teks:
- At-tash-hih - tanda "صح" (sah/shahih) yang ditulis di atas sebuah kata atau kalimat, menandakan bagian itu sudah diperiksa dan dicocokkan dengan naskah aslinya, dan dinyatakan benar.1
- At-tamridh - tanda garis kecil yang tidak sempurna/terputus (menyerupai bentuk yang "sakit", karena itu disebut tamridh dari kata maridh, sakit) yang diletakkan di atas sebuah kata, menandakan bagian itu masih diragukan - mungkin ada versi bacaan lain (riwayat yang berbeda), atau belum sempat dicocokkan penuh dengan naskah rujukan.2
Sistem tanda ini mencerminkan betapa telitinya tradisi ulama hadits dalam menjaga akurasi naskah - setiap generasi penyalin diharapkan tidak hanya menyalin kata demi kata, tapi juga mewariskan informasi tentang seberapa yakin status verifikasi setiap bagian teks itu kepada generasi berikutnya.
Ar-Ramz - Kode Singkatan Kitab-Kitab Induk
Alfiyah al-'Iraqi menyinggung praktik ar-ramz ini dalam bab tentang rumuz para penulis (rumuzul kuttab), meski contoh klasiknya adalah kode untuk membedakan jalur riwayat seorang perawi, bukan cuma nama kitab:
Ar-ramz adalah sistem simbol singkat (biasanya satu huruf) yang dipakai ulama untuk menandai kitab hadits mana saja yang meriwayatkan sebuah hadits tertentu, tanpa harus menuliskan nama kitab itu secara lengkap berulang kali.3 Sistem ini sangat berguna dalam kitab-kitab yang membandingkan riwayat lintas kitab, seperti Tuhfatul Asyraf karya Al-Mizzi atau kitab-kitab takhrij lainnya. Contoh kode yang umum dipakai:
- خ - untuk Shahih al-Bukhari
- م - untuk Shahih Muslim
- د - untuk Sunan Abu Dawud
- ت - untuk Jami' At-Tirmidzi
- ن - untuk Sunan An-Nasa'i
- ق - untuk Sunan Ibnu Majah
Enam kode inilah yang jadi rujukan sistem penandaan Kutubus Sittah di banyak kitab takhrij klasik - kalau kamu menemukan simbol gabungan seperti ع (memakai huruf 'ain), itu biasanya menandakan hadits tersebut diriwayatkan oleh seluruh (atau mayoritas) kitab dalam kelompok Kutubus Sittah.
Bab selanjutnya membahas topik yang berkaitan erat: ragam lafaz yang dipakai perawi untuk menyampaikan riwayatnya, dan bagaimana setiap lafaz itu menyiratkan tingkat kekuatan periwayatan yang berbeda.
Catatan & Referensi
Definisi at-tash-hih sebagai tanda verifikasi naskah dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits mengikuti rumusan Ibnu Shalah.
↩Definisi at-tamridh sebagai tanda keraguan/belum terverifikasi penuh dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, mengikuti rumusan Ibnu Shalah.
↩Sistem ar-ramz (kode singkatan kitab-kitab induk) dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, dan dipakai luas dalam kitab-kitab takhrij klasik seperti Tuhfatul Asyraf karya Al-Mizzi.
↩