At-Tadzkirah Bab 66: Perawi yang Kitabnya Terbakar atau Hilang

وَمَنِ احْتَرَقَتْ كُتُبُهُ أَوْ ذَهَبَتْ، فَيَرْجِعُ إِلَى حِفْظِهِ فَسَاءَ
"Dan [dibahas pula] perawi yang catatan tertulisnya terbakar atau hilang, sehingga ia terpaksa kembali mengandalkan hafalannya semata - dan hafalannya pun jadi memburuk [karena sebelumnya terbiasa mengandalkan catatan]."

Kasus ini adalah kelanjutan alami dari bab 34 (kitabatul-hadits) yang menegaskan pentingnya dhabt al-kitab (ketelitian lewat catatan tertulis) sebagai salah satu bentuk sah kredibilitas seorang perawi. Sebagian perawi yang terbiasa mengandalkan catatan tertulisnya, ketika catatan itu hilang atau terbakar, mengalami penurunan kualitas periwayatan karena terpaksa mengandalkan hafalan murni yang tidak seterlatih perawi lain yang memang mengandalkan dhabt ash-shadr (hafalan di dada) sejak awal. Ulama hadits mencatat kasus-kasus semacam ini untuk membedakan riwayat perawi tersebut SEBELUM dan SESUDAH musibah kehilangan catatannya, sama seperti kaidah al-ikhtilath di bab sebelumnya.

Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email