"Dan [dibahas pula] seorang guru yang diriwayatkan darinya oleh dua murid yang jarak wafat keduanya berjauhan - seperti As-Sarraj, yang diriwayatkan darinya oleh Al-Bukhari sendiri, dan juga oleh Al-Khaffaf, sementara jarak wafat keduanya (Al-Bukhari dan Al-Khaffaf) mencapai 137 tahun atau lebih."
Fenomena ini dikenal dalam ilmu rijal sebagai as-sabiq wal-lahiq (yang mendahului dan yang belakangan) - satu guru yang sama diriwayatkan oleh dua murid, salah satunya wafat jauh lebih dahulu (as-sabiq) dan yang lain wafat jauh belakangan (al-lahiq), meski keduanya sama-sama murid langsung guru itu. Contoh yang disebut Ibnul Mulaqqin cukup ekstrem: Imam Al-Bukhari (wafat 256H) dan seorang murid lain bernama Al-Khaffaf sama-sama meriwayatkan dari guru yang sama, padahal jarak wafat keduanya lebih dari satu abad - menunjukkan betapa panjangnya usia sang guru, atau betapa mudanya salah satu murid saat pertama kali berguru.
Mengetahui fenomena ini penting agar seorang penuntut ilmu tidak keliru mengira dua orang dengan jarak wafat sangat jauh yang meriwayatkan dari "guru yang sama" pasti menunjukkan kekeliruan penulisan atau dua guru berbeda dengan nama sama - padahal itu bisa saja benar-benar sah, seperti kasus di atas.
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.
Catatan & Referensi
Al-Khathib Al-Baghdadi menulis kitab khusus soal fenomena ini, As-Sabiq wal-Lahiq, yang sudah diterbitkan. Teks matan dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).
↩