At-Tadzkirah Bab 45: Riwayatul Akabir 'anil Ashaghir

وَمَنْ رَوَى مِنَ الْأَكَابِرِ عَنِ الْأَصَاغِرِ؛ كَرِوَايَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ وَالصِّدِّيقِ، وَغَيْرِهِمَا. وَيُلَقَّبُ أَيْضًا بِرِوَايَةِ الْفَاضِلِ عَنِ الْمَفْضُولِ، وَرِوَايَةِ الشَّيْخِ عَنِ التِّلْمِيذِ؛ كَرِوَايَةِ الزُّهْرِيِّ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، وَرَبِيعَةَ، وَغَيْرِهِمْ، عَنْ مَالِكٍ
1
"Dan [dibahas pula] perawi senior (akabir) yang meriwayatkan dari perawi junior (ashaghir) - seperti riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Tamim Ad-Dari dan Ash-Shiddiq (Abu Bakar), dan lainnya. Fenomena ini juga disebut riwayat orang yang lebih utama dari yang kurang utama (riwayatul-fadhil 'anil-mafdhul), dan riwayat seorang guru dari muridnya sendiri (riwayatusy-syaikh 'anit-tilmidz) - seperti riwayat Az-Zuhri, Yahya bin Sa'id, dan Rabi'ah, dari [murid mereka sendiri,] Malik [bin Anas]."

Fenomena ini terlihat aneh sekilas - bagaimana mungkin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai sumber utama syariat, justru meriwayatkan sesuatu DARI sahabatnya? Contohnya adalah kisah Tamim Ad-Dari yang menceritakan pertemuannya dengan Jassasah dan Dajjal, yang kemudian dibenarkan dan disampaikan ulang oleh Nabi kepada para sahabat lain. Dalam kasus seperti ini, Nabi berperan menyampaikan sebuah kisah/informasi yang beliau dengar, bukan menyampaikan wahyu - status kenabian beliau tidak berkurang sedikit pun, karena periwayatan semacam ini hanya soal transmisi informasi, bukan soal sumber hukum syariat.

Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Catatan & Referensi

  1. Teks matan dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email