"Dan [dibahas pula] perawi senior (akabir) yang meriwayatkan dari perawi junior (ashaghir) - seperti riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Tamim Ad-Dari dan Ash-Shiddiq (Abu Bakar), dan lainnya. Fenomena ini juga disebut riwayat orang yang lebih utama dari yang kurang utama (riwayatul-fadhil 'anil-mafdhul), dan riwayat seorang guru dari muridnya sendiri (riwayatusy-syaikh 'anit-tilmidz) - seperti riwayat Az-Zuhri, Yahya bin Sa'id, dan Rabi'ah, dari [murid mereka sendiri,] Malik [bin Anas]."
Fenomena ini terlihat aneh sekilas - bagaimana mungkin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai sumber utama syariat, justru meriwayatkan sesuatu DARI sahabatnya? Contohnya adalah kisah Tamim Ad-Dari yang menceritakan pertemuannya dengan Jassasah dan Dajjal, yang kemudian dibenarkan dan disampaikan ulang oleh Nabi kepada para sahabat lain. Dalam kasus seperti ini, Nabi berperan menyampaikan sebuah kisah/informasi yang beliau dengar, bukan menyampaikan wahyu - status kenabian beliau tidak berkurang sedikit pun, karena periwayatan semacam ini hanya soal transmisi informasi, bukan soal sumber hukum syariat.
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.
Catatan & Referensi
Teks matan dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).
↩