At-Tadzkirah Bab 41: At-Tarjih Bainar-Ruwah (Tarjih Antar Riwayat)

وَالتَّرَاجِيحُ بَيْنَ الرُّوَاةِ مِنْ جِهَةِ كَثْرَةِ الْعَدَدِ مَعَ الِاسْتِوَاءِ فِي الْحِفْظِ، مِنْ جِهَةِ الْعَدَدِ أَيْضًا، مَعَ التَّبَايُنِ فِيهِ. وَغَيْرُ ذَلِكَ
1
"Dan (dibahas pula) at-tarajih (pengunggulan) antar riwayat para perawi - dari sisi banyaknya jumlah jalur ketika kekuatan hafalan mereka setara, atau dari sisi jumlah itu juga ketika kekuatan hafalannya berbeda-beda. Serta faktor-faktor lain [yang bisa dipakai]."

Bab ini melengkapi bab 25 (Mukhtalif) yang sudah menyebut tarjih sebagai salah satu jalan menyelesaikan dua hadits yang tampak bertentangan. Di sini Ibnul Mulaqqin merinci dua faktor dasar tarjih: pertama, ketika kekuatan hafalan para perawi di kedua riwayat SETARA, maka riwayat dengan jumlah jalur lebih banyak yang diunggulkan; kedua, ketika kekuatan hafalannya justru BERBEDA, jumlah jalur tetap menjadi pertimbangan tapi harus ditimbang bersama kualitas hafalan itu sendiri - riwayat dari satu perawi yang sangat kuat hafalannya kadang tetap diunggulkan atas riwayat dari banyak perawi yang hafalannya biasa saja.

Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Catatan & Referensi

  1. Contoh yang disebut pensyarah: hadits Al-Jassasah yang panjang dalam Shahih Muslim no. 2943 - dalam At-Tawdih al-Abhar disebutkan maksudnya adalah kisah tentang adzan dalam hadits itu.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email