"Dan (dibahas pula) sifat periwayatan dan cara menyampaikannya (ada'), termasuk di dalamnya riwayat bil-ma'na (meriwayatkan dengan makna) dan ikhtishar al-hadits (meringkas hadits)."
Riwayat bil-ma'na - menyampaikan hadits dengan makna yang sama tapi tidak persis kata demi kata seperti lafal aslinya - adalah persoalan klasik yang diperdebatkan ulama: sebagian membolehkannya secara mutlak, sebagian lain hanya membolehkannya bagi perawi yang benar-benar mengerti bahasa Arab secara mendalam (agar tidak mengubah makna), dan sebagian lagi hanya membolehkannya untuk hadits-hadits non-ibadah mahdhah. Persoalan ini penting karena menyangkut sejauh mana teks hadits yang sampai ke kita hari ini benar-benar identik dengan lafal asli Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ikhtishar al-hadits (meringkas hadits, mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lain) juga punya syarat ketat: bagian yang ditinggalkan tidak boleh mengubah makna atau hukum dari bagian yang diambil, dan perawi yang meringkas harus benar-benar memahami keterkaitan antar bagian hadits itu.
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.
Catatan & Referensi
Teks matan dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).
↩