Setelah membahas jenis-jenis hadits berdasarkan sanad dan matannya, At-Tadzkirah beralih ke pembahasan tentang PERAWI itu sendiri:
Dua syarat ini - al-'adl dan adh-dhabit - adalah fondasi dari SELURUH bangunan klasifikasi hadits yang sudah dibahas di bab-bab sebelumnya. Al-'adl berarti perawi itu muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan menjaga muru'ah (kehormatan dirinya); adh-dhabit berarti hafalannya kuat (dhabt ash-shadr) atau catatannya terjaga rapi (dhabt al-kitab). Ilmu al-jarh wat-ta'dil - mengkritik (jarh) atau memuji (ta'dil) kredibilitas seorang perawi berdasarkan penelitian riwayat hidupnya - adalah cabang ilmu hadits yang paling menentukan status shahih-hasan-dha'if suatu riwayat, karena seluruh definisi di bab-bab sebelumnya (munkar, syadz, dan lainnya) pada akhirnya bermuara pada penilaian terhadap perawi.
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.