At-Tadzkirah Bab 28: Al-I'tibar dalam Meneliti Sanad

وَالِاعْتِبَارُ: وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ - مَثَلًا - حَدِيثًا، لَا يُتَابَعُ عَلَيْهِ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
"Al-I'tibar adalah, misalnya, ketika Hammad bin Salamah meriwayatkan sebuah hadits - yang tidak ada perawi lain yang menyertainya - dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah."

Al-i'tibar bukan status sebuah hadits, melainkan PROSES penelitian yang dilakukan ulama hadits: ketika ditemukan sebuah riwayat yang tampak diriwayatkan sendirian oleh satu perawi (seperti Hammad bin Salamah dalam contoh Ibnul Mulaqqin), ulama hadits menelusuri kembali (i'tibar) apakah ada jalur lain - baik dari guru yang sama (Ayyub) maupun dari sahabat yang sama (Abu Hurairah) lewat jalur berbeda - yang bisa menguatkan riwayat itu. Hasil dari proses i'tibar inilah yang melahirkan dua istilah di bab-bab berikutnya: mutaba'ah (jika ditemukan penguat sejalur) dan syahid (jika ditemukan penguat semakna dari sahabat berbeda).

Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email