"Musalsal adalah riwayat yang para perawi sanadnya, secara berurutan, memiliki sifat atau kondisi yang sama. Hadits shahih jarang ditemukan berstatus musalsal sekaligus."
Sifat yang "berantai" (musalsal, dari kata silsilah/rantai) itu bisa berkaitan dengan CARA periwayatannya (misalnya setiap perawi berjabat tangan dengan gurunya saat menyampaikan riwayat itu, atau membaca ayat tertentu sebelum meriwayatkannya) maupun dengan SIFAT perawinya sendiri (misalnya semuanya berasal dari kota yang sama, atau semuanya seorang qadhi/hakim). Karena syarat ini terpisah dari syarat-syarat keshahihan (sanad bersambung, perawi tsiqah, dst), sebuah hadits bisa musalsal tanpa otomatis shahih - bahkan menurut catatan pensyarah, kebanyakan hadits musalsal justru TIDAK mencapai derajat shahih, karena perhatian dalam meriwayatkannya lebih tertuju pada menjaga kesinambungan sifat itu sendiri, bukan pada memenuhi syarat-syarat keshahihan sanad.
Musalsal tetap dianggap berharga secara tradisi keilmuan - salah satu yang paling masyhur adalah "musalsal bil-awwaliyyah" (hadits pertama yang diajarkan seorang guru kepada muridnya), yang biasanya berisi hadits kasih sayang (rahmah).
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.
Catatan & Referensi
Sedikit hadits musalsal yang berstatus shahih, karena perhatian dalam periwayatannya lebih pada menjaga kesinambungan sifat itu, bukan syarat-syarat keshahihan. Teks matan dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).
↩