At-Tadzkirah Bab 12: Tadlis dalam Periwayatan Hadits

وَالتَّدْلِيسُ: وَهُوَ مَكْرُوهٌ جِدًّا - وَهِيَ كَرَاهَةُ تَحْرِيمٍ - لِأَنَّهُ يُوهِمُ اللِّقَاءَ وَالْمُعَاصَرَةَ، بِقَوْلِهِ: «قَالَ فُلَانٌ...» وَهُوَ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ، وَهَذَا يُسَمَّى "تَدْلِيسَ الْإِسْنَادِ". وَهُوَ فِي الشُّيُوخِ أَخَفُّ، وَذَلِكَ بِأَنْ يَصِفَ الرَّاوِي شَيْخَهُ بِوَصْفٍ لَا يُعْرَفُ بِهِ كَيْ يُوعِرَ طَرِيقَ مَعْرِفَتِهِ
"Tadlis sangat dibenci - kebenciannya setara mendekati haram - karena ia memberi kesan seolah-olah dua perawi pernah bertemu dan hidup semasa, padahal tidak, dengan ucapan 'Fulan berkata...' padahal ia tidak pernah mendengar riwayat itu darinya. Inilah yang disebut tadlis al-isnad. Adapun tadlis pada guru (tadlis asy-syuyukh) statusnya lebih ringan, yaitu ketika seorang perawi menyebut gurunya dengan sebutan yang tidak dikenal orang, agar jalan mengenalinya jadi sulit."

Tadlis al-isnad adalah salah satu penyakit sanad paling serius, karena ia berbeda dari mursal khafi (bab 8) yang keterputusannya tidak disadari - pada tadlis, perawi TAHU dirinya tidak mendengar langsung dari orang yang ia sebut, tapi tetap memilih kata yang menyamarkan itu ('an, qala) alih-alih berterus terang. Karena itu ulama hadits, di antaranya Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj, menyamakan tadlis dengan saudara dari dusta:

التَّدْلِيسُ أَخُو الْكَذِبِ
"Tadlis adalah saudaranya dusta." (Perkataan Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj, dinukil Imam Asy-Syafi'i darinya, dikutip Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah fi 'Ilmi Ar-Riwayah)

Peringatan ini sejalan dengan larangan tegas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam soal berdusta atas nama beliau, yang sudah dibahas di bab 1 - tadlis pada dasarnya adalah jalan menuju kedustaan itu, meski pelakunya sendiri mungkin tidak menyadarinya sebagai kedustaan penuh.

Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email