أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memegang pundakku lalu bersabda: 'Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing, atau seorang yang lewat dalam perjalanan.'" (HR. Al-Bukhari)1
Hadits ke-40 Arbain Nawawi ini pendek, tapi menjadi salah satu rumusan paling padat tentang zuhud, sikap batin seorang mukmin terhadap dunia, dalam seluruh khazanah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dua kalimat perumpamaan, "orang asing" dan "orang yang lewat dalam perjalanan", ternyata menyimpan dua tingkatan makna yang berbeda kalau ditelaah lebih dalam.
Pertama: Redaksi Lengkap dan Konteks Riwayatnya
Riwayat ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Melunakkan Hati (Ar-Riqaq), pada bab yang judulnya diambil langsung dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini, pola penamaan bab yang lazim ditemukan dalam Shahih al-Bukhari. Dalam riwayat aslinya, hadits ini sebenarnya diikuti oleh satu kalimat tambahan yang bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan nasihat praktis dari Ibnu Umar sendiri, tercatat dalam sanad yang sama:
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
"Ibnu Umar juga berkata: 'Bila engkau berada di sore hari, jangan menunggu datangnya pagi. Bila engkau berada di pagi hari, jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.'" (HR. Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq bab 3, riwayat sama dengan matan di atas)2
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa tambahan ini bukan bagian dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan atsar (perkataan) Ibnu Umar sendiri, hasil pemahamannya sendiri atas hadits gurunya, yang beliau turunkan jadi nasihat praktis sehari-hari. Ibnu Rajab menyebutnya sebagai bentuk paling ekstrem dari qashrul amal (memendekkan angan-angan panjang terhadap dunia).3
Kedua: Dua Tingkatan Makna - Orang Asing dan Musafir
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa dua perumpamaan dalam hadits ini, ghariib (orang asing) dan 'aabiru sabiil (orang yang sekadar lewat dalam perjalanan), sebenarnya menggambarkan dua kondisi batin yang berbeda tingkatannya, bukan sinonim yang saling menggantikan begitu saja.
Tingkat pertama, orang asing (ghariib). Ini menggambarkan seorang mukmin yang menetap sementara di negeri asing. Jasadnya berada di sana, tapi hatinya senantiasa terpaut pada tanah airnya sendiri, tempat ia akan kembali. Ia tidak iri pada kedudukan penduduk asli negeri itu, dan tidak berkecil hati kalau diperlakukan rendah di sana, karena kesadarannya penuh bahwa ini bukan tempatnya yang sebenarnya. Seluruh perhatiannya tercurah untuk mengumpulkan bekal demi perjalanan pulang.
Tingkat kedua, musafir (aabiru sabiil). Ini gambaran yang lebih dalam lagi: seorang mukmin yang bahkan tidak menganggap dirinya "menetap" di mana pun, sekalipun sementara. Siang dan malam terus membawanya melaju, dan satu-satunya yang ia pikirkan adalah bekal (zad) untuk perjalanan, bukan mengumpulkan harta di tempat yang akan segera ia tinggalkan. Tingkatan ini menuntut kesadaran yang lebih tinggi bahwa dunia ini, dari detik ke detik, sesungguhnya sedang berlalu, bukan sekadar tempat singgah sementara, melainkan jalan yang terus bergerak.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, salah satu ulama tabi'in yang sering dikutip Ibnu Rajab dalam kitab ini, merangkum sikap ini dengan kalimat pendek: "Seorang mukmin itu seperti orang asing: tidak berkecil hati karena kehinaan (dunia), dan tidak berlomba mengejar kemuliaannya."4
Ketiga: Hadits Pendukung - Perumpamaan Pengendara di Bawah Pohon
Kandungan hadits ini punya penguat langsung dari riwayat lain yang menggambarkan sikap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri terhadap dunia, dengan perumpamaan yang serupa persis:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah tidur di atas tikar hingga membekas di lambung beliau. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, andai kami buatkan alas yang lebih empuk untukmu." Beliau bersabda: "Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain seperti seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya." (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan shahih oleh beliau sendiri)5
Riwayat ini tercatat dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, kitab yang seluruh isinya memang membahas sikap seorang mukmin terhadap dunia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, meski kedudukannya sebagai utusan Allah dan pemimpin umat, memilih hidup sesederhana ini justru untuk mengajarkan langsung, lewat teladan bukan sekadar ucapan, makna "menjadi musafir" yang beliau sabdakan pada hadits ke-40 Arbain Nawawi.
Keempat: Hadits Pendukung Kedua - Dunia sebagai Penjara bagi Mukmin
Satu riwayat lain dari Sunan At-Tirmidzi, masih dalam Kitab Zuhud, melengkapi gambaran ini dengan perumpamaan yang sekilas terdengar berat, tapi sebenarnya menyimpan penghiburan tersendiri bagi seorang mukmin:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir." (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan shahih oleh beliau sendiri)6
Perumpamaan ini bukan berarti seorang mukmin harus menjalani hidup yang menyiksa. Maksudnya adalah perbandingan relatif: sebesar apa pun kenikmatan dunia yang didapat seorang mukmin, ia tidak sebanding dengan kenikmatan yang menantinya di akhirat, sehingga terasa seperti "penjara" jika dibandingkan dengan kebebasan tanpa batas yang akan ia rasakan kelak. Sebaliknya, bagi orang kafir yang tidak percaya adanya akhirat, dunia inilah satu-satunya "surga" yang akan pernah ia rasakan, sebab tidak ada kenikmatan lain yang menantinya setelah itu. Perumpamaan ini sejalan persis dengan gambaran "orang asing" dan "musafir" pada hadits ke-40: keduanya sama-sama mengingatkan bahwa kenikmatan dunia, betapa pun terasa nikmat saat ini, hanyalah bayang-bayang sementara dibanding apa yang menanti di kampung yang sesungguhnya.
Kelima: Zuhud Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Salah pemahaman yang paling sering muncul dari hadits semacam ini adalah menganggap zuhud berarti menjauhi harta, pekerjaan, atau kenikmatan dunia secara mutlak, seolah seorang mukmin sejati harus hidup miskin dan menolak segala kesenangan. Ini keliru. Zuhud, sebagaimana dipahami ulama Ahlus Sunnah, bukan soal seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar hatinya terikat padanya.
Seorang saudagar kaya yang hatinya tidak bergantung pada hartanya, yang siap melepaskannya kapan saja demi ketaatan kepada Allah, bisa jadi lebih zuhud daripada orang miskin yang justru hatinya dipenuhi ambisi dan iri terhadap harta orang lain. Yang ditekankan hadits ini adalah kesadaran akan sifat sementara dunia: apa pun yang dimiliki seseorang di sini, cepat atau lambat akan ditinggalkan, sebagaimana seorang musafir yang tidak pernah benar-benar "memiliki" tempat yang ia lewati dalam perjalanannya.
Keenam: Nasihat Praktis Ibnu Umar dan Relevansinya Hari Ini
Nasihat tambahan Ibnu Umar, jangan menunggu pagi saat sore, jangan menunggu sore saat pagi, pergunakan sehat sebelum sakit dan hidup sebelum mati, adalah penerapan konkret dari kesadaran "menjadi musafir" ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia bukan ajakan untuk hidup dalam kecemasan berlebihan terhadap kematian, melainkan pengingat untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan dengan alasan "nanti masih ada waktu", karena seorang musafir sejati tidak pernah tahu pasti kapan perjalanannya akan berakhir.
Di tengah budaya modern yang justru mendorong sebaliknya, menumpuk rencana jangka panjang, menunda kebahagiaan demi pencapaian duniawi yang tak kunjung usai, kesadaran seperti ini jadi pengingat yang relevan. Bukan berarti berhenti merencanakan masa depan, tapi menempatkan rencana itu dalam bingkai yang benar: dunia ini singgahan sementara, dan bekal yang benar-benar berarti dibawa pulang adalah amal, bukan aset yang ditinggalkan begitu saja.
Penutup
Hadits ke-40 Arbain Nawawi ini, dengan perumpamaan orang asing dan musafir, mengajarkan sebuah kesadaran mendasar: dunia bukan tempat tinggal permanen seorang mukmin, melainkan jalan yang harus dilalui menuju kampung akhirat yang sesungguhnya. Kesadaran ini, sebagaimana hadits ke-39 Arbain Nawawi tentang luasnya ampunan Allah atas kesalahan tak sengaja yang dibahas sebelumnya, sama-sama menunjukkan betapa hadits-hadits pendek dalam koleksi ini menyimpan fondasi besar bagi cara pandang seorang mukmin menjalani hidupnya. Pembahasan hadits-hadits Arbain Nawawi lainnya bisa diikuti di halaman kitab ini.
Catatan & Referensi
Teks Arab dan terjemahan dikutip langsung dari data hadits Shahih al-Bukhari nomor 6416 (Kitab Ar-Riqaq bab 3, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma) yang sudah diverifikasi melalui proses kurasi Kutubus Sittah Ngajisanad, judul bab sendiri persis mengutip sabda ini. Redaksi ini cocok persis dengan matan yang dikutip Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah (dikonfirmasi silang lewat teks Arab Wikisource untuk koleksi ini). Lihat /hadits/bukhari/6416/.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip dari baris riwayat yang sama dengan catatan 1 di atas (nomor 6416); tambahan perkataan Ibnu Umar ini tercatat menyatu dalam satu sanad dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atasnya. Lihat /hadits/bukhari/6416/.
↩Penjelasan tentang status atsar Ibnu Umar (bukan bagian sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) dan istilah qashrul amal dibaca langsung dari syarah Ibnu Rajab al-Hanbali (Jami' al-'Ulum wal-Hikam, hadits ke-40) via islamweb.net.
↩Dua tingkatan makna "ghariib" dan "aabiru sabiil", kutipan perkataan Al-Hasan Al-Bashri, dan kutipan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang dunia yang berlalu-akhirat yang mendekat, semuanya dibaca langsung dari syarah Ibnu Rajab al-Hanbali (Jami' al-'Ulum wal-Hikam, hadits ke-40) via islamweb.net, bukan kutipan dari sumber sekunder berbahasa Indonesia.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip langsung dari data hadits Sunan At-Tirmidzi nomor 2377 (Kitab Zuhud bab 44, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu) yang sudah diverifikasi melalui proses kurasi Kutubus Sittah Ngajisanad, penilaian "hasan shahih" tercatat langsung dari perkataan Imam At-Tirmidzi sendiri di akhir riwayat. Lihat /hadits/tirmidzi/2377/.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip langsung dari data hadits Sunan At-Tirmidzi nomor 2324 (Kitab Zuhud bab 16, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) yang sudah diverifikasi melalui proses kurasi Kutubus Sittah Ngajisanad, penilaian "hasan shahih" tercatat langsung dari perkataan Imam At-Tirmidzi sendiri di akhir riwayat, yang juga mencatat riwayat serupa dari Abdullah bin 'Amr. Lihat /hadits/tirmidzi/2324/.
↩