عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 'Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.'" (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah, hadits ketiga belas)1
Hadits ketiga belas Arbain Nawawi ini menautkan kesempurnaan iman seseorang dengan sikapnya terhadap sesama - sebuah standar yang sederhana diucapkan namun berat dipraktikkan secara konsisten: mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan setia Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selama sepuluh tahun, hadits ini berstatus muttafaq 'alaih.
Pertama: Redaksi Hadits dan Keraguan Perawi tentang Satu Kata
Perbandingan dengan data hadits internal Ngaji Sanad menunjukkan redaksi An-Nawawi di atas cocok kata demi kata dengan riwayat Shahih al-Bukhari:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari, Kitab Iman, bab "Termasuk Bagian dari Iman, Mencintai untuk Saudaranya Apa yang Ia Cintai untuk Dirinya Sendiri", no. 13, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)2
Menariknya, riwayat Shahih Muslim untuk hadits yang sama justru mencatat sebuah keraguan dari perawi sendiri - apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut kata "saudaranya" (li-akhihi) atau "tetangganya" (li-jarihi):
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ - أَوْ قَالَ لِجَارِهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya - atau beliau berkata 'untuk tetangganya' - apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Muslim, Kitab Iman, bab "Dalil bahwa Di antara Sifat Iman adalah Mencintai untuk Saudaranya Sesama Muslim Kebaikan Sebagaimana Ia Mencintainya untuk Dirinya Sendiri", no. 170, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)3
Riwayat Muslim lain (nomor internal 171), lewat jalur perawi yang berbeda dari Anas bin Malik, bahkan menambahkan sumpah di awal kalimat dan membalik urutan keraguan (mendahulukan "tetangganya" baru "saudaranya"):
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ - أَوْ قَالَ لأَخِيهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga ia mencintai untuk tetangganya - atau beliau berkata 'untuk saudaranya' - apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Muslim, Kitab Iman, no. 171, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)4
An-Nawawi memilih redaksi Bukhari yang lebih tegas ("li-akhihi", tanpa keraguan perawi) sebagai matan utama hadits ini. Variasi riwayat semacam ini - di mana perawi sendiri jujur mencantumkan keraguannya antara dua kata yang mirip maknanya - justru menunjukkan kehati-hatian dan kejujuran para perawi dalam menyampaikan hadits, alih-alih memaksakan satu versi yang belum pasti mereka dengar persis.
Kedua: Makna "Tidak Beriman" - Peniadaan Kesempurnaan, Bukan Peniadaan Total
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa frasa "la yu'minu" (tidak beriman) dalam hadits ini bukan berarti orang yang belum mencintai saudaranya seperti dirinya sendiri keluar dari Islam sama sekali, melainkan tidak mencapai KESEMPURNAAN iman. Riwayat Imam Ahmad dengan matan berbeda menegaskan poin ini secara eksplisit:
لَا يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ
"Seorang hamba tidak mencapai hakikat iman sehingga ia mencintai untuk manusia apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri dari kebaikan." (Riwayat Imam Ahmad, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)5
Pola peniadaan iman semacam ini lazim ditemukan dalam hadits-hadits lain untuk menekankan kekurangan pada suatu amalan wajib, bukan menegasikan keimanan secara total:
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
"Tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman (sempurna), tidak mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman (sempurna), dan tidak meminum khamar seorang peminum ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman (sempurna)." (Muttafaq 'alaih, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)6
Para ulama berbeda pendapat tentang status pelaku dosa besar: apakah tetap disebut mukmin dengan iman yang berkurang, atau disebut muslim tanpa gelar mukmin. Ibnu Rajab mencatat, untuk pelaku dosa kecil, statusnya tidak hilang sama sekali sebagai mukmin - hanya berkurang sesuai kadar dosanya, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Rawahah dan Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhuma yang mengumpamakan iman seperti pakaian: kadang dikenakan seseorang, kadang dilepasnya - jika sempurna unsur imannya, ia mengenakannya utuh, jika berkurang sesuatu darinya, ia melepasnya sebagian.7
Ketiga: Rangkaian Hadits Pendukung tentang Mencintai Sesama
Ibnu Rajab mengumpulkan beberapa riwayat lain yang menguatkan dan memperluas makna hadits ini. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda langsung kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا
"Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim (yang baik)." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)8
Riwayat lain dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu mencatat, ketika ia bertanya tentang keimanan yang paling utama, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
أَفْضَلُ الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ لِلَّهِ وَتُبْغِضَ لِلَّهِ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ... أَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبَّ لِنَفْسِكَ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ
"Keimanan yang paling utama adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, engkau menggunakan lisanmu untuk mengingat Allah... (dan) engkau mencintai untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang engkau benci untuk dirimu sendiri, serta engkau berkata baik atau diam." (Riwayat Imam Ahmad, dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)9
Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengaitkan sifat ini langsung dengan masuknya seseorang ke surga:
أَتُحِبُّ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَحِبَّ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ
"'Apakah engkau mencintai surga?' Aku menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Maka cintailah untuk saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.'" (Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Yazid bin Asad Al-Qasri radhiyallahu 'anhu, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)10
Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah ajalnya menjemputnya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan.11
Keempat: Batasan Praktis - Bukan Berarti Menyamaratakan Semua Posisi
Ibnu Rajab mencatat sebuah riwayat penting yang menunjukkan bahwa "mencintai apa yang dicintai untuk diri sendiri" tetap mempertimbangkan kemampuan dan kepatutan masing-masing orang:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ
"Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya aku melihatmu lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri: janganlah engkau memimpin dua orang sekalipun, dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." (Riwayat Shahih Muslim, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam)12
Ibnu Rajab menjelaskan, larangan ini bukan kontradiksi dengan prinsip "mencintai untuk saudara seperti mencintai diri sendiri" - justru karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencintai kebaikan itu untuk SETIAP orang yang lemah seperti Abu Dzarr, sementara Nabi sendiri mengemban kepemimpinan karena Allah menguatkannya dan memerintahkannya mengurus umat. Prinsip mencintai kebaikan untuk sesama, dengan kata lain, tetap harus disesuaikan dengan kemampuan dan kepatutan masing-masing, bukan disamaratakan secara buta.
Kelima: Ilustrasi dari Generasi Salaf
Ibnu Rajab menyertakan sebuah kisah ringkas namun mengena dari Muhammad bin Watsi', seorang tabi'in, yang tengah menjual seekor keledai miliknya. Seseorang bertanya kepadanya, "Apakah engkau ridha keledai ini untukku (jika aku membelinya)?" Muhammad bin Watsi' menjawab, "Kalau aku ridha (dengan kondisinya), niscaya aku tidak akan menjualnya" - sebuah isyarat halus bahwa ia tidak akan merelakan orang lain menerima sesuatu yang ia sendiri tidak rela menerimanya.13 Kisah ini adalah contoh konkret bagaimana prinsip hadits ketiga belas Arbain diterapkan dalam muamalah sehari-hari - termasuk dalam transaksi jual beli, bukan hanya dalam hubungan persaudaraan secara abstrak.
Keenam: Relevansi Praktis di Tengah Masyarakat Majemuk
Standar "mencintai untuk saudara apa yang dicintai untuk diri sendiri" adalah tolok ukur yang bisa diterapkan dalam berbagai situasi konkret sehari-hari: kejujuran dalam berdagang (tidak menjual barang cacat tanpa memberitahu pembeli), kepedulian sosial (tidak diam saat tetangga kesulitan), hingga sikap dalam bermedia sosial (tidak menyebarkan sesuatu yang tidak ingin disebarkan tentang diri sendiri). Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga menggambarkan persaudaraan sesama mukmin lewat perumpamaan satu tubuh - jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.14 Standar ini juga menjadi salah satu fondasi kenapa adab dalam menuntut ilmu menekankan kepedulian dan kebaikan hati kepada sesama penuntut ilmu, bukan sekadar kompetisi individual.
Penutup
Hadits ketiga belas Arbain Nawawi ini menetapkan standar cinta persaudaraan yang tinggi sebagai bagian dari kesempurnaan iman: mencintai untuk saudara seiman apa yang dicintai untuk diri sendiri, bukan hanya menahan diri dari menyakitinya. Berbagai riwayat pendukung yang dikumpulkan Ibnu Rajab menunjukkan betapa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berulang kali menegaskan prinsip ini dengan cara berbeda-beda - dari kaitannya dengan surga hingga contoh konkret dalam muamalah. Prinsip ini melengkapi hadits kedua belas Arbain tentang meninggalkan apa yang tidak bermanfaat yang sudah dibahas sebelumnya - keduanya sama-sama menuntun seorang muslim menuju kualitas keislaman yang lebih tinggi, satu berorientasi ke dalam diri sendiri, satu lagi berorientasi kepada sesama. Pembahasan hadits-hadits Arbain Nawawi lainnya akan menyusul di kesempatan berikutnya.
Catatan & Referensi
Redaksi matan yang dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah dikutip dari transkripsi naskah kitab ini di ar.wikisource.org, dicek silang terhadap kutipan matan yang sama dalam Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam, syarah hadits ketiga belas (dibaca via islamweb.net) - keduanya cocok kata demi kata. Lihat bagian "Pertama" di badan artikel untuk perbandingan dengan data hadits Bukhari dan Muslim sendiri.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip langsung dari data hadits Shahih al-Bukhari nomor internal 13 (Kitab Iman, bab 7) yang sudah diverifikasi melalui proses kurasi Kutubus Sittah Ngaji Sanad, termasuk judul bab; lihat /hadits/bukhari/13/.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip langsung dari data hadits Shahih Muslim nomor internal 170 dan 171 (Kitab Iman, bab 19) yang sudah diverifikasi melalui proses kurasi Kutubus Sittah Ngaji Sanad, termasuk keraguan perawi antara "li-akhihi" dan "li-jarihi"; lihat /hadits/muslim/170/ dan /hadits/muslim/171/.
↩Penjelasan makna "la yu'minu" sebagai peniadaan kesempurnaan iman, riwayat Imam Ahmad dengan matan "la yablughu 'abdun haqiqatal-iman", dan hadits pembanding tentang pezina/pencuri yang tidak beriman ketika berbuat dosa, dikutip dan disintesis dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam, syarah hadits ketiga belas (dibaca via islamweb.net) - belum ditelusuri nomor spesifik riwayat Ahmad ini di data internal Ngaji Sanad dalam penulisan artikel ini.
↩Perumpamaan iman seperti pakaian dari Abdullah bin Rawahah dan Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhuma, serta diskusi status pelaku dosa besar/kecil, dikutip dan disintesis dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam (dibaca via islamweb.net).
↩Sabda Nabi kepada Abu Hurairah "ahibb linnasi ma tuhibbu linafsika" (diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) dan riwayat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu tentang keimanan yang paling utama (diriwayatkan Imam Ahmad), dikutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam, syarah hadits ketiga belas (dibaca via islamweb.net) - belum ditelusuri nomor spesifiknya di data internal Ngaji Sanad dalam penulisan artikel ini.
↩Riwayat Yazid bin Asad Al-Qasri radhiyallahu 'anhu tentang surga (Musnad Imam Ahmad) dan riwayat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma tentang dijauhkan dari neraka (Shahih Muslim), dikutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam (dibaca via islamweb.net) - belum ditelusuri nomor spesifiknya di data internal Ngaji Sanad dalam penulisan artikel ini.
↩Riwayat pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu (dicatat dalam Shahih Muslim menurut penyandaran Ibnu Rajab) dikutip dan diringkas dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam, syarah hadits ketiga belas (dibaca via islamweb.net) - belum ditelusuri nomor spesifiknya di data internal Ngaji Sanad dalam penulisan artikel ini.
↩Kisah Muhammad bin Watsi' dan keledainya, serta perumpamaan mukmin seperti satu tubuh (hadits Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu), dikutip dan diringkas dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam (dibaca via islamweb.net).
↩