Bab ini membahas hadits shahih, tingkatan tertinggi dari khabar maqbul (laporan yang diterima). Bab ini mencakup definisi hadits shahih, lima syarat yang harus terpenuhi, contoh penerapannya pada sebuah hadits riwayat Al-Bukhari, serta pembahasan shahih li ghairihi.
Pengertian Hadits Shahih
Seperti kebanyakan bab kitab ini, Ath-Thahhan membuka dengan definisi bahasa lalu istilah:
Lima Syarat Hadits Shahih
Definisi di atas mengandung sejumlah unsur yang harus terpenuhi semuanya agar sebuah hadits pantas disebut shahih. Ath-Thahhan merincinya satu per satu:
- Ittishalus Sanad (bersambungnya sanad)
أَنْ يَكُونَ كُلُّ رَاوٍ مِنْ رُوَاتِهِ قَدْ أَخَذَهُ مُبَاشَرَةً عَمَّنْ فَوْقَهُ، مِنْ أَوَّلِ السَّنَدِ إِلَى مُنْتَهَاهُ
"Bahwa setiap perawi dalam sanadnya benar-benar menerima riwayat itu langsung dari orang di atasnya, sejak awal sanad sampai ujungnya." - 'Adalatur Ruwah ('adil-nya setiap perawi)
أَيْ أَنَّ كُلَّ رَاوٍ مِنْ رُوَاتِهِ اتَّصَفَ بِكَوْنِهِ مُسْلِمًا، بَالِغًا، عَاقِلًا، غَيْرَ فَاسِقٍ، وَغَيْرَ مَحْرُومِ الْمُرُوءَةِ
"Yakni setiap perawi dalam sanadnya beragama Islam, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak kehilangan muru'ah (kehormatan diri)." - Dhabtur Ruwah (dhabt/ketelitian setiap perawi)
أَيْ أَنَّ كُلَّ رَاوٍ مِنْ رُوَاتِهِ كَانَ تَامَّ الضَّبْطِ؛ إِمَّا ضَبْطَ صَدْرٍ، وَإِمَّا ضَبْطَ كِتَابٍ
"Yakni setiap perawi dalam sanadnya sempurna dhabt-nya - baik dhabt shadr (hafalan luar kepala yang kuat) maupun dhabt kitab (catatan tertulis yang terjaga)." - 'Adamusy Syudzudz (tidak janggal)
أَيْ أَلَّا يَكُونَ الْحَدِيثُ شَاذًّا. وَالشُّذُوذُ: هُوَ مُخَالَفَةُ الثِّقَةِ لِمَنْ هُوَ أَوْثَقُ مِنْهُ
"Yakni hadits itu tidak syadz. Dan syudzudz adalah menyelisihinya seorang perawi tsiqah terhadap perawi lain yang lebih tsiqah darinya." - 'Adamul 'Illah (tidak ber-'illat)
أَيْ أَلَّا يَكُونَ الْحَدِيثُ مُعَلَّلًا، وَالْعِلَّةُ: سَبَبٌ غَامِضٌ خَفِيٌّ، يَقْدَحُ فِي صِحَّةِ الْحَدِيثِ، مَعَ أَنَّ الظَّاهِرَ السَّلَامَةُ مِنْهُ
"Yakni hadits itu tidak ber-'illat. Dan 'illat adalah sebab tersembunyi yang samar, yang mencacatkan keshahihan hadits, padahal secara lahiriah tampak selamat darinya."
Kelima poin di atas adalah rincian definisi yang disampaikan Ath-Thahhan.3
Contoh Hadits Shahih li Dzatihi
Ath-Thahhan lalu mempraktikkan kelima syarat ini pada satu hadits nyata yang diriwayatkan Al-Bukhari:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ
"Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib." (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Adzan, Bab Al-Jahr fil Maghrib, 2/247, hadits no. 765)5
Sanad hadits ini bersambung, karena setiap perawi mendengar langsung dari gurunya - termasuk Malik, Ibnu Syihab, dan Ibnu Jubair yang memakai lafal "'an" (dari), sebab ketiganya bukan perawi mudallis. Kelima perawinya juga 'adil dan dhabit: 'Abdullah bin Yusuf (tsiqah, sangat teliti), Malik bin Anas (imam, hafizh), Ibnu Syihab Az-Zuhri (faqih dan hafizh terkemuka, disepakati ulama atas kemuliaan dan ketelitiannya), Muhammad bin Jubair bin Muth'im (tsiqah), dan Jubair bin Muth'im (sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam). Tidak ada riwayat lebih kuat yang menyelisihinya (tidak syadz), dan hadits ini juga tidak mengandung 'illat apa pun.6
Hukumnya
Makna Ucapan "Hadits Shahih" dan "Hadits Ghairu Shahih"
Tingkatan Sanad Shahih
Sebagian ulama menyebut sanad tertentu sebagai "sanad paling shahih" (asahhul asanid) secara mutlak. Pendapat yang lebih hati-hati menilai tidak ada satu sanad pun yang bisa dipastikan paling shahih secara mutlak, karena jarang sekali satu sanad unggul pada seluruh syarat keshahihan sekaligus. Berdasarkan kekuatan para perawinya, hadits shahih tetap punya tiga tingkatan:10
- Sanad paling shahih, misalnya jalur Malik, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar.
- Sanad di bawah level pertama, misalnya jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas.
- Sanad yang baru memenuhi batas minimal predikat tsiqah, misalnya jalur Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.
Hadits shahih juga punya urutan tersendiri berdasarkan kitab yang meriwayatkannya, dari yang paling kuat kedudukannya:11
- Disepakati Al-Bukhari dan Muslim sekaligus (tingkatan tertinggi).
- Diriwayatkan Al-Bukhari sendiri.
- Diriwayatkan Muslim sendiri.
- Sesuai syarat keduanya, tapi tidak dikeluarkan oleh salah satunya.
- Sesuai syarat Al-Bukhari, tapi tidak dikeluarkannya.
- Sesuai syarat Muslim, tapi tidak dikeluarkannya.
- Shahih menurut ulama lain seperti Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, meski tidak sesuai syarat keduanya atau salah satunya.
Urutan ini yang paling sering dipakai ulama hadits saat menilai kekuatan relatif dua hadits shahih yang sama-sama valid.
Shahih li Ghairihi
Definisi shahih li ghairihi bertumpu pada satu istilah yang baru dibahas tuntas di bab 5: hasan li dzatihi (hadits yang seluruh syaratnya terpenuhi, hanya saja dhabt salah satu atau beberapa perawinya sedikit di bawah sempurna). Untuk sementara, cukup dipahami sebagai "hampir shahih, hanya kurang satu tingkat pada kekuatan hafalan perawinya" - bab 5 akan menjelaskannya lebih rinci. Ath-Thahhan mendefinisikan shahih li ghairihi sebagai berikut:
Ath-Thahhan sendiri meringkas logikanya lewat sebuah rumus sederhana:
Contoh yang dipakai Ath-Thahhan adalah hadits berikut:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
"Sekiranya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat." (Diriwayatkan Muhammad bin 'Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; HR. At-Tirmidzi, Kitab Ath-Thaharah, Bab Ma Ja-a fis Siwak, 1/34, hadits no. 22 - diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari lewat jalur Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah)16
Ibnu Shalah menjelaskan bahwa Muhammad bin 'Amr bin 'Alqamah dikenal jujur dan menjaga diri, tetapi bukan termasuk perawi yang sangat teliti - sebagian ulama mendhaifkannya karena hafalannya yang kurang kuat, sementara sebagian lain mentsiqahkannya karena kejujuran dan keutamaannya, sehingga riwayatnya sendiri berstatus hasan. Begitu hadits yang sama ternyata diriwayatkan pula lewat jalur-jalur lain, kekhawatiran atas kelemahan hafalannya menjadi tertutupi, dan sanad ini pun naik derajat menjadi shahih.17
Bab berikutnya melanjutkan pembahasan tingkatan khabar maqbul: hadits hasan, yang juga terbagi li dzatihi dan li ghairihi dengan logika serupa - termasuk definisi hasan li dzatihi yang jadi dasar rumus shahih li ghairihi di atas.
Catatan & Referensi
Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 35).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 35).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 35-36).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 36).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 36).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 36-37).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 37).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 37).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 37-38).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 38, 45).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 45-46).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 39).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 46).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 55).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 55).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 55).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 55-56).
↩