Bab-bab sebelumnya membahas Shahih dan Hasan li Dzatihi — kekuatan yang berdiri sendiri pada satu jalur. Tapi bagaimana kalau satu jalur itu sendiri tidak cukup kuat (misalnya perawinya mastur/kurang dikenal, atau haditsnya awalnya tampak gharib)? Di sinilah tiga alat penting ilmu hadits bekerja: i'tibar, mutaba'ah, dan syahid — cara ulama menaikkan derajat sebuah hadits lewat penelusuran jalur pendukung.
Mutaba'ah: Ketika Riwayat yang Tampak Gharib Ternyata Punya Kawan
وَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مِنَ الْفَرْدِ النِّسْبِيِّ؛ إِنْ وُجِدَ بَعْدَ ظَنِّ كَوْنِهِ فَرْدًا قَدْ وَافَقَهُ غَيْرُهُ؛ فَهُوَ الْمُتَابِعُ
"Fard Nisbi (Gharib Nisbi) yang tadi disebutkan — jika setelah disangka menyendiri ternyata ditemukan orang lain yang sejalan dengannya — maka itulah al-muttabi' (yang menjadi mutaba'ah)."1
Ingat bab Gharib Nisbi: sebuah hadits bisa tampak "menyendiri" di satu titik sanad tertentu, padahal sebenarnya punya jalur pendukung yang belum ditemukan. Mutaba'ah adalah nama untuk jalur pendukung itu ketika ditemukan — dan ia bertingkat:
وَالْمُتَابَعَةُ عَلَى مَرَاتِبَ: لِأَنَّهَا إِنْ حَصَلَتْ لِلرَّاوِي نَفْسِهِ؛ فَهِيَ التَّامَّةُ. وَإِنْ حَصَلَتْ لِشَيْخِهِ فَمَنْ فَوْقَهُ؛ فَهِيَ الْقَاصِرَةُ
"Mutaba'ah itu bertingkat-tingkat: jika terjadi pada perawi itu sendiri, itulah mutaba'ah tammah (sempurna). Jika terjadi pada gurunya atau yang di atasnya, itulah mutaba'ah qashirah (kurang/parsial)."2
Ibnu Hajar memberi contoh nyata: hadits riwayat Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm, dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, tentang penentuan awal-akhir Ramadhan lewat ru'yatul hilal. Sebagian orang mengira Asy-Syafi'i sendirian meriwayatkannya dari Malik — sampai ditemukan Abdullah bin Maslamah Al-Qa'nabi meriwayatkan hadits yang persis sama dari Malik (diriwayatkan Al-Bukhari darinya) — inilah mutaba'ah tammah. Ditemukan pula jalur lain lewat Ashim bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya (Ibnu Umar) dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, dan jalur 'Ubaidullah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar dalam Shahih Muslim — keduanya mutaba'ah qashirah, karena kesamaannya baru terjadi di atas Malik, bukan langsung pada perawi yang sama.
Syahid: Penguat dari Sahabat yang Berbeda
وَإِنْ وُجِدَ مَتْنٌ يُرْوَى مِنْ حَدِيثِ صَحَابِيٍّ آخَرَ يُشْبِهُهُ فِي اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى، أَوْ فِي الْمَعْنَى فَقَطْ؛ فَهُوَ الشَّاهِدُ
"Jika ditemukan matan yang diriwayatkan dari hadits sahabat lain, yang mirip dalam lafazh dan makna, atau dalam makna saja — maka itulah asy-syahid (penguat)."3
Bedanya dengan mutaba'ah: mutaba'ah adalah penguat yang berasal dari sahabat yang sama (jalur cabang berbeda tapi sumber sahabatnya sama), sedangkan syahid berasal dari sahabat yang berbeda sama sekali yang meriwayatkan matan serupa. Untuk hadits ru'yatul hilal di atas, Ibnu Hajar mencontohkan syahid berupa riwayat An-Nasa'i dari Muhammad bin Hunain dari Ibnu Abbas (mirip persis lafazhnya — syahid bil lafzhi) dan riwayat Al-Bukhari dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah (mirip maknanya saja — syahid bil ma'na).
Ibnu Hajar juga mencatat bahwa sebagian ulama membedakan pemakaian kedua istilah ini secara lebih longgar: mutaba'ah untuk kesamaan lafazh (baik dari sahabat sama atau beda), syahid untuk kesamaan makna saja — dan dalam praktiknya kedua istilah ini kadang dipakai saling bertukar tanpa masalah besar.
I'tibar: Proses di Baliknya
وَاعْلَمْ أَنَّ تَتَبُّعَ الطُّرُقِ مِنَ الْجَوَامِعِ وَالْمَسَانِيدِ وَالْأَجْزَاءِ لِذَلِكَ الْحَدِيثِ الَّذِي يُظَنُّ أَنَّهُ فَرْدٌ لِيُعْلَمَ هَلْ لَهُ مُتَابِعٌ أَمْ لَا هُوَ: الِاعْتِبَارُ
"Ketahuilah, bahwa proses menelusuri jalur-jalur dari kitab-kitab jami', musnad, dan juz-juz hadits, untuk sebuah hadits yang disangka menyendiri — untuk mengetahui apakah ia punya mutabi' atau tidak — itulah al-i'tibar."4
Ibnu Hajar mengoreksi cara sebagian orang memahami perkataan Ibnu Shalah, "mengetahui i'tibar, mutaba'at, dan syawahid" — seolah i'tibar setara/sejajar sebagai satu jenis tersendiri di samping mutaba'ah dan syahid. Padahal i'tibar bukan hasil, melainkan proses/cara untuk sampai pada penemuan mutaba'ah atau syahid. Seorang muhaddits yang melakukan i'tibar berarti sedang membuka kitab-kitab musnad, mu'jam, dan kumpulan-kumpulan hadits lain untuk memeriksa: adakah jalur lain yang bisa jadi penguat bagi hadits yang sedang ia teliti?
Kenapa Tiga Alat Ini Penting Sebelum Membahas Mukhtaliful Hadits
I'tibar, mutaba'ah, dan syahid adalah alasan kenapa sebuah hadits yang awalnya hasan (karena dhabt perawinya ringan) atau bahkan dhaif ringan (mastur, mudallas yang tidak jelas siapa yang disembunyikan, mukhtalith yang belum bisa dibedakan riwayat sebelum-sesudah ikhtilath) bisa naik derajat menjadi Hasan li Ghairihi atau bahkan Shahih li Ghairihi — bukan karena kekuatan dirinya sendiri, melainkan karena dikuatkan faktor luar (li ghairihi) berupa banyaknya jalur pendukung. Konsep inilah yang menjelaskan kenapa Nukhbatul Fikar menyebut "kalau ditemukan yang menutupi kekurangannya (jabir), seperti banyaknya jalur, maka ia Shahih juga — tapi bukan li dzatihi."
Dengan modal tiga alat ini, bab berikutnya bisa masuk ke pembahasan Al-Maqbul secara lebih luas: bagaimana kalau dua hadits yang sama-sama maqbul justru tampak saling bertentangan?
Catatan & Referensi
Definisi mutaba'ah dikutip dari naskah Nuzhatun Nazhar di Wikisource Arab (ar.wikisource.org, entri "نزهة النظر في توضيح نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").
↩Pembagian mutaba'ah tammah dan qashirah, beserta contoh hadits ru'yatul hilal, dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi syahid dan contohnya dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi i'tibar dan koreksi Ibnu Hajar atas pemahaman keliru terhadap perkataan Ibnu Shalah dikutip dari naskah yang sama.
↩