Nuzhatun Nazhar Bab 2: Gharib Mutlaq dan Gharib Nisbi

Bab sebelumnya menutup dengan empat kerangka dasar khabar: Mutawatir, Masyhur, 'Aziz, dan Gharib. Tiga yang pertama sudah selesai dijelaskan Ibnu Hajar dalam satu tarikan napas — tapi Gharib sengaja dipisah jadi bahasan tersendiri, baik di Nukhbatul Fikar maupun syarahnya ini, karena istilah ini punya dua wajah yang sangat berbeda konsekuensinya.

Definisi Dasar Gharib

Ibnu Hajar mendefinisikan Gharib sebagai:

الرَّابِعُ: الْغَرِيبُ، وَهُوَ: مَا يَتَفَرَّدُ بِرِوَايَتِهِ شَخْصٌ وَاحِدٌ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ وَقَعَ التَّفَرُّدُ بِهِ مِنَ السَّنَدِ
"Yang keempat: Gharib, yaitu apa yang seorang diri saja meriwayatkannya, di titik manapun dalam sanad terjadinya penyendirian itu."1

Perhatikan klausa terakhir: "di titik manapun dalam sanad" — inilah kunci pembagian Gharib menjadi dua jenis. Penyendirian seorang perawi bisa terjadi di pangkal sanad (dekat sahabat) atau di tengah/ujung sanad (dekat penulis kitab hadits). Konsekuensinya sangat berbeda, dan itulah yang dijelaskan bab ini.

Gharib Mutlaq: Penyendirian di Pangkal Sanad

ثُمَّ الْغَرَابَةُ إِمَّا أَنْ تَكُونَ فِي أَصْلِ السَّنَدِ؛ أَيْ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يَدُورُ الْإِسْنَادُ عَلَيْهِ وَيَرْجِعُ، وَلَوْ تَعَدَّدَتِ الطُّرُقُ إِلَيْهِ، وَهُوَ طَرَفُهُ الَّذِي فِيهِ الصَّحَابِيُّ... فَالْأَوَّلُ: الْفَرْدُ الْمُطْلَقُ
"Kegharibannya bisa terjadi di pangkal sanad — yaitu di titik tempat berputar dan kembalinya seluruh isnad, sekalipun jalur menuju titik itu banyak — yaitu ujungnya yang di situ ada sahabat... Yang pertama (ini) disebut Fard Mutlaq (Gharib Mutlaq)."2

Maksudnya: kalau sebuah hadits, sejauh yang bisa dilacak, hanya diriwayatkan oleh satu sahabat saja — sekalipun dari sahabat itu turun banyak jalur cabang lewat murid-muridnya — hadits itu tetap disebut Gharib Mutlaq, karena kegharibannya ada di titik paling pangkal (sumber pertama riwayat itu sendiri). Ibnu Hajar memberi contoh:

كَحَدِيثِ النَّهْيِ عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَعَنْ هِبَتِهِ؛ تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
"Seperti hadits larangan menjual dan menghibahkan hak wala' (hak perwalian atas budak yang dimerdekakan); Abdullah bin Dinar sendirian meriwayatkannya dari Ibnu Umar."3

Contoh lain yang beliau sebut adalah hadits soal cabang-cabang iman, yang di titik tabi'in juga hanya ada satu jalur (Abu Shalih dari Abu Hurairah), lalu satu jalur lagi di titik berikutnya (Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih) — penyendirian yang berlapis. Ibnu Hajar mencatat, di kitab-kitab seperti Musnad al-Bazzar dan Al-Mu'jam al-Ausath karya Ath-Thabrani, contoh semacam ini sangat banyak — karena kedua kitab itu memang secara khusus mengumpulkan riwayat-riwayat gharib.

Gharib Nisbi: Penyendirian yang "Relatif"

وَالثَّانِي: الْفَرْدُ النِّسْبِيُّ، سُمِّيَ نِسْبِيًّا لِكَوْنِ التَّفَرُّدِ فِيهِ حَصَلَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى شَخْصٍ مُعَيَّنٍ، وَإِنْ كَانَ الْحَدِيثُ فِي نَفْسِهِ مَشْهُورًا
"Yang kedua: Fard Nisbi (Gharib Nisbi), dinamakan 'nisbi' (relatif) karena penyendirian di dalamnya terjadi hanya relatif terhadap satu orang tertentu, sekalipun hadits itu sendiri (sesungguhnya) masyhur."4

Inilah yang membuat Gharib Nisbi terkesan membingungkan bagi pemula: sebuah hadits bisa saja diriwayatkan lewat banyak sekali sahabat (bahkan berstatus Masyhur atau lebih), tapi begitu sampai di satu titik tertentu — misalnya hanya satu murid tertentu dari seorang imam besar — jalur itu "menyempit" jadi satu orang saja. Kegharibannya bukan pada hadits itu secara keseluruhan, melainkan relatif pada satu jalur/perawi spesifik yang sedang dibicarakan.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa istilah "Fard" (mufrad/menyendiri) dan "Gharib" sebenarnya sinonim secara bahasa dan istilah, tapi para ulama musthalah hadits membedakan pemakaiannya: kata "Fard" lebih sering dipakai untuk Gharib Mutlaq, sedangkan "Gharib" lebih sering dipakai untuk Gharib Nisbi — meski dalam bentuk kata kerja ("tafarrada bihi fulan" / "agharaba bihi fulan"), keduanya dipakai bergantian tanpa dibedakan.

Kenapa Pembedaan Ini Penting

Konsekuensi praktisnya besar: Gharib Mutlaq — karena bergantung pada satu sumber pangkal saja — lebih rawan diperiksa ketat statusnya, karena tidak ada jalur pembanding sama sekali dari sahabat lain untuk saling menguatkan. Sementara Gharib Nisbi, sekalipun satu jalur spesifiknya menyendiri, hadits itu secara keseluruhan sudah punya "jaring pengaman" dari jalur-jalur lain yang independen — sehingga kelemahan di satu titik itu jauh lebih mudah dikompensasi.

Pembedaan inilah yang nanti menjadi fondasi konsep i'tibar, mutaba'ah, dan syahid — tiga alat yang dipakai ulama hadits untuk menelusuri apakah sebuah riwayat yang tampak menyendiri sebenarnya punya penguat dari jalur lain atau tidak, yang akan dibahas setelah pembahasan Shahih dan Hasan pada bab-bab berikutnya. Ini juga bersinggungan erat dengan pembahasan jenis-jenis hadits dhaif, karena banyak kategori kelemahan sanad justru ditemukan lewat penelusuran gharib semacam ini.

Catatan & Referensi

  1. Definisi Gharib dikutip dari naskah Nuzhatun Nazhar di Wikisource Arab (ar.wikisource.org, entri "نزهة النظر في توضيح نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").

  2. Definisi dan penjelasan Gharib Mutlaq dikutip dari naskah yang sama.

  3. Contoh hadits larangan jual-beli wala' ini juga dipakai Ibnu Hajar dalam kitab-kitab musthalah hadits lain sebagai contoh baku Gharib Mutlaq.

  4. Definisi dan penjelasan Gharib Nisbi dikutip dari naskah yang sama dengan catatan kaki 1-2.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email