Bab ini membahas istilah-istilah yang berkaitan dengan struktur dan komposisi sebuah sanad: seberapa dekat jaraknya ke Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ('uluw dan nuzul), dan bagaimana hubungan usia/generasi antar-perawi dalam satu sanad memengaruhi penamaannya.
Al-'Uluw: Sanad yang "Tinggi"
فَإِنْ قَلَّ عَدَدُهُ؛ أَيْ عَدَدُ رِجَالِ السَّنَدِ، فَإِمَّا أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِذَلِكَ الْعَدَدِ الْقَلِيلِ... أَوْ يَنْتَهِيَ إِلَى إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ... فَالْأَوَّلُ وَهُوَ مَا يَنْتَهِي إِلَى النَّبِيِّ: الْعُلُوُّ الْمُطْلَقُ... وَالثَّانِي: الْعُلُوُّ النِّسْبِيُّ
"Jika jumlah perawi sanadnya sedikit — bisa jadi berujung ke Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan jumlah sedikit itu (dibanding sanad lain untuk hadits yang sama), atau berujung ke seorang imam hadits besar (seperti Syu'bah, Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi'i, Al-Bukhari, Muslim). Yang pertama disebut al-'uluw al-muthlaq; yang kedua al-'uluw an-nisbi."1
'Uluw diinginkan karena semakin sedikit perantara sanad, semakin kecil kemungkinan kesalahan menyusup di antaranya — "setiap perawi dalam sebuah sanad berpotensi salah; makin banyak perantara, makin besar peluang kesalahan itu terjadi." Ibnu Hajar mencatat sebuah peringatan penting: kecintaan berlebihan pada 'uluw sampai membuat sebagian ulama generasi belakangan justru mengabaikan hal yang jauh lebih penting — kalau sanad yang lebih rendah (nuzul) ternyata punya keunggulan lain (perawinya lebih tsiqah, lebih hafizh, lebih faqih, atau ittishal-nya lebih jelas), maka nuzul itu yang lebih diutamakan, bukan sekadar mengejar jumlah perantara paling sedikit.
'Uluw nisbi sendiri punya empat sub-jenis: muwafaqah (sampai ke guru salah satu penulis kitab hadits terkenal lewat jalur berbeda dari jalur si penulis sendiri), badal (sampai ke guru dari gurunya penulis kitab, lewat jalur berbeda), musawah (jumlah perawi sanadnya sama dengan jumlah sanad seorang penulis kitab hadits sampai ke Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa memandang jalur spesifiknya), dan musafahah (setara dengan murid si penulis kitab, seolah-olah kita "berjabat tangan" dengannya).
Riwayat al-Aqran dan Al-Mudabbaj
فَإِنْ تَشَارَكَ الرَّاوِي وَمَنْ رَوَى عَنْهُ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالرِّوَايَةِ؛ مِثْلَ السِّنِّ وَاللِّقِيِّ... فَهُوَ النَّوْعُ الَّذِي يُقَالُ لَهُ: رِوَايَةُ الْأَقْرَانِ. وَإِنْ رَوَى كُلٌّ مِنْهُمَا؛ أَيِ الْقَرِينَيْنِ؛ عَنِ الْآخَرِ؛ فَهُوَ الْمُدَبَّجُ
"Jika seorang perawi dan orang yang ia riwayatkan darinya sama-sama sepadan dalam hal usia dan pertemuan dengan guru — itulah yang disebut riwayat al-aqran (riwayat sesama teman sebaya). Jika keduanya (yang sepadan itu) saling meriwayatkan satu sama lain — itulah al-mudabbaj."2
Jadi mudabbaj adalah bentuk khusus dari riwayat al-aqran: bukan sekadar sepadan usia, tapi keduanya benar-benar saling meriwayatkan (A meriwayatkan dari B, dan B juga meriwayatkan dari A). Ibnu Hajar menandaskan: kalau seorang guru meriwayatkan dari muridnya sendiri (bukan sesama, tapi arahnya justru terbalik), itu bukan mudabbaj — karena mudabbaj mensyaratkan kesetaraan dari dua sisi, sementara guru-murid punya arah yang khas tersendiri, yaitu riwayat al-akabir 'anil ashaghir.
Riwayat Al-Akabir 'Anil Ashaghir
وَإِنْ رَوَى الرَّاوِي عَمَّنْ هُوَ دُونَهُ فِي السِّنِّ أَوْ فِي اللِّقِيِّ أَوْ فِي الْمِقْدَارِ؛ فَهَذَا النَّوْعُ هُوَ رِوَايَةُ الْأَكَابِرِ عَنِ الْأَصَاغِرِ. وَمِنْهُ رِوَايَةُ الْآبَاءِ عَنِ الْأَبْنَاءِ، وَالصَّحَابَةِ عَنِ التَّابِعِينَ، وَالشَّيْخِ عَنْ تِلْمِيذِهِ
"Jika seorang perawi meriwayatkan dari orang yang lebih rendah darinya — baik dalam usia, waktu bertemu guru, maupun kedudukan keilmuan — inilah riwayat al-akabir 'anil ashaghir (yang senior meriwayatkan dari yang junior). Termasuk di dalamnya: riwayat bapak dari anak, riwayat sahabat dari tabi'in, dan riwayat guru dari muridnya sendiri."3
Ibnu Hajar mencatat fungsi mengetahui jenis ini: agar tidak keliru mengira sebuah riwayat "terbalik" arahnya hanya karena melihat siapa yang lebih senior dan siapa yang lebih junior secara sepintas — padahal memang begitulah realitas periwayatan itu terjadi. Beliau juga menyebut kasus khas: seorang cucu meriwayatkan dari ayahnya, yang meriwayatkan dari kakeknya — dan Hafizh Shalahuddin Al-'Ala'i pernah menghimpun satu jilid besar khusus mengumpulkan siapa saja yang meriwayatkan lewat pola "'an abihi 'an jaddihi" (dari ayahnya, dari kakeknya) ini.
As-Sabiq wal-Lahiq
Satu istilah lagi yang berkaitan dengan struktur sanad: as-sabiq wal-lahiq — dua orang yang meriwayatkan dari guru yang sama, tapi salah satunya wafat jauh lebih dulu dari yang lain. Ibnu Hajar mencatat rekor terjauh yang beliau temukan: jarak wafat 150 tahun antara dua murid Al-Hafizh As-Silafi, dan kasus lama lain antara murid Al-Bukhari (Abu Al-Abbas As-Sarraj, wafat 256 H) dengan murid terakhir As-Sarraj yang masih hidup sampai 393 H. Mengetahui pola ini penting supaya tidak keliru menyangka dua riwayat dari "guru yang sama" itu berasal dari dua orang berbeda hanya karena jaraknya yang sangat jauh secara waktu.
Dengan tuntasnya bab ini, pembahasan berikutnya berpindah ke pintu masuk praktis ilmu isnad: shighah ada' — lafazh-lafazh yang dipakai perawi untuk menyatakan bagaimana ia menerima riwayat dari gurunya.
Catatan & Referensi
Definisi al-'uluw al-muthlaq dan an-nisbi, beserta empat sub-jenis 'uluw nisbi (muwafaqah, badal, musawah, musafahah), dikutip dari naskah Nuzhatun Nazhar di Wikisource Arab (ar.wikisource.org, entri "نزهة النظر في توضيح نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").
↩Definisi riwayat al-aqran dan al-mudabbaj dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi riwayat al-akabir 'anil ashaghir dikutip dari naskah yang sama.
↩