Nukhbatul Fikar Bab 7: Al-Mardud - Mu'allaq, Mursal, Mu'dhal, Munqathi'

Setelah menuntaskan seluruh percabangan Al-Maqbul di Bab 6, Nukhbatul Fikar memasuki bagian yang paling panjang dan paling rinci dari seluruh kitab: Al-Mardud, khabar yang ditolak. Kalau bab-bab sebelumnya menjelaskan kenapa sebuah hadits diterima, mulai bab ini kitab justru membedah satu per satu alasan kenapa sebuah hadits ditolak — dan alasan-alasan itu, satu demi satu, akan menempati sisa separuh lebih dari keseluruhan Nukhbatul Fikar.

Dua Kategori Besar Sebab Penolakan

ثُمَّ الْمَرْدُودُ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِسَقْطٍ أَوْ طَعْنٍ.
"Kemudian, khabar mardud (yang ditolak) itu: sebabnya tidak lepas dari dua hal, yaitu Saqth (gugurnya sebagian sanad) atau Tha'n (cacat/celaan pada perawi)."1

Kalimat pendek ini adalah peta jalan untuk seluruh sisa kitab: setiap istilah kecacatan hadits yang akan dibahas — mulai bab ini sampai beberapa bab ke depan — pada akhirnya bisa ditelusuri kembali ke salah satu dari dua akar masalah ini. Saqth berarti ada mata rantai perawi yang hilang/gugur dari sanad — baik disengaja disembunyikan, tidak disebutkan, maupun memang tidak pernah benar-benar bertemu. Tha'n berarti sanadnya utuh tersambung, tapi ada cacat pada kredibilitas atau ketelitian salah satu perawinya — inilah yang akan dibahas mulai bab setelah ini.

Bab ini fokus pada kategori pertama: Saqth, khususnya jenis yang zhahir (nampak jelas, mudah diketahui hanya dengan membandingkan tahun wafat dan pertemuan antar perawi) — berbeda dari saqth yang tersembunyi (seperti tadlis) yang baru bisa diketahui lewat penelitian mendalam, dan akan dibahas pada bab tersendiri sesudah ini.

Kenapa Ketersambungan Sanad Ini Prinsip yang Serius

Sebelum masuk detail empat istilah pada bab ini, penting diingat kenapa "siapa menerima dari siapa" sampai diperiksa seketat ini. Ini bukan formalitas administratif, melainkan penerapan langsung dari nasihat generasi awal umat ini:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (Perkataan tabi'in Muhammad bin Sirin, dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)2

Sebuah sanad yang terputus berarti ada satu titik dalam rantai itu yang tidak bisa diperiksa: siapa sebenarnya yang menyampaikan riwayat itu ke perawi berikutnya. Kalau titik yang hilang itu kebetulan seorang pendusta atau pelupa, seluruh riwayat itu bisa saja tidak pernah benar-benar berasal dari sumber yang diklaim — dan pemeriksaan seketat inilah yang membedakan disiplin isnad dari sekadar meneruskan cerita turun-temurun, sebagaimana dibahas lebih luas di Mengenal Isnad: Cara Kerja Rantai Periwayatan Hadits.

Matan: Empat Titik Gugurnya Sanad

فَالسَّقْطُ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ مِنْ مَبَادِئِ السَّنَدِ، أَوْ مِنْ آخِرِهِ بَعْدَ التَّابِعِيِّ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ. فَالْأَوَّلُ: الْمُعَلَّقُ. وَالثَّانِي: هُوَ الْمُرْسَلُ. وَالثَّالِثُ: إِنْ كَانَ بِاثْنَيْنِ فَصَاعِدًا مَعَ التَّوَالِي فَهُوَ الْمُعْضَلُ، وَإِلَّا فَالْمُنْقَطِعُ.
"Adapun Saqth (gugurnya sanad) itu: bisa terjadi di pangkal sanad (dekat penulis kitab), atau di ujung sanad setelah tabi'in (dekat Nabi), atau di titik selain keduanya. Yang pertama: Mu'allaq. Yang kedua: itulah Mursal. Yang ketiga (di titik lain): jika dua orang atau lebih gugur secara berurutan, maka itulah Mu'dhal, dan jika tidak berurutan, maka itulah Munqathi'."3

Mu'allaq: Gugur di Pangkal Sanad

Disebut Mu'allaq (tergantung, seperti sesuatu yang digantung tanpa penyangga di bawahnya) ketika perawi yang menulis kitab (mushannif, seperti Imam Al-Bukhari) membuang satu perawi atau lebih dari awal sanadnya sendiri — misalnya langsung berkata "Rasulullah bersabda..." tanpa menyebutkan gurunya sendiri sampai gurunya-gurunya-nya. Istilah ini sering ditemukan pada judul-judul bab dalam Shahih al-Bukhari, di mana beliau kadang menyebutkan sebuah riwayat secara mu'allaq sebelum menyebutkan sanadnya secara lengkap di tempat lain.

Mursal: Gugur di Ujung Sanad, Setelah Tabi'in

Mursal terjadi ketika seorang tabi'in (murid dari sahabat) langsung berkata "Rasulullah bersabda..." tanpa menyebutkan nama sahabat yang menjadi perantara antara dirinya dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Titik yang gugur di sini ada di ujung sanad — paling dekat dengan Nabi, yaitu level sahabat yang seharusnya menjadi penghubung. Karena identitas sahabat itu tidak diketahui, status keadilannya (yang sebenarnya sudah otomatis diterima untuk semua sahabat) tidak bisa diverifikasi keberadaannya sama sekali dalam sanad ini.

Mu'dhal: Dua Perawi atau Lebih Gugur Berurutan

Mu'dhal terjadi ketika dua perawi atau lebih gugur secara berurutan (bersambung) di titik manapun dalam sanad — bukan di pangkal (itu mu'allaq) atau ujung setelah tabi'in (itu mursal), melainkan di tengah, dan yang hilang bukan satu orang saja melainkan dua atau lebih yang saling berurutan.

Munqathi': Satu Perawi Gugur, Tidak Berurutan

Munqathi' (terputus) adalah kategori paling umum: satu perawi gugur di titik manapun dalam sanad (bukan di pangkal atau ujung setelah tabi'in), atau kalau lebih dari satu yang gugur, posisinya tidak berurutan/tidak bersambung satu sama lain. Karena cakupannya paling luas, istilah munqathi' sering dipakai secara umum untuk merujuk pada sanad yang terputus di mana pun titiknya, sebelum diperiksa lebih detail apakah sebenarnya lebih tepat disebut mu'allaq, mursal, atau mu'dhal.

Empat Istilah, Satu Prinsip

Perhatikan bahwa keempat istilah ini sebenarnya menjawab pertanyaan yang sama — di mana persisnya sanad ini terputus? — hanya beda posisi dan jumlah perawi yang hilang. Memahami posisi keempatnya membantu seorang penuntut ilmu langsung mengenali jenis keterputusan begitu melihat sebuah sanad, tanpa harus menghafal definisi secara terpisah-pisah. Bab selanjutnya melanjutkan pembahasan Saqth ke jenis yang lebih sulit dideteksi: keterputusan yang tersembunyi, lewat istilah Tadlis dan Mursal Khafi.

Catatan & Referensi

  1. Redaksi Arab dikutip dari naskah matan Nukhbatul Fikar yang sama dengan bab-bab sebelumnya (sumber Wikisource Arab, entri "نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").

  2. Sumber atsar ini dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim - sebagian sumber (mis. sumber sekunder berbahasa Indonesia) menyebutkan riwayatnya dari Ibnu Rajab dalam Al-'Ilal. Kemungkinan besar dinukil di kedua tempat; artikel ini mengikuti atribusi Muqaddimah Shahih Muslim yang paling banyak dikonfirmasi.

  3. Sumber sama dengan catatan kaki 1.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email