Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 39: Al-Khafi minal Marasil (Al-Irsal Al-Khafi)

Al-Khafi minal Marasil (Al-Irsal Al-Khafi)

وَهُوَ يَعُمُّ الْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضَلَ أَيْضًا. وَقَدْ صَنَّفَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي ذَلِكَ كِتَابَهُ الْمُسَمَّى " بِالتَّفْصِيلِ لِمُبْهَمِ الْمَرَاسِيلِ ".

"Bidang ini mencakup pula hadits munqathi' dan mu'dhal. Al-Khathib Al-Baghdadi telah menyusun sebuah kitab mengenainya yang diberi nama 'At-Tafshil li Mubhamil Marasil'."

وَهَذَا النَّوْعُ إِنَّمَا يُدْرِكُهُ نُقَّادُ الْحَدِيثِ وَجَهَابِذَتُهُ قَدِيمًا وَحَدِيثًا، وَقَدْ كَانَ شَيْخُنَا الْحَافِظُ الْمِزِّيُّ إِمَامًا فِي ذَلِكَ، وَعَجَبًا مِنَ الْعَجَبِ، فَرَحِمَهُ اللَّهُ وَبَلَّ الْمَغْفِرَةَ ثَرَاهُ.

"Jenis ini hanya dapat dikenali oleh para kritikus dan pakar hadits yang mumpuni, baik dahulu maupun sekarang. Guru kami, Al-Hafizh Al-Mizzi, adalah seorang imam dalam bidang ini, bahkan sebuah keajaiban di antara keajaiban-keajaiban. Semoga Allah merahmatinya dan membasahi pusaranya dengan ampunan."

فَإِنَّ الْإِسْنَادَ إِذَا عُرِضَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ، مِمَّنْ لَمْ يُدْرِكْ ثِقَاتِ الرِّجَالِ وَضُعَفَاءَهُمْ، وَقَدْ يَغْتَرُّ بِظَاهِرِهِ، وَيَرَى رِجَالَهُ ثِقَاتٍ، فَيَحْكُمُ بِصِحَّتِهِ، وَلَا يَهْتَدِي لِمَا فِيهِ مِنَ الِانْقِطَاعِ، أَوِ الْأَعْضَالِ، أَوِ الْإِرْسَالِ، لِأَنَّهُ قَدْ لَا يُمَيِّزُ الصَّحَابِيَّ مِنَ التَّابِعِيِّ. وَاللَّهُ الْمُلْهِمُ لِلصَّوَابِ.

"Sebab, apabila suatu sanad diperlihatkan kepada banyak ulama yang belum mendalami betul siapa saja rawi yang tsiqah dan siapa yang dhaif, ia bisa jadi tertipu oleh tampilan luarnya, lalu menganggap semua rawinya tsiqah dan menghukuminya sahih — padahal ia tidak menyadari adanya keterputusan (inqitha'), keterputusan berat (i'dhal), atau irsal di dalamnya, karena ia mungkin tidak dapat membedakan mana yang sahabat dan mana yang tabi'in. Wallahul mulhimu lish-shawab (Allah-lah yang memberi ilham kepada kebenaran)."

وَمَثَّلَ هَذَا النَّوْعَ ابْنُ الصَّلَاحِ بِمَا رَوَى الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ:

"Ibnu Shalah mencontohkan jenis ini dengan riwayat yang dibawakan Al-'Awwam bin Hausyab, dari 'Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata:"

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ بِلَالٌ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ: نَهَضَ وَكَبَّرَ.
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, apabila Bilal berkata 'qad qamatish-shalah' (shalat telah didirikan), beliau bangkit dan bertakbir. (Dicontohkan oleh Ibnu Shalah, dari jalur Al-'Awwam bin Hausyab, dari Ibnu Abi Aufa)"

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: لَمْ يَلْقَ الْعَوَّامُ ابْنَ أَبِي أَوْفَى، يَعْنِي فَيَكُونُ مُنْقَطِعًا بَيْنَهُمَا، فَيُضَعَّفُ الْحَدِيثُ، لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ رَوَاهُ عَنْ رَجُلٍ ضَعِيفٍ عَنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

"Imam Ahmad berkata: Al-'Awwam tidak pernah bertemu dengan Ibnu Abi Aufa — maksudnya, sehingga di antara keduanya terdapat keterputusan (inqitha') yang tersembunyi. Karena itulah hadits ini dinilai dhaif, sebab ada kemungkinan Al-'Awwam sebenarnya meriwayatkannya melalui seorang rawi yang dhaif darinya (Ibnu Abi Aufa) tanpa menyebutkannya. Wallahu a'lam."

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email