Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 27: Sifat Riwayat Hadits

An-Naw' As-Sadis wal-'Isyrun: Shifatu Riwayatil Hadits

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: شَدَّدَ قَوْمٌ فِي الرِّوَايَةِ: فَاشْتَرَطَ بَعْضُهُمْ أَنْ تَكُونَ الرِّوَايَةُ مِنْ حِفْظِ الرَّاوِي أَوْ تَذَكُّرِهِ. وَحَكَاهُ عَنْ مَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَأَبِي بَكْرٍ الصَّيْدَلَانِيِّ الْمَرْوَزِيِّ الشَّافِعِيِّ

"Ibnu Shalah berkata: Sebagian ulama bersikap keras dalam periwayatan - sebagian mereka mensyaratkan bahwa periwayatan harus berasal dari hafalan perawi atau ingatannya sendiri. Beliau menukilkannya dari Malik, Abu Hanifah, dan Abu Bakr Ash-Shaidalani Al-Marwazi Asy-Syafi'i."

وَاكْتَفَى آخَرُونَ، وَهُمُ الْجُمْهُورُ، بِثُبُوتِ سَمَاعِ الرَّاوِي لِذَلِكَ الَّذِي يَسْمَعُ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ بِخَطِّ غَيْرِهِ، وَإِنْ غَابَتْ عَنْهُ النُّسْخَةُ، إِذَا كَانَ الْغَالِبُ عَلَى الظَّنِّ سَلَامَتَهَا مِنَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ

"Ulama lain, yaitu jumhur, cukup dengan tetapnya sama' seorang perawi terhadap apa yang ia dengarkan, sekalipun naskahnya ditulis tangan orang lain, dan sekalipun naskah aslinya tidak ada di hadapannya, selama dugaan kuat menunjukkan keutuhannya dari penggantian dan perubahan."

وَتَسَاهَلَ آخَرُونَ فِي الرِّوَايَةِ مِنْ نُسَخٍ لَمْ تُقَابَلْ، بِمُجَرَّدِ قَوْلِ الطَّالِبِ: " هَذَا مِنْ رِوَايَتِكَ "، مِنْ غَيْرِ تَثَبُّتٍ وَلَا نَظَرٍ فِي النُّسْخَةِ، وَلَا تَفَقُّدِ طَبَقَةِ سَمَاعِهِ. قَالَ: وَقَدْ عَدَّهُمُ الْحَاكِمُ فِي طَبَقَاتِ الْمَجْرُوحِينَ

"Sebagian yang lain lagi bersikap longgar dalam meriwayatkan dari naskah-naskah yang belum dicocokkan (muqabalah), hanya dengan sekadar ucapan sang murid: 'Ini adalah dari riwayatmu', tanpa memastikan kebenarannya, tanpa meneliti naskahnya, dan tanpa memeriksa daftar sama'nya. Beliau berkata: Al-Hakim bahkan memasukkan golongan ini ke dalam tingkatan para perawi yang majruh (tercela)."

Beberapa Cabang Persoalan dalam Riwayat

" فَرْعٌ ": قَالَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ: وَالسَّمَاعُ عَلَى الضَّرِيرِ أَوِ الْبَصِيرِ الْأُمِّيِّ، إِذَا كَانَ مُثْبَتًا بِخَطِّ غَيْرِهِ أَوْ قَوْلِهِ -: فِيهِ خِلَافٌ بَيْنَ النَّاسِ: فَمِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ مَنَعَ الرِّوَايَةَ عَنْهُمْ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهَا

"Cabang persoalan: Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: Adapun mendengarkan hadits dari seorang guru yang tunanetra, atau yang melihat namun buta huruf (ummi), apabila sama'nya dicatat dalam tulisan orang lain atau berdasarkan ucapannya sendiri - dalam hal ini ada perselisihan di kalangan ulama: sebagian melarang periwayatan dari mereka, sebagian lain membolehkannya."

" فَرْعٌ آخَرُ ": إِذَا رُوِيَ كِتَابًا، كَالْبُخَارِيِّ مَثَلًا، عَنْ شَيْخٍ، ثُمَّ وُجِدَ نُسْخَةٌ بِهِ لَيْسَتْ مُقَابَلَةً عَلَى أَصْلِ شَيْخِهِ، أَوْ لَمْ يَجِدْ أَصْلَ سَمَاعِهِ فِيهَا عَلَيْهِ، لَكِنَّهُ تَسْكُنُ نَفْسُهُ إِلَى صِحَّتِهَا - فَحَكَى الْخَطِيبُ عَنْ عَامَّةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنَّهُمْ مَنَعُوا مِنَ الرِّوَايَةِ بِذَلِكَ، وَمِنْهُمُ الشَّيْخُ أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ الْفَقِيهُ، وَحَكَى عَنْ أَيُّوبَ وَمُحَمَّدِ بْنِ بَكْرٍ الْبُرْسَانِيِّ أَنَّهُمَا رَخَّصَا فِي ذَلِكَ

"Cabang persoalan lain: Apabila seseorang meriwayatkan suatu kitab, misalnya Shahih Al-Bukhari, dari gurunya, kemudian ditemukan sebuah naskah lain yang belum dicocokkan dengan naskah asli gurunya, atau tidak ditemukan naskah sama' aslinya darinya, namun hatinya merasa yakin akan keabsahannya - Al-Khathib menukilkan dari kebanyakan ahli hadits bahwa mereka melarang periwayatan dengan cara itu, di antaranya Asy-Syaikh Abu Nashr Ibnu Ash-Shabbagh Al-Faqih. Ia juga menukilkan dari Ayyub dan Muhammad bin Bakr Al-Bursani bahwa keduanya memberi keringanan dalam hal itu."

" قُلْتُ ": وَإِلَى هَذَا أَجْنَحُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Kepada pendapat inilah (yang kedua, keringanan) aku lebih condong. Wallahu a'lam."

وَقَدْ تَوَسَّطَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ بْنُ الصَّلَاحِ فَقَالَ: إِنْ كَانَتْ لَهُ مِنْ شَيْخِهِ إِجَازَةٌ جَازَتْ رِوَايَتُهُ وَالْحَالَةُ هَذِهِ

"Asy-Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Shalah mengambil sikap pertengahan, ia berkata: Jika ia memiliki ijazah dari gurunya, maka periwayatannya boleh dalam keadaan semacam ini."

" فَرْعٌ آخَرُ ": إِذَا اخْتَلَفَ الْحَافِظُ وَكِتَابُهُ: فَإِنْ كَانَ اعْتِمَادُهُ فِي حِفْظِهِ عَلَى كِتَابِهِ فَلْيَرْجِعْ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِهِ فَلْيَرْجِعْ إِلَى حِفْظِهِ وَحَسُنَ أَنْ يُنَبِّهَ عَلَى مَا فِي الْكِتَابِ مَعَ ذَلِكَ، كَمَا رُوِيَ عَنْ شُعْبَةَ. وَكَذَلِكَ إِذَا خَالَفَهُ غَيْرُهُ مِنَ الْحُفَّاظِ، فَلْيُنَبِّهْ عَلَى ذَلِكَ عِنْدَ رِوَايَتِهِ كَمَا فَعَلَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Cabang persoalan lain: Apabila seorang penghafal berselisih dengan kitabnya sendiri (isi hafalannya berbeda dari yang tertulis): jika sandarannya dalam menghafal adalah kitabnya sendiri, maka hendaklah ia merujuk kepadanya; jika hafalannya berasal dari sumber lain (bukan kitab itu), maka hendaklah ia merujuk kepada hafalannya, dan baiknya ia tetap memberi catatan tentang apa yang ada di dalam kitabnya itu, sebagaimana diriwayatkan dari Syu'bah. Begitu pula jika huffazh lain menyelisihinya, hendaklah ia memberi catatan tentang hal itu saat meriwayatkannya, sebagaimana yang dilakukan Sufyan Ats-Tsauri. Wallahu a'lam."

" فَرْعٌ آخَرُ ": لَوْ وَجَدَ طَبَقَةَ سَمَاعِهِ فِي كِتَابٍ، أَمَّا بِخَطِّهِ أَوْ خَطِّ مَنْ يَثِقُ بِهِ، وَلَمْ يَتَذَكَّرْ سَمَاعَهُ لِذَلِكَ -: فَقَدْ حُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَبَعْضِ الشَّافِعِيَّةِ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ الْإِقْدَامُ عَلَى الرِّوَايَةِ. وَالْجَادَّةُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ - وَبِهِ يَقُولُ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وَأَبُو يُوسُفَ - الْجَوَازُ، اعْتِمَادًا عَلَى مَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ، وَكَمَا أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَتَذَكَّرَ سَمَاعَهُ لِكُلِّ حَدِيثٍ حَدِيثٍ أَوْ ضَبْطَهُ، كَذَلِكَ لَا يُشْتَرَطُ تَذَكُّرُهُ لِأَصْلِ سَمَاعِهِ

"Cabang persoalan lain: Sekiranya seseorang menemukan daftar sama'nya dalam sebuah kitab, baik dalam tulisan tangannya sendiri atau tulisan tangan orang yang ia percaya, namun ia sendiri tidak mengingat sama' itu - dinukilkan dari Abu Hanifah dan sebagian ulama Syafi'iyyah: bahwa ia tidak boleh maju meriwayatkannya. Adapun pendapat yang menjadi jalan utama mazhab Asy-Syafi'i - dan ini pula pendapat Muhammad bin Al-Hasan dan Abu Yusuf - adalah bolehnya, dengan bersandar pada dugaan kuat yang ia miliki. Sebagaimana tidak disyaratkan ia harus mengingat sama'-nya untuk setiap hadits satu per satu atau dhabt-nya, demikian pula tidak disyaratkan ia harus mengingat asal sama'nya secara keseluruhan."

Riwayah bil-Ma'na

" فَرْعٌ آخَرُ ": وَأَمَّا رِوَايَتُهُ الْحَدِيثَ بِالْمَعْنَى: فَإِنْ كَانَ الرَّاوِي غَيْرَ عَالِمٍ وَلَا عَارِفٍ بِمَا يُحِيلُ الْمَعْنَى: فَلَا خِلَافَ أَنَّهُ لَا تَجُوزُ لَهُ رِوَايَتُهُ الْحَدِيثَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ

"Cabang persoalan lain: Adapun meriwayatkan hadits secara makna (riwayah bil-ma'na): jika perawinya bukan orang yang berilmu dan tidak mengerti hal-hal yang dapat mengubah makna, maka tidak ada perselisihan bahwa ia tidak boleh meriwayatkan hadits dengan cara ini."

وَأَمَّا إِذَا كَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ، بَصِيرًا بِالْأَلْفَاظِ وَمَدْلُولَاتِهَا، وَبِالْمُتَرَادِفِ مِنَ الْأَلْفَاظِ وَنَحْوَ ذَلِكَ -: فَقَدْ جَوَّزَ ذَلِكَ جُمْهُورُ النَّاسِ سَلَفًا وَخَلَفًا وَعَلَيْهِ الْعَمَلُ، كَمَا هُوَ الْمُشَاهَدُ فِي الْأَحَادِيثِ الصِّحَاحِ وَغَيْرِهَا، فَإِنَّ الْوَاقِعَةَ تَكُونُ وَاحِدَةً، وَتَجِيءُ بِأَلْفَاظٍ مُتَعَدِّدَةٍ، مِنْ وُجُوهٍ مُخْتَلِفَةٍ مُتَبَايِنَةٍ

"Adapun jika ia berilmu tentang hal itu, memahami betul lafal-lafal dan maknanya, serta lafal-lafal yang bersinonim dan semisalnya - maka jumhur ulama, baik salaf maupun khalaf, membolehkan hal ini, dan inilah yang menjadi pegangan amal, sebagaimana terlihat dalam hadits-hadits shahih dan lainnya, di mana satu peristiwa yang sama muncul dengan lafal-lafal yang berbeda-beda, dari berbagai jalur yang berlainan."

وَلَمَّا كَانَ هَذَا قَدْ يُوقِعُ فِي تَغْيِيرِ بَعْضِ الْأَحَادِيثِ، مَنَعَ مِنَ الرِّوَايَةِ بِالْمَعْنَى طَائِفَةٌ آخَرُونَ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ الْأُصُولِيِّينَ، وَشَدَّدُوا فِي ذَلِكَ آكَدَ التَّشْدِيدِ. وَكَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا هُوَ الْوَاقِعَ، وَلَكِنْ لَمْ يَتَّفِقْ ذَلِكَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Karena hal ini bisa saja menyeret pada perubahan sebagian hadits, sekelompok ahli hadits dan fuqaha ushuliyyin lainnya melarang periwayatan secara makna, dan mereka bersikap sangat keras dalam hal ini. Sepatutnya memang inilah yang menjadi kenyataan (yang berlaku), namun hal itu tidak disepakati bersama. Wallahu a'lam."

وَقَدْ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو الدَّرْدَاءِ وَأَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَقُولُونَ - إِذَا رَوَوُا الْحَدِيثَ -: " أَوْ نَحْوَ هَذَا "، أَوْ " شِبْهَهُ "، " أَوْ قَرِيبًا مِنْهُ "

"Dahulu Ibnu Mas'ud, Abud-Darda', dan Anas radhiyallahu 'anhum, apabila meriwayatkan hadits, mereka mengatakan: 'atau semisal ini', atau 'yang serupanya', 'atau yang mendekati itu' (sebagai bentuk kehati-hatian)."

Ikhtishar Hadits, Tashif, dan Lahn

" فَرْعٌ آخَرُ ": وَهَلْ يَجُوزُ اخْتِصَارُ الْحَدِيثِ، فَيُحْذَفُ بَعْضُهُ، إِذَا لَمْ يَكُنِ الْمَحْذُوفُ مُتَعَلِّقًا بِالْمَذْكُورِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ: فَالَّذِي عَلَيْهِ صَنِيعُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْبُخَارِيِّ: اخْتِصَارُ الْأَحَادِيثِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمَاكِنِ

"Cabang persoalan lain: Apakah boleh meringkas hadits, dengan membuang sebagiannya, apabila bagian yang dibuang itu tidak berkaitan dengan bagian yang disebutkan? Ada dua pendapat dalam hal ini: yang menjadi praktik Abu 'Abdillah Al-Bukhari adalah meringkas hadits-hadits pada banyak tempat."

وَأَمَّا مُسْلِمٌ فَإِنَّهُ يَسُوقُ الْحَدِيثَ بِتَمَامِهِ، وَلَا يَقْطَعُهُ. وَلِهَذَا رَجَّحَهُ كَثِيرٌ مِنْ حُفَّاظِ الْمَغَارِبَةِ، وَاسْتَرْوَحَ إِلَى شَرْحِهِ آخَرُونَ، لِسُهُولَةِ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَتَفْرِيقِهِ الْحَدِيثَ فِي أَمَاكِنَ مُتَعَدِّدَةٍ بِحَسَبِ حَاجَتِهِ إِلَيْهِ. وَعَلَى هَذَا الْمَذْهَبِ جُمْهُورُ النَّاسِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا

"Adapun Muslim, ia menyajikan hadits secara utuh, dan tidak memenggalnya. Karena itulah beliau dirajihkan oleh banyak huffazh Maghrib, dan sebagian lain merasa lebih nyaman mensyarahnya, karena kemudahan itu dibandingkan dengan Shahih Al-Bukhari yang memisah-misahkan satu hadits di berbagai tempat sesuai kebutuhannya. Atas mazhab inilah jumhur manusia berpegang, baik dahulu maupun sekarang."

قَالَ ابْنُ الْحَاجِبِ فِي مُخْتَصَرِهِ: " مَسْئَلَةٌ ": حَذْفُ بَعْضِ الْخَبَرِ جَائِزٌ عِنْدَ الْأَكْثَرِ، إِلَّا فِي الْغَايَةِ وَالِاسْتِثْنَاءِ وَنَحْوِهِ. أَمَّا إِذَا حَذَفَ الزِّيَادَةَ لِكَوْنِهِ شَكَّ فِيهَا، فَهَذَا سَائِغٌ، كَانَ مَالِكٌ يَفْعَلُ ذَلِكَ كَثِيرًا، بَلْ كَانَ يَقْطَعُ إِسْنَادَ الْحَدِيثِ إِذَا شَكَّ فِي وَصْلِهِ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ: انْقُصِ الْحَدِيثَ وَلَا تَزِدْ فِيهِ

"Ibnul Hajib berkata dalam Mukhtashar-nya: Masalah: membuang sebagian khabar (matan hadits) boleh menurut mayoritas ulama, kecuali pada bagian ghayah (batasan akhir) dan istitsna' (pengecualian) dan semisalnya (yang mengubah hukum jika dibuang). Adapun jika ia membuang tambahan karena keraguannya terhadapnya, maka ini dibolehkan - Malik sering melakukan hal itu, bahkan beliau memutus sanad hadits jika ragu akan kebersambungannya. Mujahid berkata: 'Kurangilah hadits (jika ragu), dan janganlah engkau menambahinya.'"

" فَرْعٌ آخَرُ ": يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْحَدِيثِ أَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِالْعَرَبِيَّةِ. قَالَ الْأَصْمَعِيُّ: " أَخْشَى عَلَيْهِ إِذَا لَمْ يَعْرِفِ الْعَرَبِيَّةَ أَنْ يَدْخُلَ فِي قَوْلِهِ: " مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَلْحَنُ " فَمَهْمَا رَوَيْتَ عَنْهُ وَلَحَنْتَ فِيهِ كَذَبْتَ عَلَيْهِ "

"Cabang persoalan lain: Sepatutnya seorang penuntut ilmu hadits mengerti kaidah bahasa Arab. Al-Ashma'i berkata: 'Aku khawatir jika seseorang tidak mengerti bahasa Arab, ia akan termasuk dalam sabda: Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka - sebab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah salah bahasa (lahn) dalam ucapannya, maka apa pun hadits yang engkau riwayatkan darinya, jika engkau salah bahasa di dalamnya, engkau telah berdusta atasnya.'"

وَأَمَّا التَّصْحِيفُ، فَدَوَاؤُهُ أَنْ يَتَلَقَّاهُ مِنْ أَفْوَاهِ الْمَشَايِخِ الضَّابِطِينَ. وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ

"Adapun tashif (kesalahan baca/tulis yang mengubah kata), maka obatnya adalah menerima hadits langsung dari lisan para guru yang cermat (dhabith). Wallahul muwaffiq."

وَأَمَّا إِذَا لَحَنَ الشَّيْخُ، فَالصَّوَابُ أَنْ يَرْوِيَهُ السَّامِعُ عَلَى الصَّوَابِ، وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَالْجُمْهُورِ. وَحُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ سِيرِينَ وَأَبِي مَعْمَرٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ أَنَّهُمَا قَالَا: يَرْوِيهِ كَمَا سَمِعَهُ مِنَ الشَّيْخِ مَلْحُونًا. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَهَذَا غُلُوٌّ فِي مَذْهَبِ اتِّبَاعِ اللَّفْظِ. وَعَنِ الْقَاضِي عِيَاضٍ: أَنَّ الَّذِي اسْتَمَرَّ عَلَيْهِ عَمَلُ أَكْثَرِ الْأَشْيَاخِ: أَنْ يَنْقُلُوا الرِّوَايَةَ كَمَا وَصَلَتْ إِلَيْهِمْ، وَلَا يُغَيِّرُوهَا فِي كُتُبِهِمْ، حَتَّى فِي أَحْرُفٍ مِنَ الْقُرْآنِ، اسْتَمَرَّتِ الرِّوَايَةُ فِيهَا عَلَى خِلَافِ التِّلَاوَةِ، وَمِنْ غَيْرِ أَنْ يَجِيءَ ذَلِكَ فِي الشَّوَاذِّ، كَمَا وَقَعَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَالْمُوَطَّأِ، لَكِنَّ أَهْلَ الْمَعْرِفَةِ مِنْهُمْ يُنَبِّهُونَ عَلَى ذَلِكَ عِنْدَ السَّمَاعِ وَفِي الْحَوَاشِي. وَمِنْهُمْ مَنْ جَسَرَ عَلَى تَغْيِيرِ الْكُتُبِ وَإِصْلَاحِهَا، مِنْهُمْ أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ أَحْمَدَ الْكِنَانِيُّ الْوَقَّشِيُّ، لِكَثْرَةِ مُطَالَعَتِهِ وَافْتِنَانِهِ. قَالَ: وَقَدْ غَلِطَ فِي أَشْيَاءَ مِنْ ذَلِكَ، وَكَذَلِكَ غَيْرُهُ مِمَّنْ سَلَكَ مَسْلَكَهُ

"Adapun apabila sang guru sendiri yang salah bahasa (lahn), maka yang benar adalah pendengarnya meriwayatkannya dengan pembetulan yang benar - inilah yang diriwayatkan dari Al-Auza'i, Ibnul Mubarak, dan jumhur ulama. Namun dinukilkan dari Muhammad Ibnu Sirin dan Abu Ma'mar 'Abdullah bin Sakhbarah, bahwa keduanya berkata: hendaklah ia meriwayatkannya persis sebagaimana ia dengar dari sang guru, meski dengan kesalahan bahasanya. Ibnu Shalah berkata: Ini adalah sikap berlebihan dalam mazhab mengikuti lafal secara harfiah. Dari Al-Qadhi 'Iyadh: bahwa yang menjadi kebiasaan tetap kebanyakan para syaikh adalah menukilkan riwayat persis sebagaimana sampai kepada mereka, tanpa mengubahnya dalam kitab-kitab mereka - bahkan pada beberapa huruf dari Al-Qur'an, di mana riwayatnya tetap berjalan berbeda dari bacaan (tilawah) yang masyhur, tanpa hal itu termasuk qira'ah syadzah, sebagaimana terjadi dalam Ash-Shahihain dan Al-Muwaththa'. Hanya saja para ahli yang paham di antara mereka memberi catatan tentang hal itu saat sama' dan di catatan pinggir. Sebagian lain berani mengubah dan memperbaiki kitab-kitab, di antaranya Abul Walid Hisyam bin Ahmad Al-Kinani Al-Waqqasyi, karena luasnya penelaahan dan kepiawaiannya. Beliau (Al-Qadhi 'Iyadh) berkata: Namun ia sendiri keliru dalam beberapa hal dari perubahan itu, begitu pula ulama lain yang menempuh jalannya."

قَالَ: وَالْأَوْلَى سَدُّ بَابِ التَّغْيِيرِ وَالْإِصْلَاحِ، لِئَلَّا يَجْسُرَ عَلَى ذَلِكَ مَنْ لَا يُحْسِنُ، وَيُنَبِّهُ عَلَى ذَلِكَ عِنْدَ السَّمَاعِ

"Beliau (Al-Qadhi 'Iyadh) berkata: Yang lebih utama adalah menutup pintu perubahan dan perbaikan (naskah) itu sama sekali, agar orang yang tidak mampu tidak berani melakukannya - namun ia tetap memberi catatan tentang hal itu saat sama'."

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصْلِحُ لَحْنًا الْفَاحِشَ، وَيَسْكُتُ عَنِ الْخَفِيِّ السَّهْلِ

"Dari 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal: bahwa ayahnya (Imam Ahmad) dahulu biasa membetulkan kesalahan bahasa yang mencolok, dan mendiamkan kesalahan yang samar dan ringan."

" قُلْتُ ": وَمِنَ النَّاسِ مَنْ إِذَا سَمِعَ الْحَدِيثَ مَلْحُونًا عَنِ الشَّيْخِ تَرَكَ رِوَايَتَهُ، لِأَنَّهُ إِنِ اتَّبَعَهُ فِي ذَلِكَ، فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَلْحَنُ فِي كَلَامِهِ، وَإِنْ رَوَاهُ عَنْهُ عَلَى الصَّوَابِ، فَلَمْ يَسْمَعْهُ مِنْهُ كَذَلِكَ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Sebagian orang, apabila mendengar hadits dengan kesalahan bahasa dari sang guru, ia meninggalkan periwayatannya sama sekali - sebab jika ia mengikutinya persis dalam kesalahan itu, padahal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah salah bahasa dalam ucapannya (berarti ia menisbatkan kesalahan kepada Nabi secara tidak langsung); dan jika ia meriwayatkannya dengan pembetulan yang benar, maka ia tidak mendengarnya persis demikian dari gurunya (berarti ia meriwayatkan sesuatu yang tidak ia dengar)."

" فَرْعٌ ": وَإِذَا سَقَطَ مِنَ السَّنَدِ أَوِ الْمَتْنِ مَا هُوَ مَعْلُومٌ، فَلَا بَأْسَ بِإِلْحَاقِهِ، وَكَذَلِكَ إِذَا انْدَرَسَ بَعْضُ الْكِتَابِ، فَلَا بَأْسَ بِتَجْدِيدِهِ عَلَى الصَّوَابِ. وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ)

"Cabang persoalan: Apabila ada bagian dari sanad atau matan yang gugur/hilang padahal diketahui isinya secara pasti, maka tidak mengapa untuk melengkapinya kembali. Begitu pula jika sebagian naskah kitab rusak/pudar, tidak mengapa memperbaruinya sesuai dengan yang benar. Allah Ta'ala telah berfirman: 'Dan Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dari orang yang berbuat kebaikan.'"

Riwayat dari Beberapa Guru dan Kaidah Penulisan Sanad

" فَرْعٌ آخَرُ ": وَإِذَا رُوِيَ الْحَدِيثُ عَنْ شَيْخَيْنِ فَأَكْثَرَ، وَبَيْنَ أَلْفَاظِهِمْ تَبَايُنٌ: فَإِنْ رَكَّبَ السِّيَاقَ مِنَ الْجَمِيعِ، كَمَا فَعَلَ الزُّهْرِيُّ فِي حَدِيثِ الْإِفْكِ، حِينَ رَوَاهُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةَ وَغَيْرِهِمَا عَنْ عَائِشَةَ، وَقَالَ: " كُلٌّ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنَ الْحَدِيثِ، فَدَخَلَ حَدِيثُ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضٍ "، وَسَاقَهُ بِتَمَامِهِ -: فَهَذَا سَائِغٌ، فَإِنَّ الْأَئِمَّةَ قَدْ تَلَقَّوْهُ بِالْقَبُولِ، وَخَرَّجُوهُ فِي كُتُبِهِمُ الصِّحَاحِ وَغَيْرِهَا

"Cabang persoalan lain: Apabila suatu hadits diriwayatkan dari dua guru atau lebih, sedangkan lafal-lafal mereka berbeda-beda: jika perawi menggabungkan susunan riwayat itu dari semuanya - sebagaimana yang dilakukan Az-Zuhri dalam hadits Al-Ifk, ketika ia meriwayatkannya dari Sa'id bin Al-Musayyab, 'Urwah, dan lainnya, dari 'Aisyah, lalu ia berkata: 'Masing-masing dari mereka menceritakan kepadaku sebagian dari hadits itu, lalu sebagian riwayat mereka masuk ke dalam sebagian yang lain', kemudian ia menyajikannya secara utuh - maka cara ini dibolehkan, sebab para imam telah menerimanya dan mengeluarkannya dalam kitab-kitab shahih mereka dan lainnya."

وَلِلرَّاوِي أَنْ يُبَيِّنَ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا عَنِ الْأُخْرَى، وَيَذْكُرَ مَا فِيهَا مِنْ زِيَادَةٍ وَنُقْصَانٍ، وَتَحْدِيثٍ وَإِخْبَارٍ وَإِنْبَاءٍ. وَهَذَا مِمَّا يُعْنَى بِهِ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ، وَيُبَالِغُ فِيهِ، وَأَمَّا الْبُخَارِيُّ فَلَا يُعَرِّجُ عَلَى ذَلِكَ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ، وَرُبَّمَا تَعَاطَاهُ فِي بَعْضِ الْأَحَايِينِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَهُوَ نَادِرٌ

"Perawi juga boleh membedakan setiap riwayat dari yang lainnya secara terpisah, dan menyebutkan tambahan atau kekurangan yang ada di dalamnya, serta perbedaan ungkapan 'haddatsana', 'akhbarana', dan 'anba'ana' pada masing-masingnya. Inilah yang sangat diperhatikan Muslim dalam Shahih-nya, bahkan sampai berlebih-lebihan dalam hal itu. Adapun Al-Bukhari, ia tidak begitu memperhatikan hal ini dan tidak menoleh kepadanya, meski terkadang ia melakukannya juga pada beberapa kesempatan - Wallahu a'lam - namun itu jarang sekali."

" فَرْعٌ آخَرُ ": وَتَجُوزُ الزِّيَادَةُ فِي نَسَبِ الرَّاوِي، إِذَا بَيَّنَ أَنَّ الزِّيَادَةَ مِنْ عِنْدِهِ. وَهَذَا مَحْكِيٌّ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَجُمْهُورِ الْمُحَدِّثِينَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Cabang persoalan lain: Boleh menambahkan sesuatu pada nasab seorang perawi (untuk memperjelas identitasnya), selama ia menjelaskan bahwa tambahan itu berasal dari dirinya sendiri (bukan bagian asli riwayat). Ini diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal dan jumhur ahli hadits. Wallahu a'lam."

" فَرْعٌ آخَرُ ": جَرَتْ عَادَةُ الْمُحَدِّثِينَ إِذَا قَرَؤُوا يَقُولُونَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ "، وَمِنْهُمْ مَنْ يَحْذِفُ لَفْظَةَ " قَالَ "، وَهُوَ سَائِغٌ عِنْدَ الْأَكْثَرِينَ

"Cabang persoalan lain: Sudah menjadi kebiasaan para ahli hadits, apabila membaca sanad, mereka mengucapkan: 'Akhbarana fulan, qala: akhbarana fulan, qala: akhbarana fulan.' Sebagian mereka membuang kata 'qala (ia berkata)' di antaranya, dan ini dibolehkan menurut kebanyakan ulama."

وَمَا كَانَ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِإِسْنَادٍ وَاحِدٍ، كَنُسْخَةِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَعَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ، وَبَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ -: فَلَهُ إِعَادَةُ الْإِسْنَادِ عِنْدَ كُلِّ حَدِيثٍ، وَلَهُ أَنْ يَذْكُرَ الْإِسْنَادَ عِنْدَ أَوَّلِ حَدِيثٍ مِنْهَا، ثُمَّ يَقُولُ: " وَبِالْإِسْنَادِ ". أَوْ: " وَبِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَذَا وَكَذَا "، ثُمَّ لَهُ أَنْ يَرْوِيَهُ كَمَا سَمِعَهُ، وَلَهُ أَنْ يَذْكُرَ عِنْدَ كُلِّ حَدِيثٍ الْإِسْنَادَ

"Adapun hadits-hadits yang berada dalam satu sanad tunggal (naskah tetap), seperti naskah 'Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah, atau Muhammad bin 'Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, atau 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, atau Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, dan semisalnya - perawi boleh mengulang sanadnya pada setiap hadits, atau ia boleh menyebutkan sanadnya hanya pada hadits pertama saja, lalu berkata: 'Wa bil-isnad (dan dengan sanad yang sama)', atau 'Wa bihi ila Rasulillahi shallallahu 'alaihi wasallam qala kadza wa kadza (dan dengannya, sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda demikian dan demikian)'. Kemudian ia boleh meriwayatkannya persis sebagaimana ia mendengarnya, dan ia juga boleh menyebutkan sanad lengkap pada setiap hadits."

" قُلْتُ ": وَالْأَمْرُ فِي هَذَا قَرِيبٌ سَهْلٌ يَسِيرٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Perkara dalam hal ini ringan, mudah, dan lapang. Wallahu a'lam."

وَأَمَّا إِذَا قَدَّمَ ذِكْرَ الْمَتْنِ عَلَى الْإِسْنَادِ كَمَا إِذَا قَالَ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا " ثُمَّ قَالَ: " أَخْبَرَنَا بِهِ "، وَأَسْنَدَهُ: فَهَلْ لِلرَّاوِي عَنْهُ أَنْ يُقَدِّمَ الْإِسْنَادَ أَوَّلًا وَيُتْبِعَهُ بِذِكْرِ مَتْنِ الْحَدِيثِ؟ فِيهِ خِلَافٌ، ذَكَرَهُ الْخَطِيبُ وَابْنُ الصَّلَاحِ

"Adapun jika seseorang mendahulukan penyebutan matan sebelum sanad, seperti mengatakan: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian', lalu baru berkata: 'Akhbarana bihi (telah mengabarkannya kepada kami)', dan menyebutkan sanadnya setelah itu - apakah orang yang meriwayatkan darinya boleh mendahulukan sanad terlebih dahulu, baru diikuti penyebutan matan hadits? Dalam hal ini ada perselisihan, disebutkan oleh Al-Khathib dan Ibnu Shalah."

وَالْأَشْبَهُ عِنْدِي جَوَازُ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَلِهَذَا يُعِيدُ مُحَدِّثُو زَمَانِنَا إِسْنَادَ الشَّيْخِ بَعْدَ فَرَاغِ الْخَبَرِ، لِأَنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْمَعُ مِنْ أَثْنَائِهِ بِفَوْتٍ، فَيَتَّصِلُ لَهُ سَمَاعُ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْخِ، وَلَهُ رِوَايَتُهُ عَنْهُ كَمَا يَشَاءُ، مِنْ تَقْدِيمِ إِسْنَادِهِ وَتَأْخِيرِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Yang lebih mendekati kebenaran menurutku adalah bolehnya hal itu. Wallahu a'lam. Karena itulah para ahli hadits di zaman kita mengulangi sanad sang guru setelah selesainya penyebutan hadits, sebab ada orang yang mendengarnya di tengah-tengah dengan terlewat sebagian, sehingga sama'-nya baru tersambung penuh setelah pengulangan sanad dari sang guru itu, dan ia boleh meriwayatkannya sesuai kehendaknya, baik mendahulukan sanad atau mengakhirkannya. Wallahu a'lam."

" فَرْعٌ ": إِذَا رُوِيَ حَدِيثًا بِسَنَدِهِ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِإِسْنَادٍ آخَرَ، وَقَالَ فِي آخِرِهِ: " مِثْلَهُ " أَوْ " نَحْوَهُ "، وَهُوَ ضَابِطٌ مُحَرِّرٌ: فَهَلْ يَجُوزُ رِوَايَتُهُ لَفْظَ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ بِإِسْنَادِ الثَّانِي؟ قَالَ شُعْبَةُ: لَا، وَقَالَ الثَّوْرِيُّ: نَعَمْ، حَكَاهُ عَنْهُمَا وَكِيعٌ، وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: يَجُوزُ فِي قَوْلِهِ " مِثْلَهُ "، وَلَا يَجُوزُ فِي " نَحْوَهُ ". قَالَ الْخَطِيبُ: إِذَا قِيلَ بِالرِّوَايَةِ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى فَلَا فَرْقَ بَيْنَ قَوْلِهِ " مِثْلَهُ " أَوْ " نَحْوَهُ "، وَمَعَ هَذَا أَخْتَارُ قَوْلَ ابْنِ مَعِينٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Cabang persoalan: Apabila seseorang meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya, kemudian menyusulinya dengan sanad lain, dan berkata di akhirnya: 'Mitslahu (semisalnya)' atau 'Nahwahu (yang serupanya)', sedangkan ia sendiri seorang yang dhabith lagi cermat: apakah boleh bagi orang yang meriwayatkan darinya untuk membawakan lafal hadits pertama dengan sanad yang kedua? Syu'bah berkata: Tidak boleh. Ats-Tsauri berkata: Boleh. Kedua pendapat ini dinukilkan oleh Waki'. Yahya bin Ma'in berkata: Boleh untuk ungkapan 'mitslahu', namun tidak boleh untuk 'nahwahu'. Al-Khathib berkata: Jika periwayatan dengan cara ini dibolehkan, maka tidak ada bedanya antara ucapan 'mitslahu' atau 'nahwahu'. Meskipun demikian, aku (Ibnu Katsir) memilih pendapat Ibnu Ma'in. Wallahu a'lam."

أَمَّا إِذَا أَوْرَدَ السَّنَدَ وَذَكَرَ بَعْضَ الْحَدِيثِ ثُمَّ قَالَ: " الْحَدِيثَ "، أَوْ " الْحَدِيثَ بِتَمَامِهِ "، أَوْ " بِطُولِهِ " أَوْ " إِلَى آخِرِهِ "، كَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ كَثِيرٍ مِنَ الرُّوَاةِ: فَهَلْ لِلسَّامِعِ أَنْ يَسُوقَ الْحَدِيثَ بِتَمَامِهِ عَلَى هَذَا الْإِسْنَادِ؟ رَخَّصَ فِي ذَلِكَ بَعْضُهُمْ وَمَنَعَ مِنْهُ آخَرُونَ، مِنْهُمُ الْأُسْتَاذُ أَبُو إِسْحَاقَ الْأَسْفَرَايِينِيُّ الْفَقِيهُ الْأُصُولِيُّ، وَسَأَلَ أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ شَيْخَهُ أَبَا بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيَّ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِنْ كَانَ الشَّيْخُ وَالْقَارِئُ يَعْرِفَانِ الْحَدِيثَ فَأَرْجُو أَنْ يَجُوزَ ذَلِكَ، وَالْبَيَانُ أَوْلَى

"Adapun apabila seseorang menyebutkan sanad dan sebagian hadits saja, lalu berkata: 'al-hadits (dan seterusnya)', atau 'al-hadits bitamamihi (hadits itu secara lengkap)', atau 'bithulihi (secara panjangnya)', atau 'ila akhirihi (sampai akhirnya)', sebagaimana kebiasaan banyak perawi - apakah orang yang mendengarnya boleh menyajikan hadits itu secara lengkap dengan sanad tersebut? Sebagian ulama memberi keringanan, sebagian lain melarangnya, di antaranya Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Asfarayini, faqih ahli ushul. Abu Bakr Al-Barqani pernah bertanya kepada gurunya, Abu Bakr Al-Isma'ili, tentang hal itu, maka ia menjawab: 'Jika sang guru dan pembacanya sama-sama mengenal hadits itu, aku berharap hal itu boleh, meski penjelasan lebih utama.'"

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: " قُلْتُ ": وَإِذَا جَوَّزْنَا ذَلِكَ فَالتَّحْقِيقُ أَنَّهُ يَكُونُ بِطَرِيقِ الْإِجَازَةِ الْأَكِيدَةِ الْقَوِيَّةِ

"Ibnu Shalah berkata: Aku berkata: Jika kita membolehkan hal itu, maka yang tepat adalah bahwa hal itu terjadi melalui jalur ijazah yang kuat lagi tegas."

وَيَنْبَغِي أَنْ يُفَصَّلَ، فَيُقَالَ: إِنْ كَانَ قَدْ سَمِعَ الْحَدِيثَ الْمُشَارَ إِلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ عَلَى الشَّيْخِ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ أَوْ فِي غَيْرِهِ، فَتَجُوزُ الرِّوَايَةُ، وَتَكُونُ الْإِشَارَةُ إِلَى شَيْءٍ قَدْ سَلَفَ بَيَانُهُ وَتَحَقَّقَ سَمَاعُهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Sepatutnya hal ini dirinci, dengan dikatakan: jika ia telah mendengar hadits yang dimaksud sebelumnya dari sang guru, baik pada majelis itu maupun majelis lain, maka periwayatannya boleh, dan isyarat itu merujuk kepada sesuatu yang penjelasannya telah lampau dan sama'nya telah terpastikan. Wallahu a'lam."

إِبْدَالُ لَفْظِ " الرَّسُولِ " أَوِ " النَّبِيِّ " بِـ" الرَّسُولِ ": قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ ذَلِكَ، وَإِنْ جَازَتِ الرِّوَايَةُ بِالْمَعْنَى، يَعْنِي لِاخْتِلَافِ مَعْنَيَيْهِمَا، وَنَقَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُشَدِّدُ فِي ذَلِكَ

"Mengganti lafal 'An-Nabiyy (Nabi)' dengan 'Ar-Rasul (Rasul)' atau sebaliknya: Ibnu Shalah berkata: Yang tampak jelas adalah hal itu tidak boleh, sekalipun periwayatan secara makna itu sendiri dibolehkan - karena berbedanya makna kedua kata itu. 'Abdullah bin Ahmad menukilkan bahwa ayahnya (Imam Ahmad) dahulu sangat keras dalam hal ini."

فَإِذَا كَانَ فِي الْكِتَابِ " النَّبِيُّ " فَكَتَبَ الْمُحَدِّثُ " رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " ضَرَبَ عَلَى " رَسُولٍ " وَكَتَبَ " النَّبِيَّ ". قَالَ الْخَطِيبُ: وَهَذَا مِنْهُ اسْتِحْبَابٌ، فَإِنَّ مَذْهَبَهُ التَّرَخُّصُ فِي ذَلِكَ

"Apabila di dalam kitab tertulis 'An-Nabiyy', lalu sang muhaddits (ketika menulis ulang atau membacakannya) menuliskan 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam', maka ia (Imam Ahmad) mencoret kata 'Rasul' itu dan menuliskan 'An-Nabiyy' (sesuai aslinya). Al-Khathib berkata: Ini menunjukkan sikap kehati-hatian yang dianjurkan (mustahab) darinya, sebab pendapat beliau sendiri sebenarnya cenderung memberi keringanan dalam hal ini."

قَالَ صَالِحٌ: سَأَلْتُ أَبِي عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: أَرْجُو أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ

"Shalih (putra Imam Ahmad) berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang hal itu (mengganti lafal Nabi/Rasul), maka ia menjawab: 'Aku berharap itu tidak mengapa.'"

وَرُوِيَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ أَنَّ عَفَّانَ وَبَهْزًا كَانَا يَفْعَلَانِ ذَلِكَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَهُمَا: أَمَا أَنْتُمَا فَلَا تَفْقَهَانِ أَبَدًا!!

"Diriwayatkan dari Hammad bin Salamah, bahwa 'Affan dan Bahz (dua muridnya) dahulu biasa melakukan hal itu (mengganti-ganti lafal Nabi/Rasul) di hadapannya, maka ia berkata kepada keduanya: 'Kalian berdua ini tidak akan pernah paham-paham juga!!'"

Riwayat Ketika Mudzakarah

" الرِّوَايَةُ فِي حَالِ الْمُذَاكَرَةِ ": هَلْ تَجُوزُ الرِّوَايَةُ بِهَا؟ حَكَى ابْنُ الصَّلَاحِ عَنِ ابْنِ مَهْدِيٍّ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَأَبِي زُرْعَةَ، الْمَنْعَ مِنَ التَّحْدِيثِ بِهَا، لِمَا يَقَعُ فِيهَا مِنَ الْمُسَاهَلَةِ، وَالْحِفْظُ خَوَّانٌ

"'Riwayat ketika mudzakarah (diskusi/perbincangan ilmiah santai)': apakah boleh meriwayatkan hadits berdasarkan apa yang disebutkan dalam kondisi seperti ini? Ibnu Shalah menukilkan dari Ibnu Mahdi, Ibnul Mubarak, dan Abu Zur'ah, larangan meriwayatkan hadits dengan cara itu, karena adanya kelonggaran/kecerobohan yang biasa terjadi di dalamnya, sementara hafalan itu sendiri bisa berkhianat."

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَلِهَذَا امْتَنَعَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَعْلَامِ الْحُفَّاظِ مِنْ رِوَايَةِ مَا يَحْفَظُونَهُ إِلَّا مِنْ كُتُبِهِمْ، مِنْهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

"Ibnu Shalah berkata: Karena itulah sekelompok tokoh huffazh enggan meriwayatkan apa yang mereka hafal kecuali langsung dari kitab-kitab mereka sendiri, di antaranya Ahmad bin Hanbal."

قَالَ: فَإِذَا حَدَّثَ بِهَا فَلْيَقُلْ: " حَدَّثَنَا فُلَانٌ مُذَاكَرَةً "، أَوْ " فِي الْمُذَاكَرَةِ "، وَلَا يُطْلِقْ ذَلِكَ فَيَقَعَ فِي نَوْعٍ مِنَ التَّدْلِيسِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Beliau berkata: Apabila seseorang tetap meriwayatkan hadits dari mudzakarah, hendaklah ia berkata: 'Haddatsana fulan mudzakaratan (menceritakan kepada kami fulan, secara mudzakarah)', atau 'fil-mudzakarah (dalam mudzakarah)', dan jangan ia mengucapkannya secara mutlak, sebab itu akan termasuk salah satu jenis tadlis. Wallahu a'lam."

وَإِذَا كَانَ الْحَدِيثُ عَنِ اثْنَيْنِ، جَازَ ذِكْرُ ثِقَةٍ مِنْهُمَا وَإِسْقَاطُ الْآخَرِ ثِقَةً كَانَ أَوْ ضَعِيفًا. وَهَذَا صَنِيعُ مُسْلِمٍ فِي ابْنِ لَهِيعَةَ غَالِبًا. وَأَمَّا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فَلَا يُسْقِطُهُ، بَلْ يَذْكُرُهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Apabila suatu hadits diriwayatkan dari dua orang guru sekaligus, boleh menyebutkan salah satunya yang tsiqah saja dan tidak menyebutkan yang lain, baik yang tidak disebutkan itu tsiqah maupun dhaif. Inilah yang umumnya dilakukan Muslim terkait Ibnu Lahi'ah (perawi dhaif yang sering menyertai perawi tsiqah lain dalam sanad Muslim). Adapun Ahmad bin Hanbal, ia tidak menghilangkannya, melainkan tetap menyebutkannya. Wallahu a'lam."

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email