Fathul Mughits Bab 68: Ats-Tsiqat wadh-Dhu'afa

Bab sebelumnya membahas pencatatan tarikh hidup rawi. Bab ini membahas genre kitab rujukan yang berkaitan erat: daftar ringkas status kredibilitas rawi.

Ats-Tsiqat wadh-Dhu'afa

Alfiyah al-'Iraqi membuka bab ini dengan menegaskan kedudukan ilmu jarh wat-ta'dil sekaligus mewanti-wanti bahayanya kalau dipakai untuk memuaskan hawa nafsu:

وَاعْنَ بِعِلْمِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ ... فَإِنَّهُ الْمِرْقَاةُ لِلتَّفْصِيلِ
بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالسَّقِيمِ وَاحْذَرِ ... مِنْ غَرَضٍ فَالْجَرْحُ أَيُّ خَطَر
ِ
"Perhatikanlah ilmu jarh wat-ta'dil, karena ia adalah tangga untuk merinci antara (riwayat) yang shahih dan yang cacat - dan waspadalah dari (mengikuti) hawa nafsu, karena men-jarh (mencela seorang rawi) itu sungguh berbahaya." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 979-980, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 347)

Dua bait berikutnya mengutip ucapan masyhur Imam Yahya bin Ma'in tentang kenapa beliau tetap melakukan jarh meski berisiko dimusuhi:

لَأَنْ يَكُونُوا خُصَمَاءَ لِي أَحَبْ ... مِنْ كَوْنِ خَصْمِي الْمُصْطَفَى إِذْ لَمْ أَذُبْ
"Sungguh, lebih aku sukai mereka (para rawi yang aku jarh) menjadi musuhku (di dunia), daripada Nabi (Al-Musthafa) shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi musuhku (di akhirat) karena aku tidak membela (kemurnian sunnahnya)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 981-982, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 347)

Selain kitab-kitab jarh wat-ta'dil yang membahas penilaian rawi secara naratif dan mendalam (sudah dibahas di jilid kedua), ulama juga menyusun genre kitab tersendiri yang disebut ats-tsiqat wadh-dhu'afa - daftar rawi yang dikelompokkan langsung berdasarkan statusnya: kitab-kitab Ats-Tsiqat mendata rawi-rawi yang dinilai tsiqah, sementara kitab-kitab Adh-Dhu'afa mendata rawi-rawi yang dinilai lemah beserta alasan kelemahannya.1

Karya rujukan dalam genre ini di antaranya Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban dan Al-'Ijli, serta Adh-Dhu'afa al-Kabir karya Al-'Uqaili dan Al-Majruhin karya Ibnu Hibban sendiri untuk sisi sebaliknya.2 Kitab-kitab semacam ini berfungsi sebagai rujukan cepat bagi peneliti sanad - alih-alih menelusuri seluruh perdebatan jarh wat-ta'dil dari berbagai kitab, seorang peneliti bisa langsung memeriksa status ringkas seorang rawi lewat kitab-kitab ini, baru kemudian mendalami detail dan alasannya lewat kitab-kitab jarh wat-ta'dil yang lebih rinci kalau diperlukan.

As-Sakhawi mengingatkan bahwa kitab-kitab semacam ini tidak boleh dipakai sebagai satu-satunya rujukan tanpa mempertimbangkan konteks - seorang rawi yang masuk daftar Ats-Tsiqat menurut satu penulis kitab bisa saja dinilai berbeda oleh penulis kitab lain, sehingga perbandingan antar sumber tetap diperlukan.3

Bab selanjutnya kembali ke tema yang sudah disinggung sekilas di jilid kedua: bagaimana ulama menyikapi rawi yang kualitas hafalannya berubah pada periode tertentu dalam hidupnya, al-ikhtilath.

Catatan & Referensi

  1. Genre kitab ats-tsiqat wadh-dhu'afa sebagai pelengkap praktis ilmu jarh wat-ta'dil dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

  2. Karya-karya rujukan dalam genre ini, termasuk Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban dan Al-'Ijli serta Adh-Dhu'afa al-Kabir karya Al-'Uqaili, disebutkan sebagai rujukan utama dalam literatur rijalul hadits.

  3. Peringatan As-Sakhawi soal perlunya perbandingan antar sumber, karena penilaian bisa berbeda antar penulis kitab, konsisten dengan kaidah al-jarh wat-ta'dil yang sudah dibahas di jilid kedua.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email