Bab sebelumnya membahas nama-nama yang unik tanpa duplikat. Bab ini membahas sisi lain dari identifikasi nama: bagaimana ulama mendata nama asli dan sebutan kun-yah setiap rawi secara sistematis.
Al-Asma' wal-Kuna
Alfiyah al-'Iraqi membuka topik ini dalam bait berikut:
As-Sakhawi lalu menjelaskan sendiri cakupan dan faedah ilmu ini dalam prosa syarahnya:
Al-asma' wal-kuna adalah cabang ilmu rijalul hadits yang mendata nama asli (ism) dan kun-yah (kunyah, sebutan "Abu fulan" atau "Ummu fulan") setiap rawi secara sistematis.1 Banyak rawi dalam sejarah periwayatan hadits lebih dikenal luas lewat kun-yah mereka dibanding nama asli - kalau seseorang tidak tahu bahwa sebuah kun-yah tertentu merujuk pada rawi yang sudah dikenal namanya lewat jalur lain, ia bisa keliru mengira itu dua orang yang berbeda, atau sebaliknya, keliru menyamakan dua kun-yah serupa milik dua orang yang sebenarnya berbeda.
Ulama menyusun kitab-kitab khusus untuk mengatasi masalah ini, seperti Al-Kuna wal-Asma' karya Imam Muslim sendiri (di luar kitab Shahih-nya) dan karya sejenis oleh Ad-Dulabi - keduanya menjadi rujukan penting untuk mencocokkan nama asli dan kun-yah setiap rawi yang dikenal dalam periwayatan hadits.
Bab selanjutnya membahas kasus khusus: rawi yang justru lebih dikenal lewat kun-yahnya sampai-sampai nama aslinya nyaris terlupakan, man 'urifa bi-kunyatihi.
Catatan & Referensi
Cabang ilmu al-asma' wal-kuna dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, merujuk pada kitab-kitab khusus seperti Al-Kuna wal-Asma' karya Imam Muslim dan karya Ad-Dulabi.
↩